Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits
Firman Allah: “Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al-Ahzab: 33)
Allah berfirman: “Dan siapa saja mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al-Hajj: 32)
Dari Yazid bin Hayyan, ia berkata: “Saya, Hushain bin Sairah dan ‘Amr bin Muslim datang ke tempat Zaid bin Arqam ra.. Setelah kami duduk, Hushain berkata kepada Zaid: “Wahai Zaid, sungguh kamu telah mendapatkan keuntungan yang besar, yaitu kamu bertemu Rasulullah saw. dan mendengar haditsnya, berperang bersamanya, shalat bersamanya, sungguh kamu benar-benar mendapatkan keuntungan yang besar. Oleh karena itu ceritakanlah wahai Zaid tentang apa saja yang pernah kamu dengar dari Rasulullah saw.” Zaid menjawab: “Hai keponakanku. Demi Allah usiaku telah lanjut, sudah lama aku ditinggal beliau dan aku lupa sebagian apa yang aku peroleh dari beliau. Maka apa yang dapat aku sampaikan, terimalah dengan baik. Sedangkan yang tidak dapat, janganlah kamu menuntutnya.” Kemudian Zaid melanjutkan ceitanya: “Pada suatu hari Rasulullah saw. berdiri di tengah-tengah kami di Khum, yaitu sebuah tempat antara Makkah dan Madinah guna menyampaikan khutbah. Waktu itu beliau memuji serta menyanjung Allah, memberi nasehat dan peringatan. Setelah itu beliau bersabda: “Ketahuilah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku ini adalah manusia biasa, mungkin saja utusan Rabb-ku (malaikat Izrail) hampir datang dan aku harus menerimanya. Aku tinggalkan kalian dua perkara yang berat, yang pertama yaitu kitabullah yang di dalamnya penuh dengan petunjuk dan cahaya, maka ambillah dan pegang teguhlah kitabullah itu.” Beliau menegaskan agar kita benar-benar berpegang teguh pada kitabullah. Lanjutnya ia bersabda lagi: “Dan ahli baitku (keluargaku), aku memperingatkan kamu sekalian kepada Allah tentang ahli baitku (keluargaku).” Husein menyela: “Wahai Zaid, siapakah ahli bait beliau, bukankah istri-istri beliau itu ahli baitnya?” Zaid menjawab: “Ya, juga orang-orang yang diharamkan menerima sedekah sesudah beliau wafat.” Husein bertanya lagi: “Siapakah mereka itu?” Zaid menjawab: “Mereka adalah keluarga /keturunan Ali, Aqil, Ja’far dan Abbas.” Husein bertanya lagi: “Apakah masing-masing dari mereka diharamkan menerima sedekah?” Zaid menjawab: “Benar.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Ingatlah, sesungguhnya aku tinggalkan untuk kalian semua dua perkara yang berat, salah satunya adalah kitabullah yaitu tali (pedoman hidup) dari Allah. Siapa saja yang mengikutinya, maka ia berada dalam petunjuk, dan siapa saja yang meninggalkannya maka ia dalam kesesatan.”
Dari Umar ra. dari Abu Bakar ash-Shiddiq ra. ia berkata: “Peliharalah kehormatan Nabi Muhammad saw. yaitu dengan memuliakan ahli baitnya (keluarganya).” (HR Bukhari)
Minggu, 20 Oktober 2013
Menghormati Ulama, Tokoh dan Orang yang Berjasa
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits
Allah berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zummar: 9)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr al-Badriy al-Anshari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Yang berhak mengimami satu kaum adalah yang paling ahli baca al-Qur’an. Jika dalam bacaan mereka sama saja, maka (yang berhak menjadi imam ialah) yang paling mengerti tentang sunnah Rasulullah saw. kalau hal itu sama, maka (yang berhak menjadi imam ialah) di antara mereka yang lebih dulu hijrahnya. Jika hijrah mereka sama, maka (yang berhak menjadi imam adalah) orang yang lebih dahulu masuk Islam.” Dan janganlah seorang mengimami di daerah kekuasaan orang lain, dan jangan pula ia berdiam di rumah orang lain pada tempat khusus, kecuali dengan seizin pemiliknya.” (HR Muslim)
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Badriy al-Anshari ra. ia berkata: Rasulullah saw. selalu menyamakan pundak-pundak kami menjelang shalat dan beliau bersabda: “Ratakan shaf kalian dan jangan sampai tidak rata, yang akan mengakibatkan berbedanya hati kalian. Hendaknya mendekat kepadaku orang-orang dewasa dan yang pandai-pandai, kemudian berikutnya dan berikutnya lagi.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang yang dewasa dan yang pandai hendaklah mendekat denganku. Kemudian berikutnya kemudian berikutnya lagi. Janganlah kamu sekalian bercampur dan berdesak-desakan di pasar.” (HR Muslim)
Dari Abu Yahya (Sahl) bin Abu Hatsamah al-Anshariy ra. ia berkata: Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas’ud pergi ke Khaibar, pada masa damai, kemudian berpisahlah keduanya. Tatkala Muhayyishah mendatangi tempat Abdullah bin Sahl, didapatinya mati berlumuran darah dan Muhayyishah langsung menguburnya. Setelah itu ia lalu ke Madinah, kemudian Abdurrahman bin Sahl, Muhayyishah bin Mas’ud dan Huwayyishah bin Mas’ud datang ke Madinah menemui Nabi saw. dan memberitahu tentang peristiwa itu. Ketika Abdurrahman membuka pembicaraan, Rasulullah menyela dan bersabda: “Dahulukanlah orang tua, dahulukanlah orang tua.” Abdurrahman yang termuda, maka iapun diam, lalu Muhayyishah dan Huwayyishah berbicara. Beliau bersabda: “Apakah kamu mau bersumpah dan menuntut hak kepada pembunuhnya?” (Hadits ini masih ada terusannya) (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia bersabda: Nabi saw. mengumpulkan dua orang yang mati terbunuh dalam perang Uhud dan dalam satu liang kubur, kemudian beliau bersabda: “Yang mana di antara keduanya yang lebih banyak mengerti tentang al-Qur’an?” Tatkala ada seseorang yang menunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukannya (orang yang lebih banyak mengerti tentang al-Qur’an) ke dalam liang lahad.” (HR Bukhari)
Dari Umar ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku sedang bersiwak (bersuci) dengan sebatang kayu siwak, lalu datang dua orang laki-laki. Salah seorang diantaranya lebih tua dari yang lain. Lalu aku memberikan siwak kepada yang lebih muda. Kemudian berkata kepadaku: “Dahulukan yang lebih tua!” Akupun memberikan siwak itu kepada yang lebih tua.” ()
Dari Abu Musa ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya termasuk mengagungkan kehormatan Allah dengan memuliakan orang Islam yang tua usia, orang yang pandai tentang al-Qur’an dan tidak sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR Abu Daud)
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak termasuk golonganku orang yang tidak belas kasih terhadap yang lebih muda dan tidak mau menghormati orang yang lebih tua.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Maimun bin Abi Syabib, ia berkata: Ada seorang pengemis lewat di depan Aisyah, maka ia memberinya sepotong roti. Kemudian datang lagi seorang peminta-minta yang berpakaian compang-camping dan berperilaku sopan kemudian ia mempersilakannya duduk dan disuruh makan. Ketika ia ditegur tentang sikapnya, maka ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya.’” (HR Abu Daud)
Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Uyainah bin Hishn datang ke tempat keponakannya al-Hurr bin Qais dan menginap. Al-Hurr termasuk orang-orang yang dekat dengan Umar ra. karena Umar memang menjadikan orang-orang yang pandai tentang al-Qur’an sebagai teman duduk dan teman musyawarah, baik tua maupun muda, maka Uyainah berkata kepada al-Hurr: “Hai keponakanku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin (Umar), maka mintakan aku izin untuk menghadapinya.” Al-Hurr pun memintakan izin untuk Uyainah kemudian Uyainah masuk dan berkata: “Wahai putera al-Khaththab, demi Allah engkau tidak memperhatikan kami dan tidak mengadili kami dengan adil.” Mendengar hal itu mendadak Umar ra. marah, hampir saja ia memukulnya. Kemudian al-Hurr berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’rid ‘anil jaaHiliin (“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”) Demi Allah Umar ra. seolah-olah belum pernah mendengar ketika ayat itu dibaca, padahal Umar adalah orang yang paling jeli terhadap kitab Allah Ta’ala.” (HR Bukhari)
Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Pada masa Rasulullah saw. aku masih muda belia. Aku selalu hafal apa yang datangnya dari Rasulullah. Beliau tidak mencegahku berbicara, kecuali jika di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang muda yang memuliakan orang yang tua karena usianya, kelak Allah akan membalas kepadanya, yaitu orang-orang muda akan memuliakannya apabila ia telah tua.” (HR Tirmdizi)
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (al-Kahfi: 60)
Sampai pada firman-Nya: “Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya.” (al-Kahfi: 28)
Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra. seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman itu membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.” (HR Muslim)
Allah berfirman: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (az-Zummar: 9)
Dari Abu Mas’ud Uqbah bin ‘Amr al-Badriy al-Anshari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Yang berhak mengimami satu kaum adalah yang paling ahli baca al-Qur’an. Jika dalam bacaan mereka sama saja, maka (yang berhak menjadi imam ialah) yang paling mengerti tentang sunnah Rasulullah saw. kalau hal itu sama, maka (yang berhak menjadi imam ialah) di antara mereka yang lebih dulu hijrahnya. Jika hijrah mereka sama, maka (yang berhak menjadi imam adalah) orang yang lebih dahulu masuk Islam.” Dan janganlah seorang mengimami di daerah kekuasaan orang lain, dan jangan pula ia berdiam di rumah orang lain pada tempat khusus, kecuali dengan seizin pemiliknya.” (HR Muslim)
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Badriy al-Anshari ra. ia berkata: Rasulullah saw. selalu menyamakan pundak-pundak kami menjelang shalat dan beliau bersabda: “Ratakan shaf kalian dan jangan sampai tidak rata, yang akan mengakibatkan berbedanya hati kalian. Hendaknya mendekat kepadaku orang-orang dewasa dan yang pandai-pandai, kemudian berikutnya dan berikutnya lagi.” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang-orang yang dewasa dan yang pandai hendaklah mendekat denganku. Kemudian berikutnya kemudian berikutnya lagi. Janganlah kamu sekalian bercampur dan berdesak-desakan di pasar.” (HR Muslim)
Dari Abu Yahya (Sahl) bin Abu Hatsamah al-Anshariy ra. ia berkata: Abdullah bin Sahl dan Muhayyishah bin Mas’ud pergi ke Khaibar, pada masa damai, kemudian berpisahlah keduanya. Tatkala Muhayyishah mendatangi tempat Abdullah bin Sahl, didapatinya mati berlumuran darah dan Muhayyishah langsung menguburnya. Setelah itu ia lalu ke Madinah, kemudian Abdurrahman bin Sahl, Muhayyishah bin Mas’ud dan Huwayyishah bin Mas’ud datang ke Madinah menemui Nabi saw. dan memberitahu tentang peristiwa itu. Ketika Abdurrahman membuka pembicaraan, Rasulullah menyela dan bersabda: “Dahulukanlah orang tua, dahulukanlah orang tua.” Abdurrahman yang termuda, maka iapun diam, lalu Muhayyishah dan Huwayyishah berbicara. Beliau bersabda: “Apakah kamu mau bersumpah dan menuntut hak kepada pembunuhnya?” (Hadits ini masih ada terusannya) (HR. Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia bersabda: Nabi saw. mengumpulkan dua orang yang mati terbunuh dalam perang Uhud dan dalam satu liang kubur, kemudian beliau bersabda: “Yang mana di antara keduanya yang lebih banyak mengerti tentang al-Qur’an?” Tatkala ada seseorang yang menunjuk kepada salah satunya, maka beliau mendahulukannya (orang yang lebih banyak mengerti tentang al-Qur’an) ke dalam liang lahad.” (HR Bukhari)
Dari Umar ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Dalam tidurku aku bermimpi bahwa aku sedang bersiwak (bersuci) dengan sebatang kayu siwak, lalu datang dua orang laki-laki. Salah seorang diantaranya lebih tua dari yang lain. Lalu aku memberikan siwak kepada yang lebih muda. Kemudian berkata kepadaku: “Dahulukan yang lebih tua!” Akupun memberikan siwak itu kepada yang lebih tua.” ()
Dari Abu Musa ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya termasuk mengagungkan kehormatan Allah dengan memuliakan orang Islam yang tua usia, orang yang pandai tentang al-Qur’an dan tidak sombong dan tidak mengabaikannya, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR Abu Daud)
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak termasuk golonganku orang yang tidak belas kasih terhadap yang lebih muda dan tidak mau menghormati orang yang lebih tua.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Maimun bin Abi Syabib, ia berkata: Ada seorang pengemis lewat di depan Aisyah, maka ia memberinya sepotong roti. Kemudian datang lagi seorang peminta-minta yang berpakaian compang-camping dan berperilaku sopan kemudian ia mempersilakannya duduk dan disuruh makan. Ketika ia ditegur tentang sikapnya, maka ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: ‘Tempatkanlah manusia itu sesuai dengan kedudukannya.’” (HR Abu Daud)
Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Uyainah bin Hishn datang ke tempat keponakannya al-Hurr bin Qais dan menginap. Al-Hurr termasuk orang-orang yang dekat dengan Umar ra. karena Umar memang menjadikan orang-orang yang pandai tentang al-Qur’an sebagai teman duduk dan teman musyawarah, baik tua maupun muda, maka Uyainah berkata kepada al-Hurr: “Hai keponakanku, kamu adalah orang yang dekat dengan Amirul Mukminin (Umar), maka mintakan aku izin untuk menghadapinya.” Al-Hurr pun memintakan izin untuk Uyainah kemudian Uyainah masuk dan berkata: “Wahai putera al-Khaththab, demi Allah engkau tidak memperhatikan kami dan tidak mengadili kami dengan adil.” Mendengar hal itu mendadak Umar ra. marah, hampir saja ia memukulnya. Kemudian al-Hurr berkata: “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi-Nya: khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’rid ‘anil jaaHiliin (“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.”) Demi Allah Umar ra. seolah-olah belum pernah mendengar ketika ayat itu dibaca, padahal Umar adalah orang yang paling jeli terhadap kitab Allah Ta’ala.” (HR Bukhari)
Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub ra. ia berkata: Pada masa Rasulullah saw. aku masih muda belia. Aku selalu hafal apa yang datangnya dari Rasulullah. Beliau tidak mencegahku berbicara, kecuali jika di sana ada orang-orang yang lebih tua dariku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang muda yang memuliakan orang yang tua karena usianya, kelak Allah akan membalas kepadanya, yaitu orang-orang muda akan memuliakannya apabila ia telah tua.” (HR Tirmdizi)
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (al-Kahfi: 60)
Sampai pada firman-Nya: “Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya.” (al-Kahfi: 28)
Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra. seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman itu membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.” (HR Muslim)
Iman
Aqidah Islam
Iman secara bahasa adalah: membenarkan/jujur
Iman secara istilah/syar’i adalah: membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Atau, iman adalah: ucapan, perbuatan dan niat. Bertambah dengan ketakwaan dan berkurang dengan kemaksiatan.
Rasulullah saw. bersabda: “Iman bukanlah sekedar angan-angan dan bukan pula pemanis bibir, tapi iman adalah apa yang terpatri dalam hati/qalbu dan dibenarkan oleh amal perbuatan.
Di antara sifat-sifat orang beriman berdasarkan surat al-Anfaal ayat 2-4: sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang:
1. Bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka
2. Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka [karenanya],
3. Hanya kepada Allah mereka bertawakal
4. Mendirikan shalat
5. Yang menafkahkan sebagian rizky yang Allah berikan kepada mereka
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya, mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rizky [nikmat] yang mulia.
Berdasarkan surat al-Hujuraat ayat 15; sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang:
1. Percaya [beriman] kepada Allah dan Rasul-Nya
2. Mereka tidak ragu-ragu
3. Mereka berjuang [berjihad] dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.
Mereka itulah orang-orang yang benar.
Sebab-sebab yang bisa meningkatkan iman:
1. Ilmu
Dengan ilmu pengetahuan, terutama ilmu-ilmu tentang Allah swt dan sifat-sifat-Nya serta ciptaan-Nya akan bisa menambah keimanan seseorang. Allah berfirman: “Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Mahapengampun.
2. Memperhatikan dan memikirkan tanda-tanda kekuasaan Allah.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali ‘Imraan: 19)
3. Mengerjakan amal-amal ketaatan dan kewajiban untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. sesungguhnya iman akan bertambah dengan amal-amal ketaatan, dan dan ini sangat ditentukan oleh: 1) husnul amal [kwalitas amal] semakin berkwalitas maka semakin banyak dalam meningkatkan keimanan. 2) jinsul amal (jenis amal), semakin bagus jenis amal, maka semakin besar peluang untuk meningkatkan iman. 3) katsrotul amal (jumlah amal), semakin banyak amal tanpa mengabaikan kwalitas, maka semakin banyak dalam meningkatkan keimanan.
4. Meninggalkan kemaksiatan karena takut kepada Allah.
Iman akan bertambah dengan meninggalkan kemaksiatan, dan itu sangat ditentukan oleh beberapa hal: 1) jinsul ma’shiyah [jenis kemaksiatan yang ditinggalkannya] semakin jelek suatu kemaksiatan yang ditinggalkannya, maka semakin besar potensi untuk menambah iman. 2) adadul ma’shiyah [jumlah kemaksiatan yang ditinggalkannya]. 3) Quwwatud da’i ilal ma’shiyah [kekuatan daya tarik kemaksiatan yang ditinggalkannya].
Tanda-tanda Keimanan
Aqidah Islam
1. Mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segala-galanya.
Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang barang siapa memilikinya akan merasakan nikmatnya iman: 1) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari yang lainnya 2) ketika mencintai seseorang tidak ada tujuan lain kecuali karena Allah swt. 3) benci kembali kepada kekufuran sebagaimana dia benci kalau dilempar ke dalam api neraka.
2. Sambutan yang sempurna terhadap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar Rasul menghukum [mengadili] di antara mereka ialah ucapan: ‘Kami mendengar, dan kami patuh.’ Dan itulah orang-orang yang beruntung.” (an-Nuur: 15)
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisaa’: 65)
Dari Ibnu Abbas: Sesungguhnya Rasulullah saw. melihat cincin emas di jari tangan seseorang lalu Rasulullah mencabut cincin tersebut lalu membuangnya dan berkata: “Apakah salah seorang dari kalian sengaja mengambil bara api lalu menaruhnya di tangannya?” ketika Rasulullah sudah pergi ada seseorang berkata kepada orang tersebut: “Ambillah cincinmu dan gunakan untuk hal lain.” Dia mengatakan: “Tidak, demi Allah selamanya aku tidak akan mengambilnya karena Rasulullah saw. sudah membuangnya.”
3. Cinta dan benci karena Allah.
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, Sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. meraka Itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan[*] yang datang daripada-Nya. dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. mereka Itulah golongan Allah. ketahuilah, bahwa Sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujaadilah: 22)
[*] yang dimaksud dengan pertolongan ialah kemauan batin, kebersihan hati, kemenangan terhadap musuh dan lain-lain.
Dari Abi Umamah al-Bahili, Rasulullah saw. bersabda: “Barangisapa yang cinta karena Allah dan benci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan [tidak memberi] karena Allah maka dia telah menyempurnakan keimanannya.” (HR Abu Dawud)
4. Lebih mengutamakan akhirat atas dunia.
“ Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, Maka Sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). dan Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, Maka Sesungguhnya syurgalah tempat tinggal(nya).” (an-Naazi’aat: 37-41)
5. Memakmurkan masjid.
“hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari Kemudian, serta tetap mendirikan shalat, emnunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, Maka merekalah orang-orang yang diharapkan Termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang,” (an-Nuur: 36)
6. Mencintai ketaatan dan membenci kemaksiatan.
Rasulullah saw. bersabda: “Jika kebaikanmu membuat kamu senang dan bahagia dan kejelekanmu membuat kamu sedih maka kamu adalah mukmin.”
7. Ridla terhadap qadla dan qadar Allah.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)
Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah menimpa seorang mukmin –meskipun hanya duri yang menusuk- kecuali Allah swt. menjadikan dengannya kebaikan [pahala] baginya dan menghapus dengannya kesalahannya.”
Berteman dengan Orang Shalih (1)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (al-Kahfi: 60)
Sampai pada firman-Nya: “Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya.” (al-Kahfi: 28)
Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra. seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman itu membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: ‘Hendak kemanakah engkau?’ Ia menjawab: ‘Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.’ Malaikat itu bertanya: ‘Apakah engkau merasa berhutang budi sehingga engkau mengunjunginya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah Ta’ala.’ Malaikat itu berkata: ‘Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena Allah.’” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang memuji dan mendoakannya: ‘Bagus engkau dan bagus pula perjalananmu, maka surgalah tempatmu.’” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak kepadanya, paling tidak engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau tidak enak darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pilihlah perempuan yang akan dinikahi karena empat perkara: hartanya, derajatnya, kecantikannya atau karena agamanya. Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang kepada kami?” maka turunlah ayat: “Wa maa natanazzalu illaa bi amri rabbika laHuu maa baina aidiinaa wa maa khalafnaa wa maa baina dzaalika (dan tidaklah kami [Jibril] turun, kecuali dengan perintah Rabb-mu. Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di hadapan kita, di belakang kita dan di antara keduanya.)” (HR Bukhari)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang di antara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi saw. tentang seorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka, maka beliau menjawab: ‘Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.’”
Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah saw. balik bertanya: “Bekal apakah yang sudah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab: “Mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai [nanti di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman: “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada muridnya: ‘Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.’” (al-Kahfi: 60)
Sampai pada firman-Nya: “Musa berkata kepada Khidhir: “Bolehkah aku mengikutimu supaya engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (al-Kahfi: 66)
Allah berfirman: “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabb-nya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridlaan-Nya.” (al-Kahfi: 28)
Dari Anas ra. ia berkata: Ketika Rasulullah saw. wafat, Abu Bakar mengajak Umar ra. seraya berkata: “Mari kita berkunjung ke tempat Ummu Aiman ra. sebagaimana Rasulullah sering mengunjunginya.” Ketika keduanya sampai di tempat Ummu Aiman, wanita itu menangis. Keduanya berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, bukankah apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik?” Ia menjawab: “Saya menangis bukan karena itu, saya tahu bahwa apa yang disediakan Allah untuk Rasul-Nya sangat baik. Saya menangis karena wahyu dari langit telah terputus.” Perkataan Ummu Aiman itu membuat keduanya terkesan, sehingga membuat mereka menangis.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya ada seseorang yang akan berkunjung ke tempat saudaranya yang berada di desa lain, kemudian Allah Ta’ala mengutus malaikat untuk mengujinya. Setelah malaikat itu berjumpa dengannya, ia bertanya: ‘Hendak kemanakah engkau?’ Ia menjawab: ‘Saya akan berkunjung ke tempat saudaraku yang berada di desa itu.’ Malaikat itu bertanya: ‘Apakah engkau merasa berhutang budi sehingga engkau mengunjunginya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, saya mengunjungi dan mencintainya karena Allah Ta’ala.’ Malaikat itu berkata: ‘Sesungguhnya saya adalah utusan Allah untuk menjumpaimu, dan Allah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena Allah.’” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada dua malaikat yang memuji dan mendoakannya: ‘Bagus engkau dan bagus pula perjalananmu, maka surgalah tempatmu.’” (HR Tirmidzi)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya perumpamaan orang yang bergaul dengan orang saleh dan orang jahat, seperti orang yang bergaul dengan orang yang membawa minyak kasturi dan orang yang meniup api. Orang yang membawa minyak kasturi, mungkin memberi minyak kepadamu atau membeli minyak kepadanya, paling tidak engkau mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan orang yang meniup api, mungkin ia akan membakar kainmu atau kamu akan mendapatkan bau tidak enak darinya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pilihlah perempuan yang akan dinikahi karena empat perkara: hartanya, derajatnya, kecantikannya atau karena agamanya. Utamakanlah agamanya niscaya kamu beruntung.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia berkata: Nabi saw. bertanya kepada Jibril as.: “Apa yang mencegahmu untuk sering datang kepada kami?” maka turunlah ayat: “Wa maa natanazzalu illaa bi amri rabbika laHuu maa baina aidiinaa wa maa khalafnaa wa maa baina dzaalika (dan tidaklah kami [Jibril] turun, kecuali dengan perintah Rabb-mu. Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di hadapan kita, di belakang kita dan di antara keduanya.)” (HR Bukhari)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian berteman kecuali dengan orang yang beriman dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seseorang bisa terpengaruh oleh agama sahabat karibnya. Oleh sebab itu, perhatikanlah salah seorang di antara kamu dengan siapa ia bergaul.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. bersabda: “Seorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi saw. tentang seorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka, maka beliau menjawab: ‘Ia akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya.’”
Dari Anas ra., sesungguhnya ada seorang Badui bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah saw. balik bertanya: “Bekal apakah yang sudah engkau siapkan untuk menghadapinya?” Ia menjawab: “Mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Beliau bersabda: “Engkau akan bersama-sama dengan orang yang engkau cintai [nanti di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)
Berteman dengan Orang Shalih (2)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah saw. menjawab: “Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya [kelak di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Manusia itu berbeda-beda dalam watak dan baik dan buruknya, bagaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa Islam, apabila mereka memahami syariat. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenal berpisah.” (HR Muslim)
Dari Usair bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: Tatkala Umar bin al-Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: ‘Apakah ada di antara kalian yang bernama Uwais bin ‘Amr?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya lagi: ‘Apakah kamu dari Murad dan Qaran?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya: ‘Apakah kamu dulu pernah mengalami sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar kembali bertanya: ‘Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar menjelaskan: ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku.’ Kemudian dia memohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya: ‘Engkau akan kemana lagi?’ Ia menjawab: ‘Ke Kufah.’ Umar menawarkan: ‘Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil (bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?’ Ia menjawab: ‘Saya lebih senang menjadi orang biasa.’
Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar. Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais. Orang itu menjawab: “Saya meninggalkan dia dalam keadaan menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu.
Setelah pulang orang itu menemui Uwais dan berkata: “Mohonkan ampun buat diriku.” Uwais menjawab: “Sebenarnya engkaulah yang mendoakan saya, karena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.” Orang itu bertanya: “Kamu pernah bertemu Umar?” Uwais menjawab: “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang mengenalnya dan berbondong-bondong meminta agar dia memohonkan ampun untuk mereka. Melihat hal demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Usair bin Jabir ra. ia berkata: penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. di antara mereka ada yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya: “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” Maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apa-apa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang, setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian.”
Pada riwayat lain, dari Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, janganlah engkau lupakan kami dari doamu.” Umar berkata: “Itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga daripada dunia.”
Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda: “Wahai saudaraku, sertakan kami dalam doamu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Nabi saw. sering berziarah ke Kuba’ baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau shalat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap hari Sabtu Nabi saw. datang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan. Ibnu Umar juga mencontohnya.”
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Seseorang mendatangi Rasulullah saw. dan bertanya: “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum pernah bertemu dengan mereka?” Rasulullah saw. menjawab: “Seseorang itu akan bersama-sama dengan orang yang dicintainya [kelak di akhirat].” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Manusia itu berbeda-beda dalam watak dan baik dan buruknya, bagaikan tambang emas dan perak. Orang yang paling baik pada masa jahiliyah adalah orang yang terbaik pula di masa Islam, apabila mereka memahami syariat. Roh itu berkelompok-kelompok dan berpisah-pisah. Roh yang saling mengenal itu berkumpul dan yang tidak saling mengenal berpisah.” (HR Muslim)
Dari Usair bin ‘Amr (Ibnu Jabir), ia berkata: Tatkala Umar bin al-Khaththab ra. kedatangan serombongan penduduk Yaman, ia bertanya: ‘Apakah ada di antara kalian yang bernama Uwais bin ‘Amr?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya lagi: ‘Apakah kamu dari Murad dan Qaran?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar bertanya: ‘Apakah kamu dulu pernah mengalami sakit belang kemudian sembuh kecuali tinggal sebesar dirham?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar kembali bertanya: ‘Apakah engkau masih memiliki ibu?’ Ia menjawab: ‘Ya.’ Umar menjelaskan: ‘Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu. Oleh karena itu, mohonkanlah ampun buat diriku.’ Kemudian dia memohonkan ampun untuk Umar. Setelah itu Umar bertanya: ‘Engkau akan kemana lagi?’ Ia menjawab: ‘Ke Kufah.’ Umar menawarkan: ‘Bolehkah aku menulis surat kepada ‘Amil (bendaharawan) di Kufah untuk membantu kamu?’ Ia menjawab: ‘Saya lebih senang menjadi orang biasa.’
Pada tahun berikutnya, ada seorang terkemuka dari penduduk Yaman mengerjakan ibadah haji dan berjumpa dengan Umar. Kemudian Umar menanyakan kepadanya tentang Uwais. Orang itu menjawab: “Saya meninggalkan dia dalam keadaan menyedihkan, rumahnya sangat kecil dan tergolong miskin.” Umar berkata: “Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu akan kedatangan seseorang yang bernama Uwais bin ‘Amr bersama serombongan penduduk Yaman. Ciri-cirinya, ia dari Murad dan Qaran, pernah berpenyakit belang dan sembuh, kecuali sebesar dirham. Ia mempunyai ibu dan sangat berbakti kepadanya. Seandainya ia berbuat baik kepada Allah, pasti Allah akan berbuat baik kepadanya. Mintalah agar ia memohonkan ampun buat dirimu.
Setelah pulang orang itu menemui Uwais dan berkata: “Mohonkan ampun buat diriku.” Uwais menjawab: “Sebenarnya engkaulah yang mendoakan saya, karena baru pulang dari bepergian yang baik. Maka mohonkan ampun buat diriku.” Orang itu bertanya: “Kamu pernah bertemu Umar?” Uwais menjawab: “Ya.” Kemudian Uwais menyadari dan memohonkan ampun buat orang itu. Sesudah itu orang-orang mengenalnya dan berbondong-bondong meminta agar dia memohonkan ampun untuk mereka. Melihat hal demikian Uwais pergi untuk menyendiri.” (HR Muslim)
Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Usair bin Jabir ra. ia berkata: penduduk Kufah mengutus suatu rombongan untuk menghadap Umar ra. di antara mereka ada yang mengejek Uwais, kemudian Umar bertanya: “Apakah di sini ada seseorang yang berasal dari Qaran?” Maka Uwais mendekatinya, dan Umar berkata: “Rasulullah saw. bersabda: Nanti kamu kedatangan seseorang dari Yaman bernama Uwais, dia tidak meninggalkan apa-apa di Yaman selain ibu yang ditaatinya. Dia berpenyakit belang, setelah berdoa, Allah menyembuhkannya kecuali sebesar dinar atau dirham. Siapa saja di antara kamu bertemu dengannya, mintalah agar dia memohonkan ampun buat kalian.”
Pada riwayat lain, dari Umar ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik tabi’in adalah seseorang yang bernama Uwais, dia mempunyai ibu dan pernah berpenyakit belang, mintalah kalian kepadanya agar memohonkan ampun buat kamu.”
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya minta izin kepada Nabi saw. untuk mengerjakan umrah. Beliau mengizinkanku, seraya bersabda: “Wahai saudaraku, janganlah engkau lupakan kami dari doamu.” Umar berkata: “Itu adalah suatu ungkapan yang sangat menggembirakan saya, dan ungkapan itu lebih berharga daripada dunia.”
Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda: “Wahai saudaraku, sertakan kami dalam doamu.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi)
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Nabi saw. sering berziarah ke Kuba’ baik naik kendaraan maupun berjalan. Di sana beliau shalat dua rakaat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap hari Sabtu Nabi saw. datang ke masjid Kuba’, baik berkendaraan maupun berjalan. Ibnu Umar juga mencontohnya.”
Menghukumi Menurut Dhahirnya
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Al-Qur’an dan Hadits
Allah berfirman: “Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah: 5)
Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan, maka terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dalam kewajiban Islam. Adapun perhitungan mereka terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah Thariq bin Asy-yam ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengucapkan ‘laa ilaaHa illallaaH [tidak ada Tuhan kecuali Allah] dan ingkar terhadap yang disembah kecuali Allah, maka haramlah diganggu harta dan darahnya. Adapun perhitungannya terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Muslim)
Dari Ma’bad al-Miqdad bin al-Aswad ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaima pendapatmu seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, kemudian ia menyembunyikan diri daripadaku dengan berlindung di balik pohon serta berkata: “Saya sekarang masuk Islam karena Allah.” Maka apakah boleh saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Janganlah kemu membunuhnya.” Ma’bad bertanya: “Wahai Rasulallah, ia telah memotong salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan perkataan itu.” Jawab beliau: “Janganlah kamu membunuhnya, seandainya kamu membunuhnya, maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya, dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus kami ke Huragah di suku Juhainah. Pada suatu pagi kami menyerbu mereka. Saya dan seorang shahabat Anshar, berpapasan dengan salah seorang di antar mereka. Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” (Tiada Tuhan selain Alla); shahabat Anshar tadi melepaskannya tetapi saya menikamnya dengan tombak sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw. maka beliau memanggil saya: “Hai Usamah, kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia hanya berusaha menyelamatkan diri.” Beliau bersabda: “Kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sehingga perasaan saya ingin andaikan saya baru masuk Islam hari itu.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah saw. bertanya: “Apakah ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” kemudian kamu membunuhnya?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya, sehingga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan tulus atau tidak?” Beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk Islam pada hari itu.”
Dari Jundub bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan muslimin untuk memerangi pasukan musyrik. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, ada seorang musyrik yang mendekati seorang muslim dan membunuhnya. Kemudian ada seorang muslim yang mencari lengahnya dan membunuhnya. Dan kami yakin bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedangnya orang musyrik itu mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” tetapi kemudian Usamah membunuhnya. Ketika juru kabar sampai di hadapan Rasulullah saw. ia menanyakan dan menceritakan tentang jalannya peperangan, sehingga ia menceritakan tentang bagaimana orang itu bertindak. Setelah itu beliau memanggil Usamah dan bertanya: “Kenapa kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia sangat merugikan pasukan muslimin dan ia telah membunuh fulan dan si fulan. Ia membahayakan pasukan kita. Oleh karena itu saya bermaksud untuk menyerangnya. Tetapi ketika melihat pedang, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH.” Rasulullah saw. bertanya: “Kamu terus membunuhnya?” Usamah menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” Usamah berkata: “Wahai Rasulallah, mohonkan ampun untuk diri saya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” beliau tidak bersabda apa-apa selain hanya: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab ra. berkata: “Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah saw. itu diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu itu telah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang nampak bagi kami. Maka siapa saja yang nampa berbuat baik kepada kami niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin. Allah lah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa saja yang nampak berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa batinnya (niat)nya baik.” (HR Bukhari)
Allah berfirman: “Jika mereka bertobat dan mendirikan shalat serta menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan.” (at-Taubah: 5)
Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia, sehingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Apabila mereka telah melaksanakan, maka terjagalah darah dan harta mereka, kecuali dalam kewajiban Islam. Adapun perhitungan mereka terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah Thariq bin Asy-yam ra. ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mengucapkan ‘laa ilaaHa illallaaH [tidak ada Tuhan kecuali Allah] dan ingkar terhadap yang disembah kecuali Allah, maka haramlah diganggu harta dan darahnya. Adapun perhitungannya terserah pada Allah Ta’ala.” (HR Muslim)
Dari Ma’bad al-Miqdad bin al-Aswad ra. ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaima pendapatmu seandainya saya bertemu dengan seorang kafir dan kami berperang, kemudian ia memotong salah satu tangan saya, kemudian ia menyembunyikan diri daripadaku dengan berlindung di balik pohon serta berkata: “Saya sekarang masuk Islam karena Allah.” Maka apakah boleh saya membunuhnya setelah ia mengucapkan perkataan itu wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Janganlah kemu membunuhnya.” Ma’bad bertanya: “Wahai Rasulallah, ia telah memotong salah satu tangan saya, kemudian mengucapkan perkataan itu.” Jawab beliau: “Janganlah kamu membunuhnya, seandainya kamu membunuhnya, maka ia menduduki kedudukanmu sebelum kamu membunuhnya, dan kamu menduduki kedudukannya sebelum ia mengucapkan perkataan yang diucapkannya itu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus kami ke Huragah di suku Juhainah. Pada suatu pagi kami menyerbu mereka. Saya dan seorang shahabat Anshar, berpapasan dengan salah seorang di antar mereka. Ketika kami telah mengepungnya, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” (Tiada Tuhan selain Alla); shahabat Anshar tadi melepaskannya tetapi saya menikamnya dengan tombak sehingga terbunuh. Ketika kami sampai di Madinah, berita itu telah sampai pada Nabi saw. maka beliau memanggil saya: “Hai Usamah, kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia hanya berusaha menyelamatkan diri.” Beliau bersabda: “Kenapa kamu membunuh orang padahal ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH”?” Beliau mengulang-ulang sabdanya itu sehingga perasaan saya ingin andaikan saya baru masuk Islam hari itu.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain dikatakan: Rasulullah saw. bertanya: “Apakah ia telah mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” kemudian kamu membunuhnya?” Saya menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia mengucapkan kalimat itu hanya karena takut pada pedang.” Beliau bertanya: “Apakah sudah kamu belah dadanya, sehingga kamu mengetahui isi hatinya, apakah ia mengucapkan kalimat itu dengan tulus atau tidak?” Beliau mengulang-ulangi pertanyaan itu, sehingga perasaan saya ingin untuk baru masuk Islam pada hari itu.”
Dari Jundub bin Abdullah ra. ia berkata: Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan muslimin untuk memerangi pasukan musyrik. Ketika kedua pasukan itu saling berhadapan, ada seorang musyrik yang mendekati seorang muslim dan membunuhnya. Kemudian ada seorang muslim yang mencari lengahnya dan membunuhnya. Dan kami yakin bahwa orang itu adalah Usamah bin Zaid. Ketika Usamah mengangkat pedangnya orang musyrik itu mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH” tetapi kemudian Usamah membunuhnya. Ketika juru kabar sampai di hadapan Rasulullah saw. ia menanyakan dan menceritakan tentang jalannya peperangan, sehingga ia menceritakan tentang bagaimana orang itu bertindak. Setelah itu beliau memanggil Usamah dan bertanya: “Kenapa kamu membunuhnya?” Usamah menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ia sangat merugikan pasukan muslimin dan ia telah membunuh fulan dan si fulan. Ia membahayakan pasukan kita. Oleh karena itu saya bermaksud untuk menyerangnya. Tetapi ketika melihat pedang, ia mengucapkan “Laa ilaaHa illallaaH.” Rasulullah saw. bertanya: “Kamu terus membunuhnya?” Usamah menjawab: “Ya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” Usamah berkata: “Wahai Rasulallah, mohonkan ampun untuk diri saya.” Beliau bersabda: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” beliau tidak bersabda apa-apa selain hanya: “Bagaimana kamu mempertanggungjawabkan “Laa ilaaHa illallaaH” nanti apabila hari kiamat tiba?” (HR Muslim)
Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud, ia berkata: “Saya mendengar Umar bin Khaththab ra. berkata: “Sesungguhnya manusia pada masa Rasulullah saw. itu diberi keputusan dengan petunjuk wahyu, dan sekarang wahyu itu telah terhenti. Oleh karena itu, sekarang kami memberi keputusan kepada kalian sesuai dengan perbuatan yang nampak bagi kami. Maka siapa saja yang nampa berbuat baik kepada kami niscaya kami mempercayai dan mendekatinya dan kami tidak perlu mempermasalahkan urusan batin. Allah lah yang memperhitungkan masalah batinnya. Dan siapa saja yang nampak berbuat jahat kepada kami niscaya kami tidak mempercayai dan membenarkannya walaupun ia mengatakan bahwa batinnya (niat)nya baik.” (HR Bukhari)
Langganan:
Postingan (Atom)