Sabtu, 07 Desember 2013

Bid’ah


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-Hadits tentang Bid’ah

Allah berfirman: “Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)

Allah berfirman: “Tiadalah Kami alpakan sesuatupun di dalam al-Kitab.” (al-An’am: 38)

Allah berfirman: “Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” (an-Nisaa’: 59)

Allah berfirman: “Dan (perintah Kami) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (al-An’am: 153)

Allah berfirman: “Katakanlah. Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” (Ali ‘Imraan: 31)

Dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengada-ada tentang sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengerjakan suatu pekerjaan yang tidak cocok dengan syariat kami, maka ditolak.”

Dari Jabir ra. ia berkata: “Apabila Rasulullah saw. berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya dan kelihatan sangat marah seakan-akan beliau seorang panglima yang kejam, seraya bersabda: “(Hati-hatilah) dari pagi sampai sore musuh mengancam kalian!” selanjutnya beliau bersabda: “Aku diutus sedangkan kiamat itu bagaikan dua jari ini.” Sambil mensejajarkan jari telunjuk dan jari tengah. Beliau bersabda: “Ketahuilah bahwa sebaik-baik ucapan adalah kitab Allah (al-Qur’an), sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. dan sejelek-jelek perkara agama sepeninggalanku adalah melakukan sesuatu yang baru dalam agama, yang demikian itu disebut bid’ah, dan setiap bid’ah itu pasti sesat.” Selanjutnya bersabda: “Aku lebih utama (dalam segala hal) dibanding orang mukmin yang lain. Siapa saja meninggalkan harta, adalah menjadi hak ahli warisnya. Dan siapa saja meninggalkan hutang atau keluarga yang tersia-sia, maka sayalah walinya dan atas tanggungan.” (HR Muslim)

Seruan untuk Berdakwah


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits agar Berdakwah

Allah berfirman: “Dan serulah kepada (agama) Rabb-mu.” (al-Hajj: 67)

Allah berfirman: “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (an-Nahl: 125)

Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa.” (al-Maaidah: 2)

Allah berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kalian segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan.” (Ali Imraan: 104)

Dari Ibnu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshariy al-Badriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menunjukkan (mengajak) kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengajak kepada kebenaran, maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun. Dan siapa saja yang mengajak kepada kesesatan, maka ia mendapat dosa seperti dosa orang yang mengerjakannya tanpa dikurangi sedikitpun.” (HR Muslim)

Dari Abul ‘Abbas Sahl bin Sa’ad as-Sa’idiy ra. ia berkata: Ketika perang Khaibar Rasulullah saw. bersabda: “Esok akan kuserahkan panji ini kepada seseorang. Allah akan memberi kemenangan melalui tangannya. Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya, Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” Semalaman orang-orang ramai membicarakan, siapa gerangan di antara mereka yang akan diserahi panji itu. Keesokan harinya Rasulullah saw. bersabda: “Dimana Ali bin Abi Thalib?” Seseorang menjawab: “Wahai Rasulallah, ia sedang sakit mata.” Beliau bersabda: “Panggillah ia kemari.” Setelah di hadapannya, Rasulullah saw. meludahi kedua matanya dan mendoakannya. Lalu sembuhlah penyakit itu seakan-akan ia tidak pernah sakit mata, kemudian ia diberi panji. Ali ra. bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah aku harus memerangi mereka sampai bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah?” beliau menjawab: “Laksanakanlah dengan tenang, sehingga kamu sampai di daerah mereka, lalu ajaklah masuk agama Islam dan beritahukanlah kepada mereka tentang hak Allah Ta’ala yang harus mereka laksanakan. Demi Allah, seandainya Allah memberi petunjuk disebabkan ajakanmu, itu lebih baik bagimu daripada memperoleh rampasan perang berupa ternak-ternak yang paling bagus.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Seorang pemuda dari suku Aslam berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya saya ingin ikut berperang, tetapi tidak mempunyai bekal.” Beliau bersabda: “Datanglah kepada si fulan karena ia sudah mempersiapkan tetapi ia sakit.” Kemudian pemuda itu datang ke tempat fulan dan berkata: “Rasulullah mengucapkan salam untuk kamu.” Kemudian melanjutkan perkataannya: “Berikanlah perbekalan perangmu untukku.” Kemudian si fulan tadi berkata: “Wahai istriku, berikanlah perbekalan yang telah aku persiapkan dan jangan kamu simpan sedikitpun, demi Allah, jangan kamu simpan sedikitpun bekal yang telah aku persiapkan, karena hal itu pasti akan membawa berkah bagimu.” (HR Muslim)

Ancaman Bagi Orang yang Tidak Konsekuen


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Ancaman bagi yang tidak konsekuen

Allah berfirman: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berfikir?” (al-Baqarah: 44)

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2-3)

Allah berfirman: “…dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya.” (Huud: 88)

Dari Abu Zaid Usamah bin Zaid bin Haritsah ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Setelah hari kiamat, ada seseorang yang didatangkan dan dilemparkan ke dalam neraka, kemudian dikeluarkan ususnya, lalu berputar-putar di dalamnya bagaikan berputarnya keledai yang sedang menggiling. Melihat yang demikian, berkerumunlah ahli neraka seraya berkata: “Hai fulan, mengapa kamu seperti itu? Bukankah kamu yang menyuruh untuk berbuat baik dan melarang dari perbuatan munkar?” ia menjawab: “Benar, akulah yang menganjurkan kebaikan, tetapi aku tidak mengerjakannya dan aku melarang dari perbuatan munkar tetapi aku melakukannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Syirik Kecil


1.Riya' Dalam Beribadah.

Barang siapa yang melakukan ibadah atau qurbah (amalan untuk mendekatkan diri kepada Allah ), namun bertujuan untuk Allah dan agar dilihat atau dipuji manusia maka dia telah melakukan syirik ashghar. Sehingga amalan yang dia kerjakan sia-sia dan ditolak. Dalil yang menjelaskan hal itu adalah sebuah hadits qudsi dari dari Rasulullah, bahwa Allah berfirman, artinya,
"Aku tidak membutuhkan sekutu-sekutu, barang siapa yang mengerjakan suatu perbuatan di dalamnya menyekutukan Aku dengan selain-Ku maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya." (HR Muslim)

2.Bersumpah dengan Selain Allah

Di antara bentuk syirik ashghar yang banyak terjadi di masyarkat adalah bersumpah dengan selain Allah . Rasulullah telah bersabda,
"Barang siapa yang bersumpah dengan selain Allah maka dia telah menyekutukan Allah." (HR. Ahmad, shahihul jami' no.6204)

Beliau juga telah bersabda,
"Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah melarang kalian bersumpah dengan nama bapak-bapak kalian. Barang siapa bersumpah maka hendaknya dia bersumpah dengan nama Allah atau (kalau tidak) hendaknya dia diam." (HR al-Bukhari, al-Fath 11/530)

Maka tidak dibolehkan seorang muslim bersumpah dengan menyebut selain Allah meskipun tidak bertujuan untuk mengagungkan makhluk dengan sumpah itu. Dan walaupun yang digunakan untuk bersumpah adalah seorang nabi atau orang shalih. Sebagaimana tidak boleh bersumpah dengan menyebut Ka'bah, dengan amanat, kemuliaan, kehidupan fulan, nabi, wali, tidak boleh pula bersumpah dengan nama bapak, ibu, anak, dengan barakahnya si fulan dan kedudukannya. Semua ini hukumnya haram, karena bersumpah hanya dibolehkan dengan menyebut Allah , nama-nama dan sifat-sifat-Nya.

Barang siapa yang terlanjur mengucapkan sumpah yang diharamkan tersebut maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah kemudian beristighfar dan tidak mengulangi perbuatan semisal itu. Nabi telah bersabda,
"Barang siapa yang bersumpah dan dia berkata di dalam sumpahnya tersebut dengan menyebut Latta dan Uzza maka hendaknya dia mengucapkan la ilaha illallah." (HR al-Bukhari di dalam al-Fath 11/546)

Di samping itu ada beberapa kalimat yang mengandung kesyirikan dan sering diucapkan oleh banyak orang, seperti; Aku bertawakkal (bersandar) kepada Allah dan kepadamu; Aku tidak kuasa apa-apa kalau tidak karena Allah dan karenamu; Kalau saja bukan karena Allah dan karenamu; Ini dari Allah dan darimu atau lafal-lafal lain yang semakna dengan ini. Rasulullah telah bersabda,
"Janganlah kalian mengucapkan, "Atas kehedak Allah dan kehendak fulan" akan tetapi ucapkanlah, "Atas kehendak Allah kemudian kehendak fulan." (HR Abu Dawud, dalam silsilah shahihah, 137)

Demikian juga kalimat-kalimat yang berisi celaan terhadap masa (waktu) seperti; Allah melaknat zaman yang kelam ini; Ini waktu atau hari pembawa sial dan yang semisalnya. Karena mencela masa adalah sama dengan mencela Allah yang telah menciptakan masa tersebut. Nabi bersabda, Allah berfirman, artinya,
"Anak Adam mencela masa, padahal Akulah Masa itu, di tangan-Ku siang dan malam." (HR al-Bukhari)

Masuk dalam kategori lafal-lafal yang diharamkan adalah memberikan nama dengan segala sesuatu yang diperhambakan kepada selain Allah , seperti Abdul Husain, Abdul Masih, Abdur Rasul, Abdun Nabi dan lain sebagainya.

3. Tathayyur

Yaitu merasa sial karena melihat sesuatu. Tathayyur diambil dari kata thiyarah berasal dari ath-Thair yakni burung. Awal mulanya adalah bahwa dulu orang Arab apabila akan melakukan sesuatu seperti bepergian atau lainnya, maka dia melepaskan burung, kalau burung tersebut terbang ke arah kanan maka dia melanjutkan keinginannya, dan kalau terbangnya ke arah kiri maka dia merasa sial dan mengurungkan keinginannya. Rasulullah telah menjelaskan tentang tathayyur ini dalam sabdanya,
"Thiyarah adalah syirik." (HR. Ahmad, Shahihul Jami' 3955)

Dalam sabdanya yang lain disebutkan,
"Bukan termasuk golongan kami orang yang melakukan thiyaroh atau diminta untuk berthiyarah, juga orang yang melakukan perdukunan dan minta didukunkan." (HR. ath-Thabrani, silsilah hadits shahihah, 2195)

Masuk ke dalam kategori keyakinan yang merusak kemurnian tauhid adalah merasa sial dengan bulan Shafar, merasa sial dengan hari Jum'at tanggal tiga belas atau dengan angka tiga belas. Ini semua hukumnya haram dan termasuk dalam syirik ashghar.

Obat dari penyakit ini adalah dengan betawakkal sepenuhnya kepada Allah. Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata, "Thiyarah adalah syirik, dan tidak ada di antara kita kecuali terkadang pada dirinya terlintas sedikit dari tasya'um (rasa sial) ini, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan sikap tawakkal." (riwayat Abu Dawud dan al-Bukhari di dalam al-Adabul Mufrad)

4.Meninggalkan Shalat Karena Malas

Sedangkan jika meninggalkannya karena juhud (mengingkari) atas wajibnya shalat tersebut atau beristihza' (mengolok-olok) maka dia kafir keluar dari Islam menurut ijma'. Adapun jika meninggalkannya karena malas atau menganggap enteng maka dia telah melakukan dosa besar yang sangat besar, berdasarkan sabda Nabi,
"Perjanjian antara kami dengan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya dia telah kafir." (HR Ahmad, shahihul jami', 4143)
"Antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah bila dia meninggalkan shalat." (HR. Muslim)

Dan menurut sebagian ulama, meninggalkan shalat hukumnya adalah kufur akbar berdasarkan dalil di atas dan dalil-dalil yang lainnya meskipun meninggalkannya karena malas dan menganggap enteng. Terlepas dari dua pendapat yang ada, meninggalkan shalat adalah sesuatu yang sangat berbahaya.

Catatan: Pendapat yang lebih kuat yaitu bahwa orang yang meninggalkan shalat karena malas adalah kafir, wallahu a'lam.

5.Jimat dan Sejenisnya

Termasuk syirik adalah berkeyakinan bahwa manfaat atau kesembuhan dapat diperoleh dari benda-benda yang tidak pernah dijadikan oleh Allah sebagai sebab untuk mendapatkannya. Seperti keyakinan sebagian orang terhadap jimat-jimat, benda pusaka, tuah, logam-logam tertentu, rajah-rajah syirik yang diberikan dan ditulis oleh para dukun dan tukang sihir. Juga keyakinan terhadap benda peninggalan atau warisan orang tua, kakek, lalu digantungkan di leher anak-anak, istri atau ditaruh di kendaraan, di dalam rumah agar dapat menolak bala', sihir serta memberikan manfaat dan menjadi pagar pelindung.

Semua ini tidak diragukan lagi akan menafikan tawakkal kepada Allah. Dan benda-benda itu tidak memberikan manfaat apa-apa kepada manusia. Jika seseorang berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memberikan manfaat, selain Allah maka dia telah musyrik. Rasulullah bersabda,
"Barang siapa yang menggantungkan jimat maka dia telah syirik." (HR. Ahmad, silsilah hadits shahihah 492)

Orang yang melakukan itu semua adalah musyrik dengan kemusyrikan yang besar jika dia berkeyakinan bahwa benda-benda tersebut memang memberikan manfaat atau dapat memberikan madharat selain Allah. Adapun jika berkeyakinan bahwa benda tersebut hanya merupakan sebab kemanfaatan dan kemadharatan padahal Allah tidak menjadikannya sebagai sebab untuk mendapatkannya maka dia terjerumus dalam syirik ashghar. Kita berlindung kepada Allah dari semua itu.

Senin, 02 Desember 2013

Keutamaan Berbuat Baik Kepada Teman Ayah dan Ibu, Kerabat, Istri dan Orang-orang yang Pantas Dihormati


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Dari Ibnu Umar dia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sebaik-baik kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan kenalan bapaknya.”

Dari Abdullah bin Dinar, dari Abdullah bin Umar ra. ia berkata: kami bertemu seorang lelaki Badui di tengah perjalanan menuju ke Makkah, kemudian Abdullah bin Umar memberi salam dan mengajaknya untuk naik ke atas keledai serta memberikan surban yang dipakai di kepalanya. Ibnu Dinar berkata kepada Ibnu Umar: “Semoga Allah selalu memberikan kebaikan kepadamu, sesungguhnya orang itu adalah orang Badui dan mereka senang sekali diberi, walaupun hanya sedikit.” Abdullah bin Umar berkata: “Sesungguhnya orang itu adalah kenalan baik (ayahku) Umar Ibnul Khaththab ra. sesungguhnya sebaik-baik kebajikan adalah seseorang yang menyambung tali persaudaraan dengan kenalan ayahnya.”

Dalam riwayat lain, Ibnu Dinar bercerita tentang Ibnu Umar ra. menurutnya apabila Ibnu Umar pergi ke Makkah selalu membawa keledai sebagai gantinya onta apabila ia merasa jemu, dan ia biasa memakai surban di kepalanya. Kali tertentu, ketika ia pergi ke Makkah dengan keledainya, tiba-tiba ada seorang Badui lewat, dan bertanya: “Apakah kamu fulan bin fulan?” Orang Badui itu menjawab: “Benar.” Kemudian Ibnu Umar memberikan keledai itu kepadanya dan berkata: “Naikilah keledai ini.” Ia juga memberikan surbannya seraya berkata: “Pakailah surban ini di kepalamu.” Salah seorang teman Ibnu Umar berkata kepadanya: “Semoga Allah memberikan ampunan kepadamu yang telah memberikan kepada orang Badui ini seekor keledai yang biasa untuk gantian, dan surban yang biasa kamu pakai di kepalamu.” Ibnu Umar berkata: “Sesungguhnya sebaik-baik kebajikan yaitu seseorang yang menyambung tali persaudaraan dengan kenalan baik ayahnya setelah meninggal dunia, sesungguhnya ayah orang ini adalah kenalan baik (ayahku) Umar ra.” (HR Muslim)

Dari Abu Usaid Malik bin Rabi’ah as-Sa’idiy ra. ia berkata: “Tatkala kami duduk di hadapan Rasulullah saw. tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dari Bani Salimah dan bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah ada kebaikan yang dapat saya lakukan untuk berbakti kepada kedua orang tua saya setelah mereka meninggal dunia?” Beliau menjawab: “Ya. Yaitu menshalati, memohonkan ampun, melaksanakan janji (wasiat) menghubungi keluarga yang tidak dapat dihubungi, kecuali dengan keduanya dan memuliakan kenalan baik mereka. (HR Abu Daud)

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Saya tidak pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi saw. yang lain kecuali terhadap Khadijah ra. padahal saya tidak pernah berjumpa dengannya, tetapi karena Nabi sering menyebut-nyebutnya, dan beliau sering menyembelih kambing kemudian memotong beberapa bagian dan dikirimkan kepada kenalan-kenalan baik Khadijah. Saya sering berkata kepadanya: “Seolah-olah dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.” Maka beliau menjawab: “Sesungguhnya Khadijah itu begini dan begitu, dan hanya dengan dialah aku dikaruniai anak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan: Apabila beliau menyembelih kambing, beliau memberi kenalan-kenalan baik Khadijah apa yang mereka inginkan.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Apabila beliau menyembelih kambing, beliau bersabda: “Kirimlah daging ini kepada kenalan-kenalan Khadijah.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Halal binti Khuwailid saudari Khadijah pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rasulullah saw. kemudian beliau teringat cara Khadijah meminta izin, maka terharulah beliau seraya bersabda: “Ya Allah, inilah Halal binti Khuwailid.”

Dari Anas bin Malik ra. ia berkata: “Aku keluar bersama-sama Jarir Ibnu Abdullah al-Bajaliy ra. dalam suatu perjalanan, ia selalu melayani saya, maka saya katakan kepadanya: “Kamu jangan berbuat seperti itu.” Ia menjawab: “Sesungguhnya saya melihat shahabat Anshar senantiasa melayani Rasulullah saw. dalam segala hal, maka aku pun bersumpah pada diriku untuk tidak berkawan dengan shahabat Anshar kecuali saya harus melayaninya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Mencintai Allah


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits

Allah berfirman: “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…” (al-Fath: 29)

Allah berfirman: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman [Anshar] sebelum [kedatangan] mereka [muhajirin], mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.” (al-Hasyr: 9)

Dari Anas ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Siapa saja yang memiliki tiga sifat ini, akan merasakan manisnya iman, yaitu: 1) mencintai Allah dan Rasul-Nya melebihi segala-galanya; 2) mencintai seseorang hanya karena Allah; 3) enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan Allah sebagaimana enggannya apabila dilemparkan ke dalam neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tujuh kelompok yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: 1) pemimpin yang adil; 2) pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah Yang Mahamulia lagi Maha Agung; 3) seseorang yang hatinya selalu digantungkan [dipertautkan] dengan masjid; 4) dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah; 5) seorang laki-laki ketika dirayu untuk berzina oleh perempuan bangsawan yang berwajah cantik rupawan, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah.’ 6) seseorang yang mengeluarkan sedekah, secara sembunyi-sembunnyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diberikan oleh tangan kanannya; 7) seseorang yang mengingat Allah di tempat yang sunyi dan kedua matanya mencucurkan air mata.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala pada hari kiamat akan berfirman: ‘Manakah orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku naungi mereka di bawah naungan-Ku, dan tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidaklah beriman, sebelum saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu, jika kalian mengerjakannya maka akan timbul rasa saling mencintai di antara kalian. Yaitu sebarkanlah salam.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada seseorang yang berkunjung ke tempat saudaranya karena Allah yang berada di desa lain, kemudian Allah mengutus malaikat untuk menghadang dan mengujinya, namun orang itu tetap pada pendiriannya, kemudian malaikat itu berkata: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena-Nya.” (HR Muslim)

Dari al-Barra’ bin ‘Azib ra. dari Nabi saw. beliau menceritakan tentang shahabat Anshar: “Bahwa mereka tidak mencintai kecuali orang yang beriman dan mereka tidak membenci kecuali orang munafik. Siapa saja yang mencintai mereka, maka Allah mencintainya. Dan siapa saja yang membenci mereka, maka Allah membencinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Mu’adz ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: ‘Siapa saja yang saling mencintai karena keagungan-Ku, mereka akan mendapatkan beberapa mimbar terbuat dari cahaya yang diingikan oleh para Nabi dan orang-orang yang mati syahid.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Idris al-Khaulaniy, ia berkata: Saya masuk masjid Damsyik, di sana ada seorang pemuda yang giginya mengkilat. Orang-orang senantiasa mengerumuninya. Apabila mereka berbeda pendapat, mereka menyerahkan dan minta pertimbangan kepadanya, maka saya menanyakan tentang pemuda itu, dan dijawab bahwa pemuda itu adalah Mu’adz bin Jabal ra.
Pada esok harinya saya pagi-pagi datang ke masjid tetapi pemuda itu lebih pagi dari saya dan saya dapatkan ia sedang shalat. Saya menunggunya sampai selesai, dan mendatanginya dari arah depan. Saya ucapkan salam dan berkata kepadanya: “Demi allah, saya mencintaimu karena Allah.” Dia bertanya: “Apakah benar karena Allah?” Saya menjawab: “Ya, karena Allah.” Dia bertanya: “Apakah benar karena Allah?” Saya menjawab: “Ya, karena Allah.” Kemudian ia menarik ujung selendangku untuk mendekatkanku kepadanya dan dia berkata: “Sambutlah berita gembira ini, saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah Yang Maha Pemberkah lagi Maha Luhur berfirman: Kecintaan-Ku tercurah untuk mereka yang saling mencintai karena Aku, mereka yang berteman karena Aku, mereka yang saling mengunjungi karena Aku dan mereka yang saling membantu karena Aku.” (HR Malik)

Dari Abu Karimah al-Miqdad bin Ma’dikariba ra. dari Nabi saw., beliau bersabda: “Apabila seseorang mencintai saudaranya, beritahukanlah kepadanya bahwa ia mencintainya.” (HR Abu Daud)

Dari Mu’adz ra. berkata: Rasulullah saw. memegang tangannya seraya bersabda: “Hai Mu’adz, janganlah sekali-sekali kamu lupakan setiap selesai shalat membaca: AllaHumma a-‘innii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatika (Ya Allah, berilah saya pertolongan untuk selalu ingat kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu dan menyempurnakannya).” (HR Abu Daud dan Nasa-i)

Dari Anas ra. ia berkata: Ada seorang laki-laki duduk di hadapan Nabi saw. kemudian ada seseorang yang lewat di situ, lalu orang yang duduk di hadapan Nabi berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya saya mencintai orang itu.” Nabi saw. bertanya: “Apakah engkau sudah memberitahukan kepadanya?” Dia menjawab: “Belum.” Beliau menjawab: “Beritahukannlah kepadanya.” Kemudian dia menemui orang itu dan berkata: “Sesungguhnya saya mencintaimu karena Allah.” Orang itu menjawab: “Semoga engkau dicintai oleh Dzat yang menjadikanmu mencintaiku karena-Nya.” (HR Abu Daud)

Ancaman Bagi yang Melanggar Larangan Allah dan Rasul-Nya


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa adzab yang pedih.” (an-Nuur: 63)

Firman Allah: “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya.” (Ali Imraan: 28)

Firman Allah: “Sesunggunya adzab Tuhanmu benar-benar keras.” (al-Buruuj: 12)

Firman Allah: “Dan begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat dzalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu adalah sangat pedih dan keras.” (Huud: 102)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sungguh, Allah Ta’ala mempunyai rasa cemburu. Cemburu jika seseorang mengerjakan apa yang diharamkan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Yang harus dikerjakan ketika melanggar larangan Allah:
Firman Allah: “Dan jika kamu tertimpa suatu godaan setan, maka berlindunglah kepada Allah.” (al-A’raaf: 200)

Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raaf: 201)

Firman Allah: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri[*], mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan Itulah Sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali Imraan: 135-136)

[*] Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain, seperti zina, riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil.

Firman Allah: “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (an-Nuur: 31)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Barangsiapa bersumpah dengan mengatakan: Demi Latta dan Uzza; maka hendaklah ia segera mengucapkan: Laa ilaaHa illallaaH (tiada Tuhan selain Allah). Barangsiapa berkata kepada temannya: Marilah kita berjudi; maka hendaklah ia segera bersedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Takut Kepada Allah (2)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari al-Miqdad ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat matahari didekatkan kepada para makhluk, sehingga jaraknya kira-kira hanya satu mil.” Sulaim bin ‘Amir yang meriwayatkan dari al-Miqdad, berkata: “Demi Allah, saya tidak mengerti yang dimaksud oleh Rasulullah dengan mil itu; apakah ukuran jarak pada perjalanan ataukah mil yang biasa dipakai untuk mencelaki mata.” Rasulullah saw. bersabda: “Manusia tenggelam dalam keringat sesuai dengan amal perbuatannya. Di antara mereka ada yang terbenam sebatas kedua mata kakinya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang terbenam sampai pada mulutnya.” Rasulullah saw. memberikan isyarat dengan tangan ke arah mulut beliau.” (HR Muslim)

Dari abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat manusia akan berkeringat, sehingga setinggi tujuh puluh hasta, dan mereka akan tenggelam dalam lautan keringat, sehigga ada yang mencapai telinga mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Kami bersama-sama Rasulullah saw. tiba-tiba terdengar suara gemuruh. Beliau bertanya: “Apakah kamu tahu, bunyi apakah ini?” kami menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Ini adalah suara batu yang dilemparkan ke dalam neraka sejak tujuh puluh tahun. Batu itu sekarang baru sampai ke dasar neraka, maka kalian mendengar suara gemuruhnya.” (HR Muslim)

Dari ‘Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang di antara kalian akan berbicara langsung dengan Tuhannya, padahal di antara dia dengan Tuhannya tidak ada juru bahasa, kemudian ia melihat ke kanan, tiada terlihat kecuali amal yang pernah diperbuatnya, ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali amal yang diperbuatnya, dan ia melihat ke depan tiada yang terlihat kecuali api yang tepat di depannya. Maka takutlah kalian terhadap neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya aku takut melihat apa yang tidak kamu lihat. Langit itu berkeriut-keriut; di situ tidak ada tempat untuk bisa menyisipkan empat jari-jari melainkan ada malaikat yang meletakkan dahinya untuk bersujud kepada Allah Ta’ala. Demi Allah, seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis, dan kamu tidak akan bersuka ria dengan istrimu di perduan. Bahkan kalian akan keluar ke tempat-tempat yang ramai untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Barzah Nadlah bin ‘Ubaid al-Aslamiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kedua kaki seseorang tidak akan bergerak, sebelum ditanya tentang umurnya, untuk apa ia habiskan. Tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan. Tentang hartanya darimana ia peroleh dan untuk apa ia belanjakan. Dan tentang badannya, untuk apa ia rusakkan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. membaca ayat: yauma-idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) Kemudian beliau bertanya: “Tahukah kalian, apa yang diberitakan oleh bumi?” Para shahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya berita bumi, adalah bumi menjadi saksi terhadap terhadap semua perbuatan manusia, baik laki-laki maupun perempuan, yang mereka perbuatan di atasnya. Bumi ini akan berkata: “Ia telah berbuat begini dan begitu pada hari ini dan hari itu.” Inilah yang diberitakan oleh bumi.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana aku bisa bersenang-senang padahal malaikat meniup sangkakala telah memasukkan ke dalam mulut dan ia hanya menunggu ijin, kapan ia diperintah untuk meniup sangkakalanya.” Berita ini terasa berat sekali oleh para shahabat, kemudian beliau bersabda: “Ucapkanlah: hasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Allah yang mencukupi kami dan Ia sebaik-baik yang menjamin.)”

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang takut, ia harus berangkat lebih pagi, dan siapa saja yang berangkat lebih pagi, ia pasti akan lebih cepat sampai pada tempat tujuan. Ingatlah bahwa dangangan Allah itu mahal. Ingatlah dagangan Allah itu surga.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Manusia akan dikumpulkan nanti pada hari kiamat dalam kedadaan tidak beralas kaki dan telanjang bulat.” Saya bertanya: “Wahai Rasulallah, waktu itu laki-laki dan perempuan berkumpul, mereka dapat saling memandang kepada yang lain?” Beliau menjawab: “Wahai ‘Aisyah, pada saat itu urusannya sangat berat, sehingga mereka tidak sempat memperhatikan hal-hal demikian itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Urusan pada saat itu lebih penting daripada saling pandang di antara mereka.”

Takut Kepada Allah (1)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan hanya kepada-Ku lah kamu harus takut (tunduk).” (Al-Baqarah: 40)

Firman Allah: “Sesungguhnya azab Tuhan-mu benar-benar keras.” (al-Buruuj: 12)

Firman Allah: “Dan Begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang takut kepada azab akhirat. hari kiamat itu adalah suatu hari yang semua manusia dikumpulkan untuk (menghadapi) nya, dan hari itu adalah suatu hari yang disaksikan (oleh segala makhluk). dan Kami Tiadalah mengundurkannya, melainkan sampai waktu yang tertentu. di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; Maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. Adapun orang-orang yang celaka, Maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih),” (Huud: 106)

Firman Allah: “Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)Nya.” (Ali Imraan: 28)

Firman Allah: “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya, dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (Abasa: 34-37)

Firman Allah: “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu; Sesungguhnya kegoncangan hari kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar (dahsyat). (ingatlah) pada hari (ketika) kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu Lihat manusia dalam Keadaan mabuk, Padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya.” (al-Hajj: 1-2)

Allah berfirman: “Dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabb-nya ada dua surga.” (ar-Rahman: 46)

Allah berfirman: “dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. Mereka berkata: “Sesungguhnya Kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga Kami merasa takut (akan diazab)” Maka Allah memberikan karunia kepada Kami dan memelihara Kami dari azab neraka. Sesungguhnya Kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (ath-Thuur: 25-28)

Dari Ibnu Mas’ud ia bercerita: Rasulullah saw. yang selalu benar dan dipercaya itu, bercerita kepada kami: bahwa tiap-tiap manusia itu terkumpul penciptaannya dalam perut ibu selama empat puluh hari berupa air mani, kemudian berupa gumpalan darah selama empat puluh hari, kemudian berupa daging selama empat puluh hari, lalu diutuslah malaikat dan meniupkan roh ke dalamnya serta diperintah pula untuk mencatat empat kalimat, yaitu mencatat tentang rizky, ajal, amal perbuatan dan tentang celaka dan bahagianya. Demi Dzat yang tiada tuhan selain Dia, sesungguhnya salah seorang di antara kamu beramal dengan amalnya ahli surga, sehingga jarak dia dengan surga hanya sehasta, namun karena ia telah tercatat sebagai ahli neraka, maka tiba-tiba ia melakukan amalan amalan ahli neraka, sampai akhirnya ia masuk neraka. Dan salah seorang di antara kamu sekalian beramal dengan amalnya ahli neraka, sehingga sehingga jarak antara dia dengan neraka hanya sehasta, tetapi karena ia telah tercatat sebagai ahli surga, maka tiba-tiba dia melakukan amalah ahli surga sampai akhirnya dia masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Pada hari kiamat neraka jahanam akan dibentangkan dengan tujuh puluh ribu kendali, tiap-tiap kendali ditarik oleh tujuh puluh ribu malaikat.” (HR Muslim)

Dari Nu’man bin Basyir ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seringan-ringannya siksa ahli neraka pada hari kiamat, ialah seseorang yang di bawah kedua tumitnya diletakkan dua bara api yang dapat mendidihkan otaknya. Sedangkan ia berpendapat bahwa tidak ada seorangpun yang lebih berat siksaannya daripada itu, padahal itu adalah siksaan yang paling ringan bagi ahli neraka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Di antara ahli neraka ada yang disiksa dengan api sebatas pada kedua mata kakinya, sebatas kedua lututnya, sebatas pusarnya, dan ada pula yang disiksa dengan api sebatas bahunya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Di kala manusia berdiri, menunggu panggilan tuhan semesta alam, ada salah seorang di antara mereka yang terbenam dalam keringatnya sampai pada kedua daun telinganya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah berkhutbah, dan saya belum pernah mendengar khutbah yang seperti itu. Beliau bersabda: “Seandainya kamu mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit sekali tertawa dan pasti akan banyak menangis.” Kemudian para sahabat Rasulullah saw. menutup wajah mereka sambil menangis terisak-isak. (HR Bukhari dan Muslim)

Minggu, 01 Desember 2013

Hidup Sederhana (4)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an dan hadits Bukhari-Muslim

Dari Jabir ra. ia berkata: Pada saat perang Khandaq kami menggali parit, tetapi terbentur suatu tanah yang sangat keras, dan kami tidak mampu menggalinya. Kemudian para shahabat mendatangi Nabi saw. dan berkata: “Tanah ini cukup keras dan tidak bisa dibuat parit.” Beliau bersabda: “Aku yang akan menggalinya.” Kemudian beliau berdiri sedangkan perutnya diikat batu; karena sudah tiga hari tidak makan. Nabi saw. mengambil cangkul dan mengayunkannya, maka hancurlah tanah yang keras itu bagaikan debu yang dihamburkan. Kemudian saya berkata: “Wahai Rasulullah, izinkanlah saya pulang ke rumah.” Sesampainya di rumah, saya bertanya kepada istriku: “Saya melihat Nabi saw. sangat lapar dan nampaknya tidak dapat ditahan lagi, apakah kamu mempunyai makanan?” Istriku menjawab: “Ada, sedikit gandum dan seekor kambing.”
Maka saya menyembelih kambing itu dan gandum itu saya tumbuk. Kambing itu saya letakkan dalam belanga, kemudian saya mendatangi Nabi saw. sedangkan adonan daging yang saya masak di belanga hampir masak, maka saya berkata: “Wahai Rasulullah, saya mempunyai sedikit makanan, kuundang engkau ke rumah dengan seorang atau dua orang saja.” beliau bertanya: “Berapa banyak makanan itu?” Saya mengatakan seberapa banyak makanan itu. Kemudian beliau bersabda: “Cukup banyak. Baiklah. Tetapi katakan kepada istrimu, supaya jangan mengankat belanga dan roti dari tungku sehingga aku datang.” Beliau bersabda kepada para shahabat: “Wahai para shahabatku, ikutlah aku.” Maka para shahabat Muhajirin dan Anshar pun datang ke rumah. Ketika saya masuk rumah, saya berkata kepada istriku: “Aduh celaka, Nabi saw. datang bersama dengan shahabat Muhajirin dan Anshar.” Istriku bertanya: “Apakah beliau telah menanyakan kepadamu tentang makanan yang kita persiapkan?” saya menjawab: “Ya.”
Beliau bersabda kepada para shahabat: “Masuklah dan jangan berdesakkan.” Kemudian beliau memotong roti dan mengambil daging serta beliau menutup kembali belanga itu dan membiarkan belanga tetap direbus, lantas beliau menyajikannya kepada para shahabat. Kemudian beliau kembali dan selalu memotong dan menyajikannya, sehingga mereka kenyang, tetapi dalam belanga itu masih tersisa, kemudian beliau bersaabda kepada istriku: “Makanlah kamu dan bagi-bagikanlah, karena orang-orang sedang tertimpa kelaparan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Jabir berkata: Tatkala parit itu digali , saya melihat Nabi saw. sangat lapar, maka saya segera pulang menemui istriku dan bertanya: “Apakah kamu mempunyai makanan? Saya melihat Rasulullah saw. sangat lapar.” Maka istriku memperlihatkan kepadaku sebuah kantong yang berisi gandum, dan kami mempunyai seekor kambing yang jinak. Kemudian saya menyembelihnya, dan gandum itu saya tumbuk. Setelah memasaknya dan kambing itu telah saya potong-potong, lalu saya masukkan ke dalam belanga, kemudian saya bermaksud untuk memanggil Rasulullah saw. dan istriku berkata: “Engkau jangan bikin malu diriku terhadap Rasulullah saw. dan para pengikutnya.” Maka saya mendatangi Rasulullah saw. dan berbisik: “Wahai Rasulallah, kami menyembelih seekor kambing dan memasak segantang gandum. Kami persilakan engkau dan beberapa orang datang ke rumah.” Kemudian Rasulullah saw. menyeru: “Wahai pasukan Khandaq, sesungguhnya Jabir membuat selamatan, maka marilah kita kesana.” Nabi saw. bersabda kepada saya: “Kamu jangan sekali-sekali mengangkat belanga itu dan memotong-motong adonan roti itu, sampai aku datang.” Saya pulang dulu sebelum Nabi saw. beserta para shahabat datang, dan saya memberitahu hal itu kepada istriku. Istriku menjawab: “Salahmu sendiri (tidak menurut apa yang aku katakan).” Jawabku: “Tetapi aku sudah membisikkan kepada Nabi saw.” Kemudian beliau datang bersama para shahabat, lalu istriku mengeluarkan adonan roti itu dan beliau meniupnya serta berdoa memohon berkah, kemudian beliau menyuruh istriku: “Panggillah tukang roti dan suruh dia bikin roti bersamamu serta aduk-aduklah belanga itu dan janganlah kamu angkat.”
Sedangkan mereka berjumlah seribu orang. Tetapi, demi Allah, sungguh mereka kenyang semua sewaktu meninggalkan rumah, dan dalam belanga itu masih terdengar masakan seperti semula, serta adonan roti itu masih bisa dibuat roti seperti sedia kala.”

Dari Anas ra. ia berkata: Abu Thalhah berkata kepada Ummu Sulaim (istrinya): “Saya mendengar suara Rasulullah saw. sangat lemah, dan saya tahu beliau sangat lapar. Apakah kamu mempunyai makanan?” Istrinya menjawab: “Ya, ada.” Ia mengeluarkan beberapa potong roti dari gandum kemudian ia mengambil kain kerudungnya sebagai pembungkus roti dan dimasukkan ke bawah bajuku. Sisanya diberikan kepada saya, dan ia menyuruh saya agar lekas memanggil Rasulullah saw.. Maka saya pergi untuk memanggil beliau, dan saya dapatkan Rasulullah saw. duduk di masjid dikelilingi oleh para shahabat, saya lantas menampakkan diri di tengah-tengah mereka, kemudian Rasulullah beranya: “Apakah kamu diutus oleh Abu Thalhah?” Saya menjawab: “Benar.” Beliau bertanya lagi: “Apakah untuk makan?” Saya menjawab: “Benar, wahai Rasulullah.” Maka Rasulullah bersabda: “Marilah kita kesana bersama-sama.” Para shahabat berangkat, dan saya lebih dulu pergi memberitahukan hal itu kepada Abu Thalhah, maka Abu Thalhah berkata kepada istrinya: “Wahai Ummu Sulaim (istriku), Rasulullah saw. datang bersama para shahabat, padahal kita tidak menyediakan makanan untuk dihidangkan kepada mereka.” Ummu Sulaim berkata: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Abu Thalhah lalu menjemput Rasulullah saw. sehingga bertemu dengan beliau. Kemudian Rasulullah saw. bersama Abu Thalhah masuk rumah lebih dahulu, dan Rasulullah saw. bersabda: “Bawalah kemari makanan yang akan kamu hidangkan wahai Ummu Sulaim. Kemudian Ummu Sulaim menyajikan roti itu. Maka Rasulullah menyuruh untuk memotong-motongnya dan menyuruh Ummu Sulaim mengolesinya dengan minyak samin sebagai lauknya. Kemudian Rasulullah bersabda di hadapan roti itu: “Maa syaa AllaaHu ayyaquul,” beliau lantas bersabda: “Silakan sepuluh orang makan sampai kenyang kemudian keluar.” Beliau bersabda lagi: “Silakan sepuluh orang makan dulu.” Akhirnya semua orang makan dan kenyang, padahal mereka berjumlah tujuh puluh atau delapan puluh orang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Di dalam riwayat lain dikatakan: “Maka saling bergantian, sepuluh orang masuk dan sepuluh orang keluar sehingga tidak ada seorangpun di antara mereka melainkan ia masuk dan makan sampai kenyang. Kemudian mereka meninggalkannya, sedangkan roti itu masih seperti sedia kala.”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Maka makanlah sepuluh orang-sepuluh orang (saling bergantian), sehingga yang demikian itu dilakukan oleh delapan puluh orang. Terakhir Nabi saw. beserta keluarga Abu Thalhah makan, dan mereka masih meninggalkan sisa yang masih banyak.”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Mereka masih meninggalkan sisa yang dapat diberikan kepada tetangga.”

Dalam riwayat lain dikatakan: “Bersumber dari Anas ra. ia berkata: “Pada suatu hari saya datang kepada Nabi saw. dan mendapatkan beliau sedang duduk bersama para shahabat, sedangkan perut beliau dibalut. Maka saya menanyakan kepada salah seorang shahabat: “Mengapa Rasulullah saw. membalut perutnya?” Mereka menjawab: “Beliau lapar.” Kemudian saya pergi ke rumah ayahku, Abu Thalhah, ia adalah suami Ummu Sulaim (binti Milhan), dan saya berkata: “Wahai ayahku, saya melihat Rasulullah saw. membalut perutnya kemudian kutanya kepada salah seorang shahabatnya, mereka menjawab: Beliau dalam keadaan lapar.” Kemudian Abu Thalhah masuk menemui ibuku, dan berkata: “Apakah kita mempunyai makanan?” Ibuku menjawab: “Ya, saya mempunyai beberapa potong roti dan kurma. Andaikan Rasulullah saw. datang sendirian, maka sudah dapat untuk mengenyangkan beliau, tetapi jika beliau datang bersama dengan yang lain, maka sangat sedikit persediaan untuk mereka.” Hadits ini masih ada lanjutannya.
Sekian.

Hidup Sederhana (3)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an dan hadits Bukhari-Muslim

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Rasulullah saw. tidak pernah melihat roti yang terbuat dari tepung yang halus sejak beliau diutus Allah Ta’ala sampai beliau wafat.” Ada seseorang yang bertanya kepada Sahl: “Apakah pada masa Rasulullah saw. tidak ada pengayaan?” Ia menjawab: “Beliau tidak pernah melihat pengayaan sejak beliau diutus Allah Ta’ala sampai beliau wafat.” Yang lain pun bertanya: “Bagaimana kalian makan gandum tanpa diayak terlebih dahulu?” Ia menjawab: “Kami menumbuk dan meniup-niupnya, dan sisanya kami masak.” (HR Bukhari)

Dari Abu Umamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu lebih baik bagimu dan jika kamu menahannya, maka itu sangat jelek bagimu. Kamu tidaklah dicela dalam kesederhanaan. Dan dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Ubaidilah bin Mihshan al-Anshariy (al-Khathmiy) ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang pada waktu pagi merasa aman rumah tangganya, sehat badannya, dan mempunyai persediaan makanan untuk hari itu, maka seolah-olah ia telah mendapatkan kebahagiaan dunia dan semua kesempurnaannya.” (HR Tirmidzi)

Dari Abdullah bin Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh beruntung orang yang telah Islam, rizkynya cukup, dan Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah dikaruniakannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Muhammad Fadhalah bin ‘Ubaid al-Anshariy ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Berbahagialah orang yang mendapat petunjuk masuk Islam, berkecukupan kehidupannya, dan ia merasa puas.” (HR Tirmidzi)

Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: “Ada kalanya Rasulullah saw. dan keluarganya lapar beberapa malam berturut-turut, karena tidak mempunyai apa-apa untuk makan malam, dan roti yang sering mereka makan adalah roti gandum.” (HR Tirmidzi)

Dari Fadhalah bin Ubaid ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. mengimami shalat, sering ada orang-orang yang jatuh tersungkur dalam shalat, karena lapar. Mereka adalah ahli suffah, sedangkan orang-orang Badui berkata: “Mereka adalah orang-orang gila.” Sehingga ketika Rasulullah saw. selesai shalat, mereka mendekati mereka dan bersabda: “Andaikan kalian mengetahui pahala yang telah disediakan Allah, niscaya kalian akan meningkatkan kemiskinan dan kelaparan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Karimah al-Miqdad bin Ma’dikariba ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang yang selalu memenuhi perutnya, lebih berbahaya daripada memenuhi bejana. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Andaikata ia tidak mampu berbuat seperti itu, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafasnya.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Umamah Iyash bin Tsa’labah al-Anshariy al-Haritsy ra. ia berkata: Pada suatu hari, para shahabat Rasulullah saw. membicarakan masalah dunia, kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Apakah kalian tidak mendengar? Apakah kalian tidak mendengar? Sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman, sesungguhnya kesederhanaan itu bagian dari iman.” (HR Abu Daud)

Dari Abu Abdullah Jabir bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah saw. mengutus kami di bawah pimpinan Abu Ubaidah untuk menghadang pasukan Quraisy dan beliau memberi bekal satu kantong kurma, karena yang ada hanya itu. Abu Ubaidah memberi kami masing-masing satu butir kurma. Ketika Jabir ditanya: “Apakah yang bisa diperbuat dengan sebutir kurma itu?” Jawabnya: “Kami mengisapnya sebagaimana anak-anak kecil mengisap, kemudian kami minum air, maka yang demikian itu dapat mencukupi sampai malam hari.”
Kemudian kami menumbuk dedaunan dengan tongkat, setelah kami basahi dengan air, dan memakannya. Kemudian melanjutkan perjalanan sampai ke pantai, di sana kami melihat seperti ada gundukan tanah menyerupai bukit, kemudian kami menuju tempat itu, dan ternyata seekor ikan yang besar dan panjang sekali menyerupai sebuah bukit. Abu Ubaidah berkata: “Bangkai.” Tetapi ia berkata lagi: “Namun tidak apa-apa kalian adalah utusan Rasulullah saw. dan berjuang di jalan Allah, sedangkan kalian dalam keadaan yang terpaksa, maka makanlah bangkai itu.” Kami di situ bertahan hingga satu bulan. Rombongan kami terdiri dari tiga ratus orang, satu bulan di sana membuat kami gemuk. Kami masih ingat pada waktu kami mengambil mata ikan itu dengan tempayan dipergunakan sebagai tempat lemak, kemudian memotong-motong sebesar lembu. Abu Ubaidah mengambil tigabelas orang dari rombongan kamidan disuruh duduk pada lobang bekas mata, mengambil satu tulang rusuk dan ditegakkan, kemudian ia menuntun seekor unta yang terbesar untuk berjalan di bawahnya, maka kami mengikutinya, membawa daging dan dendeng ikan tersebut. Ketika sampai di Madinah, kami menghadap Rasulullah saw. dan menceritakan hal itu. Kemudian beliau bersabda: “Itu adalah rizky yang dikaruniakan Allah untuk kalian. Apakah kalian masih menyimpan sisa daging itu untuk kami?” Kemudian kami membawakan daging ikan itu kepada Rasulullah saw. dan beliau memakannya.” (HR Muslim)

Dari Asma’ bin Yazid ra. ia berkata: “Lengan baju Rasulullah saw. adalah sampai pergelangan tangan.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Hidup Sederhana (2)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an dan hadits Bukhari-Muslim

Dari Abu Musa al-Asy’ariy, ia berkata: Aisyah ra. mengeluarkan sebuah kain dan sarung yang tebal kepada kami seraya berkata: “Sewaktu Rasulullah saw. menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau memakai kain dan sarung ini.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sa’ad bin Abi Waqqash ra. ia berkata: “Sesungguhnya saya termasuk orang pertama dari bangsa Arab yang melempar dengan panah berjuang di jalan Allah. Dan sungguh kami berperang bersama-sama Rasulullah saw. tanpa berbekal makanan kecuali daun pohon. Sehingga apabila kami buang air besar, maka kotorannya seperti kotoran kambing dan tidak ada campurannya sama sekali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. berdoa: Ya Allah, berilah keluarga Muhammad rizky yang dapat menghilangkan rasa lapar saja.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia. saya sering menekan rongga perutku ke tanah karena lapar, juga sering mengikatkan batu di perutku karena lapar. Pada suatu hari saya duduk di jalan yang biasa dilewati orang. Kemudian Nabi saw. lewat dan tersenyum ketika melihat saya dan beliau tahu apa yang sedang menimpa diri saya. Beliau bersabda: “Wahai Abu Hirr, mari ikut aku.” Maka saya pun mengikuti beliau. Beliau masuk rumah dan saya minta izin untuk masuk, beliaupun mengizinkan saya. Ketika beliau masuk, disitu ada semangkuk susu, dan beliau bertanya kepada istrinya: “Dari mana susu ini?” Ia menjawab: “Si fulan atau si fulanah menghadiahkan susu ini buat engkau.” Beliau bersabda: “Wahai Abu Hirr.” Saya menjawab: “Ada apa wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Temuilah ahli Suffah dan ajaklah mereka kemari.” Abu Hurairah berkata: “Ahli suffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak mempunyai keluarga, harta dan saudara. Apabila beliau mendapatkan sedekah maka beliau mengirimkannya untuk mereka dan beliau tidak mengambilnya sedikitpun. Tetapi apabila beliau mendapatkan hadiah, maka beliau mengirimkannya untuk mereka dan beliau hanya mengambil sebagian dari hadiah itu. Saya sangat haus dan ingin sekali minum susu itu, dalam hati saya berkata: “Mengapa susu itu diberikan kepada ahli suffah? Saya lebih pantas untuk minum susu itu agar kekuatan saya pulih kembali. Apabila mereka datang, beliau pasti menyuruh saya untuk memberikan susu itu kepada mereka dan kemungkinan saya tidak mendapat bagian dari susu itu. Tetapi taat kepada Allah dan Rasul-Nya harus diutamakan.” Oleh karena itu, saya berangkat dan memanggil mereka. Kemudian mereka datang dan minta izin kepada Nabi, dan beliau pun mengizinkan mereka duduk di rumah beliau. Beliau memanggil: “Wahai Abu Hirr.” Saya menjawab: “Ya. Wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Ambillah mangkuk susu itu dan berikan kepada mereka.” Maka saya mengambil mangkuk itu dan memberikan kepada orang pertama, maka ia minum sampai nampak segar. Mangkuk itu diberikan kepada saya kembali, dan saya berikan kepada yang lain untuk meminumnya sampai nampak segar. Mangkuk itu dikembalikan kepada saya sehingga sampai pada giliran Nabi saw. anehnya mereka sudah minum semua, tetapi susu belum habis. Kemudian beliau mengambil mangkuk itu dan dipegangnya, serta memandang saya sambil tersenyum, lantas beliau bersabda: “Wahai Abu Hirr.” Saya menjawab: “Ya, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Tinggal aku dan kamu yang belum.” Saya menjawab: “Benar, wahai Rasulallah.” Beliau bersabda: “Duduklah kamu dan minumlah.” Maka saya duduk dan minum. Beliau bersabda lagi: “Minumlah.” Beliau selalu mengulanginya sampai saya berkata: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, perut saya tidak muat lagi.” Maka saya memberikan mangkuk itu kepada beliau, kemudian beliau memuji Allah Ta’ala dan membaca basmalah lalu meminum sisanya.” (HR Bukhari)

Dari Muhammad bin Sirin, dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Sungguh saya pernah jatuh pingsan di antara mimbar Rasulullah saw. dan jalan yang menuju ke bilik Aisyah ra., kemudian seseorang mendatangiku dan menginjakkan kakinya ke leherku, ia menyangka bahwa saya gila. Padahal saya tidak gila, hanya saja terlalu lapar.” (HR Bukhari)

Dari Aisyah ra. ia berkata: “Pada waktu Rasulullah saw. wafat, baju besinya baru digadaikan kepada orang Yahudi sebagai tanggungan dari 30 gantang (75 kg) gandum.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Nabi saw. pernah menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan hutang gandum, dan saya pernah datang ke tempat nabi saw. dengan membawa roti gandum dan minyak gajih. Sungguh saya pernah mendengar beliau bersabda: “Tidak ada bagi keluarga Muhammad saw. pada waktu pagi kecuali segantang gandum, begitu juga pada waktu sore, sedangkan keluarga beliau terdiri dari sembilan rumah.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Saya melihat tujuh puluh ahli suffah, di antara mereka tidak ada seorangpun yang memiliki kain panjang, tidak lebih dari satu sarung atau kain yang diikatkan ke lehernya sampai betis, yang disimpulkan dan ditarik-tarik dengan tangannya khawatir kalau-kalau auratnya terbuka.” (HR Bukhari)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Alas tidur Rasulullah saw. terbuat dari kulit yang berisi sabut.” (HR Bukhari)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah saw. tiba-tiba datang seorang shahabat Anshar memberikan salam kepada beliau. Ketika akan meninggalkan kami, Rasulullah saw. bertanya: “Wahai saudara Anshar, bagaimana keadaan saudaraku Sa’ad bin ‘Ubadah?” Ia menjawab: “Baik-baik saja.” Rasulullah kembali bertanya: “Siapakah di antara kalian yang ingin menjenguknya bersamaku?” Maka beliau berdiri dan kami pun menyertainya, semua berjumlah belasan orang, dan tak satupun yang memakai sendal, sepatu, kopiah dan kemeja. Kami semua berangkat dengan pakaian yang amat sederhana. Sesampainya di rumah Sa’ad, keluarga yang mengelilinginya mundur, sehingga Rasulullah saw. dan para shahabatnya mendekatinya.” (HR Muslim)

Dari Imran bin Hushain ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sebaik-baik orang di antara kalian adalah yang hidup pada masaku, kemudian orang-orang sesudahnya, dan yang sesudahnya lagi.” Imran berkata: “Saya tidak tahu pasti, apakah Nabi saw. mengucapkan dua kali atau tiga kali.” (Nabi bersabda lagi): “Sesudah mereka akan datang suatu kaum yang mau menjadi saksi meskipun tidak diminta, mereka berkhianat dan tidak dapat dipercaya, mereka bernadzar, tetapi tidak menepatinya. Mereka tampak gemuk dan besar perut.” (HR Bukhari dan Muslim)

Hidup Sederhana (1)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an dan hadits Bukhari-Muslim

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan, kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, Maka mereka itu akan masuk syurga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (Maryam: 59-60)

“Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Mudah-mudahan kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar”. (al-Qashash: 79-80)

“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan [yang kamu bermegah-megahan di dunia]” (at-Takaatsur: 8)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), Maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka Jahannam; ia akan memasukinya dalam Keadaan tercela dan terusir.” (al-Israa’: 18)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Keluarga Muhammad saw. tidak pernah kenyang dari roti gandum dalam waktu dua hari berturut-turut sampai beliau meninggal dunia.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Keluarga Muhammad saw. tidak pernah kenyang dari makanan yang terbuat dari gandum, sejak menetap di Madinah dalam waktu tiga malam berturut-turut sampai beliau meninggal dunia.”

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: “Wahai keponakanku, demi Allah kami pernah melihat bulan dan bulan dan melihat bulan, tiga kali dalam dua bulan, sedangkan di rumah-rumah Rasulullah saw. tidak ada nyala api.” Saya bertanya: “Wahai bibiku, kalau memang demikian, apa yang bibi makan?” Aisyah menjawab: “Kurma dan air. Hanya saja shahabat Anshar tetangga Rasulullah saw. yang mempunyai sapi perahan, sering mengantar air susu untuk Rasulullah saw., maka kami meminumnya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sa’ad al-Maqburiy dari Abu Hurairah ra. ia berkata: ia melewati suatu kaum yang sedang makan sate, maka merekapun mengajak Sa’ad untuk makan bersama, tetapi ia menolak dan berkata: “Rasulullah saw. belum pernah kenyang makan roti gandum sampai ia meninggal dunia.” (HR Bukhari)

Dari Anas ra. ia berkata: “Rasulullah saw. tidak pernah makan dengan piring, sampai beliau meninggal dunia, juga beliau tidak pernah makan roti yang terbuat dari tepung sampai meninggal dunia.” (HR Bukhari)

Dari an-Nu’man bin Basyir ra. ia berkata: “Saya pernah melihat Nabi saw. tidak mendapatkan makanan walaupun hanya kurma yang paling buruk untuk mengisi perutnya.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Pada suatu hari Rasulullah saw. keluar, lalu bertemu dengan Abu Bakar dan Umar ra. Beliau bertanya: “Mengapa kalian keluar rumah di saat-saat seperti ini?” Abu Bakar dan Umar menjawab: “Karena lapar, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, aku juga demikian. Mari kita pergi bersama-sama.” Keduanya pun pergi bersama Rasulullah saw. mendatangi rumah salah seorang shahabat Anshar (namanya: Abul Haitsam bin at-Tajihan), tetapi ia tidak ada di rumahnya. Ketika istrinya melihat mereka, ia segera menyambutnya dengan mengucapkan: “Selamat datang.” Rasulullah saw. bertanya: “Di manakah suamimu?” Ia menjawab: “Sedang pergi mengambil air tawar.” Tiba-tiba datanglah shahabat Anshar itu dan melihat Rasulullah saw. bersama kedua shahabatnya, maka ia berkata: “Al-hamdu lillaaH, pada hari ini tidak ada seorangpun yang mempunyai tamu lebih mulia daripada tamuku.” Kemudian ia pergi mengambil baki yang berisi kurma setengah matang, kurma yang sudah matang dan buah anggur, seraya mempersilakan makan. Ia mengambil pisau. Tetapi Rasulullah menegurnya: “Saya harap kamu tidak menyembelih kambing perahan itu.” Kemudian ia menyembelih kambing yang lain. Kemudian mereka makan daging kambing, kurma dan anggur bersama-sama, dan meminum air yang baru diteduhkan itu. Setelah kenyang dan segar kembali, Rasulullah saw. bersabda kepada Abu Bakar dan Umar ra.: “Demi Dzat yang jiwaku berada di genggaman-Nya, sungguh pada hari kiamat kalian akan ditanya tentang nikmat ini. Kalian keluar dari rumah dengan perut lapar kemudian kalian tiada kembali sebelum menikmati jamuan ini.” (HR Muslim)

Dari Khalid bin Umair al-Adawiy ia berkata: Utbah bin Ghazwan yang menjabat gubernur di Bashrah, berkhutbah di depan kami. Setelah ia memuji dan menyanjung Allah, ia berkata: “Sesungguhnya dunia ini telah mengingatkan akan kehancurannya dan melaju dengan cepatnya, serta tidak akan tersisa, melainkan hanya seperti sisa air dari bejana yang dituangkan pemiliknya. Sesungguhnya kalian akan pindah dari alam dunia ke daerah yang tidak binasa lagi, pindahlah kalian dengan berbekal kebaikan. Sesungguhnya telah diceritakan kepada kami, bahwa kalau sebuah batu dilemparkan ke dalam neraka jahanam, maka dalam waktu tujuh puluh tahun belum sampai ke dasarnya. Demi Allah neraka jahanam itu pasti akan penuh. Apakah kalian merasa kagum? Dan telah diceritakan kepada kamu, bahwa jarak antara dua pintu gerbang surga itu empat puluh tahun perjalanan. Tetapi suatu hari nanti, orang-orang yang memasukinya berdesak-desakan. Dulu, waktu saya bertujuh bersama Rasulullah saw. pernah tidak mendapatkan makanan kecuali dedaunan, sampai bibir kami pecah-pecah dan saya membagi selimut menjadi dua untuk saya sendiri dan untuk Sa’ad bin Malik, sehingga saya bersarung separuh, begitu juga Sa’ad. Tetapi masing-masing dari kami sekarang telah menjadi gubernur pada salah satu wilayah. Sesungguhnya saya berlindung diri kepada Allah, jangan sampai dalam pandangan diriku besar padahal di sisi Allah sangat kecil.” (HR Muslim)

Menjaga Kehormatan, Tidak Meminta-minta (1)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rizkynya.” (Hud: 6)

Firman Allah: “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. tetapi Barangsiapa dalam Keadaan terpaksa (memakannya) sedang Dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 273)

Firman Allah: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (al-Furqaan: 67)

Firman Allah: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan.” (adz-Dzaariyaat: 56-57)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak disebut kaya karena banyaknya harta, tetapi yang disebut kaya (yang sebenarnya) adalah kekayaan jiwa.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh beruntung orang yang telah (masuk) Islam dan rizky-nya cukup. Allah memberikan kepuasan terhadap apa yang telah Allah karuniakan kepadanya.” (HR Muslim)

Dari Hakim bin Hizam ra. ia berkata: Saya meminta kepada Rasulullah saw. maka beliau memberi saya; kemudian saya meminta lagi kepada beliau dan beliau pun memberi lagi. Kemudian beliau bersabda: “Hai Hakim, sesungguhnya harta itu memang manis dan mempesonakan. Siapa saja yang mendapatkannya dengan kemurahan jiwa, maka ia akan mendapatkan berkah. Tetapi siapa saja yang mendapatkannya dengan meminta-minta, maka ia tidak akan mendapatkan berkah. Ia bagaikan orang yang sedang makan tetapi tidak pernah merasa kenyang. Tangan yang di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (yang meminta).” Hakim berkata: “Wahai Rasulallah, demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak akan menerima sesuatu pun dari seseorang sesudah pemberianmu ini, sampai saya meninggal dunia.”
Abu Bakar pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu kepadanya, tetapi ia tidak mau menerimanya. Demikian pula dengan Umar, ia pernah memanggil Hakim untuk memberikan sesuatu, tetapi ia tidak mau menerimanya, maka Umar berkata: “Wahai umat Islam, saksikanlah, bahwa saya telah menawarkan harta rampasan yang menjadi haknya Hakim, sebagaimana yang telah diatur Allah, tetapi ia tidak mau mengambilnya.”
Demikianlah, Hakim tetap tidak mau menerima pemberian dari seorang pun setelah menerima pemberian dari Nabii saw. sampai ia meninggal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Burdah, dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. ia berkata: Dalam suatu peperangan, kami keluar bersama Rasulullah saw. Setiap enam orang, tersedia satu ekor unta, sehingga kami bergantian menaikinya sampai kaki kami pecah-pecah. Demikian pula kaki saya pecah-pecah bahkan kuku-kuku saya terkelupas; kemudian kami membalut kuku kami dengan sobekan kain. Oleh karena itu peperangan tersebut dinamakan perang “Dzatur riqa’”, karena kami membalut kaki-kaki kami dengan sobekan kain.” Abu Burdah berkata: “Semula Abu Musa sering menceritahkan hal ini, kemudian ia tidak mau menceritakannya lagi dan berkata: ‘Buat apa saya menyebut-nyebut apa yang telah saya lakukan.’” Abu Burdah berkata: “Seolah-olah ia tidak senang kalau sesuatu yang pernah diperbuatnya itu disebar luaskan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari ‘Amir bin Taghlib ra. ia berkata: Rasulullah saw. pernah diberi harta atau tawanan, kemudian beliau membagi-bagikannya. Ada yang diberi dan ada yang tidak. Kemudian terdengar kabar bahwa orang-orang yang tidak diberi mengeluh. Maka beliau berkhutbah, setelah memuji dan menyanjung Allah Ta’ala, beliau berkhutbah: “Demi Allah, sesungguhnya saya memberi harta rampasan kepada seseorang sedangkan yang lain tidak. Sebenarnya orang yang tidak aku beri lebih aku cintai daripada yang diberi. Tetapi sesungguhnya aku memberi harta rampasan itu kepada orang yang di dalam hatinya dirundung kegelisahan dan keresahan. Dan aku serahkan kepada Allah orang-orang yang ditetapkan pada hati mereka kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah ‘Amr bin Taghlib.” Mendengar yang demikian ‘Amr bin Taghlib berkata: “Demi Allah, saya tidak senang kalau ucapan Rasulullah saw. itu (diganti) dengan ternak-ternak yang bagus.” (HR Bukhari)

Dari Hakim bin Hizam ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Tangan yang di atas (orang yang memberi) itu lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta). Dahulukan orang-orang yang menjadi tanggunganmu. Sesungguhnya sebaik-baik sedekah adalah sedekah yang dikeluarkan oleh orang yang mempunyai kelebihan. Siapa saja yang menjaga kehormatan dirinya, Allah akann menjaganya dan siapa saja yang merasa cukup, maka Allah akan mencukupkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdurrahman Mu’awiyah bin Abu Sufyan Shakhr bin Harb ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian memaksa dalam meminta-minta. Demi Allah, tidak ada salah seorang di antara kalian yang meminta kepadaku, kemudian aku memberikan sesuatu kepadanya dengan rasa terpaksa, niscaya tidak akan mendapatkan berkah dari apa yang aku berikan itu.” (HR Muslim)

Menjaga Kehormatan, Tidak Meminta-minta (2)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Dari Abu Abdurrahman bin ‘Auf bin Malik ra. ia berkata: Kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw. waktu itu kira-kira berjumlah sembilan, delapan atau tujuh orang; kemudian beliau bertanya: “Apakah kalian tidak akan berbaiat (berjanji setia) kepada Rasulullah?” Padahal kami barusaja berbaiat. Maka kami menjawab: “Bukankah kami sudah berbaiat kepadamu wahai Rasulallah?” Kemudian kami mengulurkan tangan dan berkata: “Kami telah berbaiat kepada engkau, maka dalam hal apa kami harus berbaiat?” Beliau menjawab: “Kalian harus menyembah Allah, Dzat yang Maha Esa dan kalian tidak boleh menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun, shalat lima waktu, serta harus senantiasa mendengarkan dan mentaati segala perintah-Nya.” Dan beliau berbisik: “Janganlah kalian meminta-minta sesuatu pun kepada sesama manusia.” Setelah itu, sungguh saya menyaksikan, bahwa salah seorang di antara kelompok ini, ada yang cambuknya terjatuh dan ia tidak mau meminta kepada seseorang untuk mengambilkan cambuknya.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Siapa saja di antara kalian yang senantiasa meminta-minta, nanti ia akan bertemu Allah Ta’ala, sedangkan mukanya tidak berdaging.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Umar ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. berada di atas mimbar, beliau berbicara tentang sedekah, dan menjaga diri dari meminta-minta, beliau bersabda: “Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah yang memberi, sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan yang meminta-minta.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang meminta-minta kepada sesama manusia dengan maksud untuk memperbanyak harta kekayaan, maka sesungguhnya ia meminta bara api; sehingga terserah padanya apakah cukup dengan sedikit saja atau akan memperbanyaknya.” (HR Muslim)

Dari Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya meminta-minta itu adalah cacat (luka) yang digoreskan orang di wajahnya, kecuali apabila ia meminta kepada penguasa atau karena keadaan terpaksa.” (HR Tirmidzi)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang tertimpa kekurangan, kemudian ia mengadukannya kepada sesama manusia, maka kekurangannya tidak akan tertutupi. Tetapi siapa saja yang mengadukannya kepada Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya rizky (baik datangnya) segera ataupun lambat.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Dari Tsauban ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah yang berani menjaminkan dirinya kepadaku untuk tidak meminta sesuatupun kepada sesama manusia maka aku akan jamin ia masuk surga?” Saya menjawab: “Saya.” Maka ia tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang. (HR Abu Daud)

Dari Abu Bisyr Qabishah bin al-Mukhariq ra. ia berkata: Saya adalah orang yang menanggung beban amat berat, maka saya mendatangi Rasulullah saw. untuk meminta bantuannya meringankan beban itu. Kemudian beliau bersabda: “Tunggulah sampai ada zakat yang datang kesini, nanti akan aku suruh si ‘amil (pengumpul dan pembagi zakat) untuk memberi bagian kepadamu.” Kemudian beliau bersabda: “Wahai Qabishah, meminta-minta itu tidak diperbolehkan kecuali ada salah satu dari tiga sebab. Pertama, seseorang yang menanggung beban yang amat berat, maka ia diperbolehkan meminta-minta sampai dapat memperingan bebannya, kemudian dia mengekang dirinya untuk tidak meminta-minta lagi. Kedua, seseorang yang tertimpa kecelakaan dan hartanya habis, maka ia boleh meminta-minta sampai mendapatkan kehidupan yang layak. Dan yang ketiga, seseorang yang sangat miskin, sehingga ada tiga orang yang bijaksana di antara kaumnya mengatakan: “Si Fulan benar-benar miskin.” Maka ia diperbolehkan meminta-minta, sampai dapat hidup dengan layak. Wahai Qabishah, meminta-minta selain disebabkan tiga hal tadi, adalah usaha yang haram dan orang yang memakannya berarti ia makan barang haram.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Bukan dinamakan orang miskin, orang yang meminta-minta kemudian ia tidak memperoleh sesuap dan dua suap makanan atau tidak memperoleh satu dan dua buah butir kurma. Tetapi yang dinamakan orang miskin adalah orang yang tidak dapat mencukupi kebutuhannya dan tidak pernah berfikir untuk diberi sedekah dan ia juga tidak mau pergi untuk meminta-minta kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Salim bin Abdullah bin Umar, dari ayahnya (Abdullah bin Umar), dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. memberi bagian dari sedekah kepada saya, tetapi saya menolaknya dan berkata: “Wahai Rasulallah, berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkannya.” Beliau bersabda: “Terimalah, apabila harta itu mendatangimu, sedangkan kamu tidak mengharap-harapkan dan meminta. Kemudian terserah kamu, boleh kamu makan atau sedekahkan. Dan yang tidak datang kepadamu, janganlah kamu menuruti hawa nafsumu untuk mendapatkannya.” Salim berkata: “Setelah itu, Abdullah tidak pernah meminta sesuatupun kepada orang lain, dan tidak pernah menolak pemberian.” (HR Bukhari dan Muslim)

Anjuran Berusaha


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di bumi, dan carilah karunia Allah.” (al-Jumu’ah: 10)

Dari Abu Abdullah az-Zubair bin al-‘Awwan ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh seandainya salah seorang di antar kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung dan kembali dengan memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudia dari hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Nabi Daud as. tidak pernah makan kecuali hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Nabi Zakari as. adalah seorang tukang kayu.” (HR Muslim)

Dari al-Miqdam bin Ma’dikariba ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Seseorang yang makan hasil usahanya sendiri, itu lebih baik. Sesungguhnya Nabi Daud as. makan dari hasil usahanya sendiri.” (HR Bukhari)

Sabtu, 30 November 2013

Murah Hati dan Memberi Infak (2)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an Hadits

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sedekah tidak akan mengurangi harta. Allah pasti akan menambah kemuliaan seseorang yang suka memaafkan. Dan seseorang yang merendahkan diri karena Allah, niscaya Allah yang Maha Mulia lagi Maha Agung akan mengangkat derajatnya.” (HR Muslim)

Dari Abu Kabsyah Umar bin Sa’ad al-Anmariy ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang akan aku sampaikan kepada kalian, agar kalian dapat menjaganya dengan baik. Pertama, harta seseorang tidak akan berkurang karena sedekah. Kedua, seseorang yang dianiaya dan ia sabar atas penganiayaan itu, maka Allah akan membalasnya dengan kemualiaan. Ketiga, seseorang yang membuka pintu untuk meminta-minta niscaya Allah akan membuka untuknya pintu kemiskinan dan semacamnya. Dan akan aku sampaikan suatu berita kepada kalian, dan jagalah dengan baik, yaitu: Sesungguhnya di dunia ini ada empat macam manusia. Pertama, orang yang dikaruniai harta dan ilmu oleh Allah, dipergunakan untuk bertakwa kepada Rabb-nya, menghubungkan tali persaudaraan, dan tahu bahwa Allah mempunyai hak. Orang ini mempunyai derajat yang paling utama. Kedua, seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah, dan tidak dikaruniai harta, tetapi dengan niat yang sungguh-sungguh ia berkata: ‘Seandainya saya mempunyai harta, niscaya akan saya amalkan seperti amalnya si Fulan.’ Karena niatnya, ia mendapatkan pahala yang sama seperti pahala orang yang beramal. Ketiga, seseorang yang dikaruniai harta dan tidak mau menghubungkan tali persaudaraan, serta tidak sadar bahwa Allah mempunyai hak dalam hartanya itu, orang ini mempunyai derajat yang paling rendah. Dan keempat, seseorang yang tidak dikaruniai harta dan tidak dikaruniai ilmu kemudian ia berkata: ‘Andaikan saya mempunyai harta, niscaya saya akan berbuat seperti apa yang diperbuat oleh si Fulan (orang ketiga).’ Karena niatnya, ia akan mendapatkan dosa seperti dosa orang yang berbuat.” (HR Tirmidzi)

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Para shahabat menyembelih seekor kambing, kemudian Nabi saw. bertanya: “Apakah ada yang masih tersisa dari kambing itu?” ‘Aisyah menjawab: “Ya, sampil mukanya saja.” beliau bersabda: “Semuanya tersisa kecuali sampil mukanya.” (HR Tirmidzi)
Keterangan: karena semua bagian kambing telah disedekahkan, maka akan tinggal tetap di akhirat, kecuali sampil mukanya itu saja yang akan dimakan dan akan menjadi kotoran yang akan dikeluarkan di dunia.

Dari Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Kamu jangan menutup-nutupi apa yang kamu miliki, niscaya Allah akan menutupi rizkymu.”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Nafkahkan, berikan, dan sedekahkan hartamu, serta jangan kamu menghitung-hitungnya, sehingga Allah akan menghitung-hitungnya untukmu; dan jangan kamu menakar-nakarnya, sehingga Allah akan menakar-nakarnya untukmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Perumpamaan orang yang kikir dan orang yang menafkahkan hartanya, bagaikan dua orang yang memakai baju besi dari susu sampai ke bahunya. Setiap kali orang menafkahkan hartanya, berkembanglah baju besi yang dipakainya, sehingga tertutup semua badannya. Sedangkan orang kikir, jika hendak menafkahkan hartanya, niscaya makin melekatlah lingkaran baju itu pada tempatnya. Sehingga baju besinya bertambah sempit.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang bersedekah senilai satu butir kurma, dari hasil usaha yang halal, dimana Allah tidak akan menerima kecuali yang baik (halal), maka sesungguhnya Allah akan menerima dengan tangan kanan-Nya, kemudian memeliharanya untuk orang yang bersedekah itu, sebagaimana salah seorang di antara kalian memelihara anak kuda, sehingga sedekah itu menjadi sebesar gunung.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu ketika ada seseorang sedang berjalan di padang pasir tiba-tiba ia mendengar suara di dalam awan: “Siramlah kebun si fulan.” Kemudian awan itu menurunkan airnya di tempat yang banyak batunya. Di situ terdapat sebuah parit yang penuh dengan air yang mengalir. Di situ pula ada seorang laki-laki yang berada di tengah-tengah kebun, sedang menyiramkan air dengan canting. Ia bertanya kepada orang itu: “Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Orang itu menjawab: “Fulan.” Sebuah nama yang sama dengan yang didengar dari awan tadi. Kemudian fulan balik bertanya: “Mengapa engkau menanyakan namaku?” Ia menjawab: “Sesungguhnya saya mendengar suara dalam awan yang menurunkan air ini, berkata: ‘Siramlah kebun si Fulan. Nama itu persis dengan namamu. Apakah yang kamu perbuat sehingga demikian?” Fulan menjawab: “Karena kamu berkata menanyaiku seperti itu, sesungguhnya saya selalu memperhatikan hasil kebun ini. Sepertiga hasilnya saya sedekahkan, sepertiga saya makan bersama keluarga, dan yang sepertiga saya siapkan untuk bibit.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kalian terhadap kedzaliman. Sesungguhnya kedzaliman, merupakan kegelapan pada hari kiamat. Dan takutlah kalian terhadap kikir. Sesungguhnya kekikiran telah membinasakan manusia sebelum kalian. Mereka terdorong untuk menumpahkan darah dan menghalalkan semua yang telah diharamkan terhadap mereka.” (HR Muslim)

Murah Hati dan Memberi Infak (1)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an Hadits

Firman Allah: “Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39)

Firman Allah: “bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 272)

Firman Allah: “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 273)

Firman Allah: “Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat bagianya apabila ia telah binasa.” (al-Lail: 8-11)

Firman Allah: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Hasjud (iri hati) yang diperbolehkan, hanya dua hal, yaitu seseorang yang diberi kekayaan oleh Allah, dihabiskan dalam kebenaran. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah kemudian diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pengertiannya, seseorang tidak diperbolehkan mempunyai rasa iri, kecuali salah satu dari dua hal di atas.

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta warisan daripada harta sendiri?” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya kami lebih mencintai harta sendiri.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya harta sendiri, lebih diutamakan dan harta waris harus dikesampingkan.” (HR Bukhari)

Dari Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kepada api neraka, walaupun hanya bersedekah separuh biji kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: “Setiap kali Rasulullah saw. dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab: “Tidak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap pagi datang dua malaikat untuk setiap hamba, dan yang satu berdoa: “Ya Allah, gantilah orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Nafkahkanlah hartamu, niscaya akan diberi gantinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: seseorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Perbuatan apa saja yang terbaik dalam Islam?” Beliau menjawab: “Memberi makan (pada orang yang kekurangan) dan mengucapkan salam, kepada orang yang kamu kenal maupun orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada empat puluh macam perbuatan utama, sedangkan yang paling utama, adalah mendermakan seekor kambing untuk diperah susunya. Siapa saja yang mengerjakan salah satunya dengan tujuan mengharapkan pahala dari Allah dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR Bukhari)

Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu sangat baik. Jika tidak, itu sangat jelek bagimu. Kamu tidaklah dicela karena kesederhanaanmu. Dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebab tangan yang di atas (orang yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta).” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Apabila Rasulullah dimintai sesuatu untuk kepentingan Islam, beliau pasti memberinya. Sungguh aku pernah menyaksikan, ada seseorang yang datang dan meminta sesuatu kepadanya. Dan beliau memberi kambing yang berada di antara dua bukit itu. Kemudian orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata: “Wahai kaumku masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberi sesuatu kepada orang yang tidak khawatir miskin.” Sungguh dahulu seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin duniawi, tetapi dalam waktu yang cepat ia mencintai Islam melebihi dunia dan isinnya.” (HR Muslim)

Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah membagi sesuatu. Melihat yang demikian saya menegurnya: “Wahai Rasulallah, selain orang itu masih banyak lagi orang yang lebih berhak menerimanya.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya mereka meminta kepadaku dengan paksa, kemudian aku berikan saja kepada mereka, atau mereka akan menganggap aku kikir, padahal aku bukan orang yang kikir.” (HR Muslim)

Dari Jubair bin Muth’im ra. ia berkata: Sepulang dari perang Hunain, ia bersama Nabi saw. Kemudian ada orang-orang Badui menarik-narik beliau dan meminta bagian, sehingga mereka memaksa beliau ke suatu pohon dan mengambil surbannya, maka Nabi saw. bersabda: “Kembalikanlah surbanku itu! Sungguh andaikan aku mempunyai ternak sebanyak pohon berduri itu, pasti aku bagikan kepada kalian, sehingga tidak akan menyangka aku sebagai orang yang kikir, pembohong dan bukan pula pengecut.” (HR Bukhari)

Memberi Bantuan dan Qana’ah


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9)

Firman Allah: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan…” (al-Insaan: 8)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Sesunguhnya saya sangat lapar.” Maka beliau membawanya ke salah seorang istrinya, dan istrinya berkata: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Kemudian membawanya ke istri yang lain, dan istri yang lain menjawab seperti dikatakan oleh istri pertama, sehingga semua istrinya menjawab seperti yang dikatakan oleh istri pertama, yakni: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Maka beliau bersabda kepada para shahabat: “Siapakah yang sanggup menjamu tamuku pada malam ini?” Salah seorang shahabat Anshar berkata: “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian orang itu pergi bersama shahabat tadi. Sesampainya di rumah, ia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tamu Rasulullah saw.!”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Shahabat itu bertanya kepada istrinya: “Apakah engkau mempunyai makanan?” Istrinya menjawab: “Tidak punya, kecuali makanan untuk anak-anak.” Shahabat itu berkata: “Hiburlah mereka dengan sesuatu. Apabila mereka ingin makan, tidurkanlah mereka. Apabila tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita ikut makan.” Kemudian mereka duduk bersama, dan tamu itu makan, tetapi shahabat dan itrinya dalam keadaan lapar. Ketika pagi, mereka bertemu dengan Nabi saw. dan beliau bersabda: “Sungguh Allah kagum pada perbuatan kalian dalam menjamu tamu semalam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim, dari Jabir ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang. Dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.”

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Waktu kami bepergian bersama Rasulullah saw. tiba-tiba datang seseorang yang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan, maka Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mempunyai kelebihan kendaraan, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan, dan siapa saja yang mempunyai kelebihan bekal, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai bekal.” Kemudian beliau menyebut berbagai macam harta. Sehingga kami merasa, seolah-olah tidak ada seorangpun di antara kami mempunyai hak atas kelebihan harta.” (HR Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d ra. ia berkata: ada seorang perempuan datang kepda Nabi saw. memberikan selimut tenunan, seraya berkata: “Kain ini saya tenun sendiri, dengan harapan engkau senang memakainya.” Maka Nabi menerima dan memakainya, sebab beliau membutuhkannya. Kemudiian beliau keluar dan memakai selimut itu sebagai sarung. Tiba-tiba fulan berkata: “Alangkah bagusnya selimut ini, saya ingin memakainya.” Beliau bersabda: “Baiklah.” Setelah itu Nabi duduk di tempatnya, beliau pulang dan melipatnya, kemudian dikirim kepada orang yang menginginkannya. Orang-orang berkata kepada orang itu: “Tidak baik bagimu, sebab kain itu sangat dibutuhkan Nabi saw. kemudian kamu minta. Sebenarnya kamu juga tahu, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab: “Demi Allah, saya memintanya bukan untuk saya pakai, tetapi untuk saya jadikan sebagai kain kafan.” Sahl berkata: “Selimut itu memang benar menjadi kain kafanny.” (HR Bukhari)

Dari Abu Mura al-Asy’ariy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariy, apabila persediaan mereka dalam peperangan hampir habis atau makanan bagi keluarga mereka di Madinah tinggal sedikit, maka mereka mengumpulkan sisa-sisa yang ada dalam satu kain kemudian mereka membagi-bagikannya sama rata pada satu bejana. Mereka itu termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: Pernah Rasulullah saw. diberi minuman, maka beliau pun meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang pemuda (Ibnu Abbas) dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang lanjut usia. Kemudian beliau bersabda kepada anak muda itu: “Bolehkan aku memberikan minuman ini kepada orang-orang tua itu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak wahai Rasulallah, sesungguhnya saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada siapapun.” Maka Rasulullah memberikan minuman yang berada di tangannya kepada pemuda tadi (Ibnu Mas’ud).” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Orang Kaya yang Bersyukur


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an-Hadits

Firman Allah: “Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5-7)

Firman Allah: “dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail: 17-21)

Firman Allah: “Jika kamu menampakkan sedekah[mu], itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 271)

Firman Allah: “Kamu sekali-sekali tidak sampai kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cinta. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imraan: 92)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak diperbolehkan hasud (iri hati), kecuali dalam dua hal, yaitu: seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian dibelanjakan dalam kebenaran, dan seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah kemudian diamalkan dan diajarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Hasud yang diperbolehkan hanya dalam dua hal, yaitu: seseorang yang diberi pengertian tentang al-Qur’an oleh Allah, kemudian ia dipergunakan sebagai pedoman hidupnya pada waktu malam dan siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, kemudian ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ia berkata: Shahabat mujahirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: “Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi.” Beliau bertanya: “Mengapa demikian?” mereka menjawab: “Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka juga bersedekah, sedangkan kami tidak. Serta mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak dapat memerdekakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Bolehkan aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang yang sesudahmu, serta tidak ada seorangpun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Yaitu supaya sekalian membaca tasbih (subhaanallaaH) membaca takbir (AllaaHu akbar) dan membaca hamdalah (alhamdu lillaaHi) setiap selesai shalat masing-masing tiga puluh tiga kali.” Tetapi setelah itu shahabat-shahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim)