Kamis, 24 Oktober 2013

Muraqabah (Menjaga Diri)


Riyadhush Shalihin; Hadits-hadits tentang Muraqabah

Allah berfirman: “Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud.” (asy-Syu’ara: 218-219)

Allah berfirman: “Allah senantiasa bersama kamu sekalian dimanapun kamu berada.” (al-Hadid: 4)

Allah berfirman: “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali ‘Imraan: 5)

Allah berfirman: “Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang tersembunyi oleh hati.” (al-Mu’min: 19)

Allah berfirman: “Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi.” (al-Fajr: 14)

Dari Umar bin al-Khaththab ra, ia berkata: “Ketika kami sedang duduk didekat Rasulullah saw. tiba-tiba muncul seorang lelaki berpakaian putih, berambut hitam pekat, bekas jalannya tidak terlihat dan tidak seorangpun di antara kami yang mengenalnya. Ia duduk menghadap beliau saw. lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut Nabi dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha Nabi, seraya berkata: “Wahai Muhammad, terangkan kepadaku tentang Islam.” Rasulullah menjawab: “Islam adalah hendaknya engkau bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, memberikan zakat, berpuasa di bulan Ramadlan dan melakukan ibadah haji ke Baitullah jika memenuhi syaratnya.” Ia berkata: “Engkau benar.” Kami keheranan karenanya, dia bertanya tetapi membenarkannya. Lebih lanjut ia berkata: “Sekarang terangkanlah kepadaku tentang iman.” Rasulullah saw. menjawab: “Yaitu engkau beriman kepada Allah, kepada malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, serta engkau beriman kepada baik dan jeleknya taqdir.” Ia berkata: “Engkau benar. Selanjutnya terangkan kepadaku tentang ihsan.” Rasulullah saw. menjawab: “Yaitu hendaknya engkau beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya. Ketahuilah, bahwa Dia selalu melihatmu.” Orang itu kembali bertanya: “Beritahukan kepadaku kapan terjadinya hari kiamat.” Rasulullah saw. menjawab: “Tidaklah orang yang ditanya lebih mengetahui daripada yang ditanya.” Orang itu berkata lagi: “Kalau begitu beritahukan tanda-tanda (terjadinya) hari kiamat.” Rasulullah saw. menjawab: “Yaitu apabila budak perempuan melahirkan bayi perempuan yang akan menjadi majikannya dan engkau akan melihat orang yang asalnya tidak bersandal, telanjang, papa, penggembala kambing, menjadi orang-orang yang saling berlomba meninggikan bangunan rumahnya.” Kemudian orang itu berlalu. Kami terdiam beberapa saat. Lalu Rasulullah bertanya: “Hai Umar, tahukah engkau siapa yang bertanya tadi?” Umar menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah saw. memberitahukan: “Dia adalah Jibril. Ia datang untuk mengajari kalian tentang agama Islam.” (HR Muslim)

Dari Abu Dzar bin Junadah dan Abu Abdurrahman Muadz bin Jabal ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Bertakwalah kepada Allah dimana saja engkau berada. Sertailah (tutuplah) kejelekan itu dengan kebaikan, niscaya kebaikan tadi akan menghapus kejelekan, dan gaulilah manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Kali tertentu saya berada di belakang Nabi saw. kemudian beliau bersabda: “Hai anak kecil, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, yaitu: ‘Jagalah (perintah) Allah, niscaya Dia akan menjaga dirimu. Jagalah (larangan) Allah niscaya dapati Allah selalu di hadapanmu. Jika engkau minta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah. Dan ketahuilah, jika umat manusia bersatu untuk memberikan manfaat (kebaikan) kepadamu niscaya mereka tidak akan dapat melakukan hal itu kepadamu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah kepadamu. Dan jika mereka bersatu hendak mencelakakan dirimu niscaya mereka tidak akan dapat mencelakakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah ditentukan Allah kepadamu. Telah diangkat pena dan telah keringlah (tinta) lembaran-lembaran itu.” (HR Tirmidzi)

Dalam riwayat selain Tirmidzi dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Peliharalah (perintah) Allah niscaya engkau akan menemui-Nya di hadapanmu. Hendaklah engkau mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingatmu di waktu susahmu. Ketahuilah, sesungguhnya sesuatu yang seharusnya luput mengenaimu, tentulah sesuatu itu tidak akan mengenaimu. Ketahuilah, sesungguhnya kemenangan itu diserta kesabaran, kesenangan itu ada kesudahan, dan kesudahan kesulitan pasti ada kemudahan.”

Dari Anas ra, ia berkata: “Sesungguhnya kalian sekarang melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat mudah, padahal pada masa Rasulullah saw. perbuatan-perbuatan semacam itu kami anggap termasuk hal-hal yang merusak agama.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala cemburu; dan kecemburuan Allah Ta’ala yaitu, apabila ada seseorang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan-Nya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, ia mendengar Nabi saw. bersabda: “Ada tiga orang bani Israil yang mempunyai penyakit belang, botak dan buta. Kemudian Allah hendak menguji mereka, maka Allah mengutus malaikat kepada mereka. Malaikat itu datang kepada si belang dan berkata: “Apakah yang paling engkau inginkan?” si belang menjawab: “Saya menginginkan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakitku yang menjadikan orang-orang jijik melihatku. Malaikat itu kemudian mengusap si belang, kemudian hilanglah penyakit yang menjijikkannya, ia juga diberi paras yang tampan dan kulit yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling kamu senangi?” si belang menjawab: “Unta.” Ada yang mengatakan “Sapi.” Kemudian ia diberi unta yang sedang bunting sepuluh bulan, dan malaikat tadi berkata: “Semoga Allah memberi berkah atas rahmat yang kamu terima.”
Kemudian malaikat mendatangi si botak, dan bertanya: “Apakah yang paling engkau inginkan?” si botak menjawab: “Rambut yang rapi dan hilangnya penyakitku, yang menyebabkan orang-orang jijik kepadaku.” Malaikat itu lalu mengusap si botak dan hilanglah penyakitnya, serta tumbuhlah rambut yang rapi. Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling engkau senangi?” si botak menjawab: “Sapi.” Malaikatpun memberinya sapi yang sedang bunting. Dan ia berkata: “Semoga Allah memberi berkah atas rahmat yang kamu terima.”
Selanjutnya malaikat itu mendatangi si buta dan bertanya: “Apakah yang paling kamu inginkan?” si buta menjawab: “Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang.” Malaikat itu lantas mengusap si buta dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: “Harta apakah yang paling engkau senangi?” si buta menjawab: “Kambing.” Kemudian ia diberi kambing yang sedang bunting.
Selang beberapa tahun, unta, sapi dan kambing berkembang biak yang akhirnya unta itu memenuhi suatu lapangan, demikian pula sapi dan kambing. Kemudian malaikat tadi datang kepada si belang yang menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin, yang kehabisan bekal di tengah-tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberikan pertolongan kepada saya kecuali Allah, saya harap engkau mau memberikan pertolongan. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu dengan menyebut yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang halus serta harta kekayaan, dan saya minta seekor unta untuk bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.” Si belang berkata: “Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak, saya tidak bisa membekali apa-apa.” Malaikat itu berkata: “Kalau tidak salah saya kenal dengan kamu. Bukankah kamu dulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu. Bukankah kamu dulu orang miskin kemudian Allah memberi rahmat kepadamu?” si belang berkata: “Harta kekayaan ini adalah dari nenek moyang.” Malaikat itu berkata: “Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula.” Kemudian malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak, dan berkata seperti yang dikatakan kepada si Belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang. Kemudian malaikat itu berkata: “Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti semula.” Malaikat tadi terus ke tempat si buta dengan menyerupai orang yang buta seperti keadaan si buta waktu itu, dan berkata: “Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah-tengah perjalanan dan sampai hari ini tidak ada yang mau memberikan pertolongan kepada saya kecuali Allah, saya berharap mudah-mudahan kamu mau memberikan pertolongan. Saya benar-benar minta pertolongan kepadamu dengan menyebut yang telah mengembalikan penglihatanmu, dan saya minta satu ekor kambing untuk bekal di dalam melanjutkan perjalanan saya.” Si buta berkata: “Saya dahulu adalah orang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Agung.” Malaikat itu berkata: “Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu hanyalah diuji dan Allah benar-benar ridla kepadamu dan Allah telah memurkai kedua temanmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Ya’la Syaddad bin Aus ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang yang cerdik adalah orang yang selalu menjaga dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedangkan orang yang kerdil yaitu orang yang hanya mengikuti hawa nafsunya tetapi ia mengharapkan berbagai harapan kepada Allah.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Termasuk kesempurnaan Islam seseorang, apabila ia meninggalkan yang tidak bermanfaat bagi dirinya.” (HR Tirmidzi)

Takwa


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits tentang Takwa

Allah Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya.” (Ali ‘Imraan: 102)

Allah berfirman: “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (at-Taghaabun: 16)

Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar.” (al-Ahzab: 70)

Allah berfirman: “Siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan keluar. Dan memberinya risky dari arah yang tiada disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)

Allah berfirman: “ Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqaanan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Anfaal: 29)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: ada beberapa orang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, siapakah orang yang paling mulia?” Rasulullah saw. menjawab: “Orang yang paling bertakwa.” Para shahabat berkata: “Bukan itu yang kami tanyakan.” Rasulullah saw. bersabda: “Kalau begitu, Yusuf adalah Nabi Allah yang mempunyai silsilah bagus, yakni: Yusuf bin Ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim.” Para shahabat berkata: “Bukan hal itu yang kami tanyakan.” Rasulullah balik bertanya: “Apakah yang kalian tanyakan itu berkenaan dengan keturunan Arab yang baik? Kalau demikian, maka orang yang mulia adalah orang Arab yang baik budi pekertinya di zaman jahiliyah dan baik budi pekertinya ketika Islam, dan mereka memahami agama Islam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia itu manis dan indah, dan sesungguhnya Allah menguasakan kepada kalian untuk mengelola yang ada di dalamnya, kemudian Allah mengawasi apa yang kalian perbuat. Maka hati-hatilah kalian terhadap dunia dan wanita. Sesungguhnya bencana yang pertama kali timbul pada Bani Israil adalah karena wanita.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkta: Nabi saw sering berdoa: “AllaaHumma innii as alukal Hudaa wattuqaa wal ‘afafa wal ghinaa (Ya Allah, sungguh aku mohon kepada-Mu semoga Engkau berkenan memberikan petunjuk, ketakwaan, kehati-hatian dan perasaan cukup)” (HR Muslim)

Dari Abu Tharif ‘Adiy bin Hatim ath-Tha’if ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang bersumpah, kemudian dia beranggapan dengan sumpahnya itu dia telah bertakwa kepada Allah maka hendaklah dia melaksanakan sesuatu yang menunjang ketakwaannya.” (HR Muslim)

Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. berkhutbah pada haji Wada’: “Bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, shalatlah kalian lima kali sehari semalam, berpuasalah pada bulan Ramadlan, tunaikanlah zakat harta bendamu serta patuhlah kepada pemimpin-pemimpin kalian, maka kalian akan masuk surga.” ()

Yakin dan Tawakal (1)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits tentang Yakin dan Tawakal

Allah berfirman: “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata : “Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita”. dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan.” (al-Ahzab: 22)

Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung”. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali Imraan: 173-174)

Allah berfirman: “Dan bertawakallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati.” (al-Furqaan: 58)

Allah berfirman: “Karena itu, hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (Ali Imraan: 122)

Allah berfirman: “Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 3)

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.” (al-Anfaal: 2)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ditampakkan kepadaku umat-umat terdahulu. Kulihat ada seorang Nabi yang disertai dengan rombongan kecil, ada pula Nabi yang disertai dengan satu dua orang saja, bahkan ada seorang Nabi yang tanpa pengikut seorangpun. Kemudian tampak satu rombongan besar yang aku sangka mereka adalah umatku, akan tetapi dikatakan kepadaku: ‘Ini adalah Musa dan kaumnya tetapi lihatlah ke ufuk sana.’ Kemudian aku melihat ke ufuk itu. Tiba-tiba aku melihat satu rombongan besar, lantas dikatakan kepadaku: ‘Lihatlah ke ufuk lain.’ Disana aku melihat rombongan yang lebih besar lagi, kemudian dikatakan kepadaku: ‘Itulah umatmu yang di dalamnya terdapat tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa lebih dulu.’ Beliau kemudian bangkit dan masuk ke dalam rumah.
Orang-orang ramai membicarakan tentang orang-orang yang akan masuk surga tanpa dihisab dan disiksa. Salah seorang dari mereka berkata: “Mungkin saja mereka adalah shahabat-shahabat Rasulullah saw.” dan ada pula yang berkata: “Mungkin saja mereka adalah orang-orang yang dilahirkan dalam keadaan Islam dan dia tidak menyekutukan Allah.” Dan mereka menafsirkannya bermacam-macam. Kemudian Rasulullah keluar dan bersabda kepada mereka: “Apa yang sedang kalian bicarakan?” kemudian mereka menceritakannya, maka beliau bersabda: “Mereka itu adalah orang-orang yang tidak menjampi, dan mereka tidak pernah minta dijampi, mereka yang tidak meramal dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berkata: “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian berdirilah orang lain sambil berkata: “Ya Rasulullah, doakanlah kepada Allah agar saya termasuk golongan mereka.” Beliau menjawab: “Engkau telah didahului oleh ‘Ukasyah.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Ibnu Abbas ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. berdoa: “allaaHumma as-aluka aslamtu wa bika aamantu wa ilaka tawakkaltu wa ilaika anabtu wa bika khaasamtu. allaaHumma a-‘uudzubika bi-‘izzatika laa ilaaHa illaa anta antudlil-lanii antal hayyu ladzii laa yamutu wal jinnu wal insu yamuutuun (Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan kepada-Mu saya percaya sepenuh hati, dan hanya kepada Engkau-lah saya kembali dan untuk-Mu lah saya berjuang. Ya Allah, saya berlindung dengan kemuliaan-Mu yang tiada Tuhan selain Engkau dan aku mohon agar Engkau tidak menyesatkan diriku. Engkau adalah zat yang hidup yang tidak akan pernah mati, sedang jin dan manusia semuanya akan mati.)” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: hasbunallaaH wa ni’mal wakiil, kalimat ini pernah dibaca oleh Nabi Ibrahim as. ketika beliau dilemparkan ke dalam api, dan juga dibaca oleh Nabi Muhammad saw. ketika orang-orang kafir mengatakan: ‘Sesungguhnya orang-orang Quraisy telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kalian. Oleh karena itu takutlah kalian kepada mereka.’ Akan tetapi perkataan itu malah menambah keimanan mereka serta mereka mengucapkan: hasbunallaaH wa ni’mal wakiil.” (HR Bukhari)
Pada riwayat Bukhari yang lain, bahwa Ibnu Abbas ra. berkata: “Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Nabi Ibrahim as. ketika dilemparkan ke dalam api adalah: hasbunallaaH wa ni’mal wakiil (Allah cukup menjadi Penolong bagi kami, Allah adalah sebaik-baik pelindung)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Akan masuk surga orang-orang yang mempunyai hati berpendirian seperti pendirian burung.” (HR Muslim)

Yakin dan Tawakal (2)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; Hadits-hadits tentang Yakin dan Tawakal

Dari Jabir ra. ia berkata: “Saya berperang bersama Nabi saw. menuju ke arah Najd. Tatkala Rasulullah saw. kembali kami pun ikut kembali. Di suatu lembah yang banyak pohon beduri, kami merasa lelah dan mengantuk. Rasulullah saw. pun turun dan berpencar untuk berteduh di bawah pohon, kemudian beliau menggantungkan pedangnya, sedangkan kami semua tertidur. Tiba-tiba Rasulullah saw. memanggil kami, sedangkan di dekat beliau ada seorang Badui, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya orang ini telah menghunus pedangku sewaktu aku tertidur, setelah aku terbangun pedang ini sedang terhunus di tangannya. Lalu orang itu berkata: ‘Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku?’ aku menjawab: ‘Allah (tiga kali). Kemudian orang itu tidak melakukan apa-apa dan langsung duduk.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan: Jabir berkata: “Kami bersama Rasulullah saw. berperang di Dzatur riqa’. Tatkala kami sampai pada salah satu pohon yang rindang kami meninggalkan Rasulullah saw. tiba-tiba datanglah seorang lelaki musyrik sedangkan pedang Rasulullah saw. bergantung di pohon dan laki-laki itu menghunusnya seraya betanya: “Apakah kamu takut kepadaku?” beliau menjawab: “Tidak.” Dia bertanya lagi: “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari seranganku?” beliau menjawab: “Allah.”

Dan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Bakar al-Isma’ily di dalam shahihnya dikatakan: Laki-laki itu bertanya: “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari serangan ini?” Beliau menjawab: “Allah.” Maka jatuhlah pedang itu dari tangannya, kemudian Rasulullah saw. mengambil pedang itu seraya bertanya: “Siapakah yang dapat mencegah kamu dari serangan ini?” Dia menjawab: “Jadilah engkau sebaik-baik orang yang memegang pedang.” Beliau bersabda: “Hendaklah kamu bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya saya adalah pesuruh Allah.” Ia menjawab: “Tidak. Tetapi saya berjanji tidak akan memerangi kamu dan saya tidak akan bergabung dengan orang-orang yang memerangi kamu.” Kemudian Rasulullah melepaskan orang itu dan mendatangi shahabatnya seraya berkata: “Baru saja bertemu dengan sebaik-baik manusia.”

Dari Umar ra. ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Andaikata kalian benar-benar bertakwa kepada Allah niscaya Allah akan memberikan rizky sebagaimana Dia memberikan rizky kepada burung, yaitu keluar dengan perut kosong di pagi hari dan kembali dengan perut kenyang di sore hari.” (HR Tirmidzi)

Dari Umarah al-Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Hai fulan, apabila engkau hendak tidur maka bacalah: allaaHumma aslamtu nafsii ilaika wa wajjaHtu wajHii ilaika wa fawwadtu amrii ilaika wa alja’tu dzahrii ilaika raghbatan wa raHbatan ilaika laa malja’a wa laa manjaa minka illaa ilaika aamantu bikitaabikal ladzii anzalta wa nabiyyikal ladzii arsalta (Ya Allah, saya menyerahkan diri kepada-Mu. Saya hadapkan wajahku kehadirat-Mu, saya menyerahkan segala urusanku kepada-Mu dan saya menyandarkan punggungku kepada-Mu karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat kembali dan tidak ada tempat berlindung kecuali hanya kepada-Mu. Saya percaya dengan sepenuh hati terhadap Kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan terhadap Nabi-Mu yang telah Engkau utus). Dengan membaca doa ini, apabila kalian mati pada malam itu, maka matinya dalam keadaan bersih dari dosa, dan jika kamu masih hidup sampai pagi harinya maka kamu akan memperoleh kebaikan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain yang juga diriwayatkan Bukhari dan Muslim, dari al-Barra’, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Jika engkau hendak tidur maka bewudlulah terlebih dahulu sebagaimana kamu wudlu akan shalat, kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang sebelah kanan lalu bacalah doa seperti tersebut di atas.” Ia meneruskan hadits itu seperti hadits di atas, kemudian beliau bersabda: “Dan jadilkanlah doa sebagai akhir (penghabisan) dari apa yang kamu ucapkan.”

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq Abdullah bin Utsman bin Amir bin ‘Amr bin Ka’ab bin Sa’ad bin Taim bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib al-Quraisiy at-Taimiy ra, ia ayah dan ibunya termasuk shahabat Nabi saw. ia berkata: Tatkala kami berada di gua Tsur, kami melihat kaki-kaki orang musyrik berada di atas kepala kami, kemudian saya berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang di antara mereka melihat ke bawah telapak kakinya dia pasti akan melihat kita.” Beliau menjawab: “Wahai Abu Bakar, apakah yang kamu cemaskan terhadap dua orang sedangkan Allah ketiganya?” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ummul Mukminin Ummu Salamah, nama sebenarnya adalah Hindun binti Abu Umayyah Hudzaifah al-Makhzumiyah ra, ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw. jika keluar dari rumahnya beliau berdoa: “BismillaaHi tawakkaltu ‘alallaaHi. allaaHumma innii a’uudzubika ‘an adlilla au udlalla au azilla au uzalla au adzlima au udzlima au ajHala au yujHala ‘alayya (Dengan menyebut nama Allah saya bertawakkal kepada Allah. Ya Allah, sesungguhnya saya berlindung diri kepada-Mu dari sesuatu yang menyesatkan, dari sesuatu yang menggelincirkan atau digelincirkan dari sesuatu yang menganiaya atau teraniaya, atau dari sesuatu yang membodohkan atau diperbodohkan.” (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan yang lain dengan sanad yang shahih)

Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang keluar dari rumahnya membaca: bismillaaHi tawakkaltu ‘alallaaHi walaa haula walaa quwwata illaa billaaH (Dengan menyebut nama Allah, saya bertawakal kepada Allah, tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah)” maka dikatakan kepadanya: “Kamu telah mendapat petunjuk, kamu telah dijamin, kamu dipelihara dan dijauhkan dari setan.” (HR Abu Dawud dan Tirmdzi, Nasa’i dan yang lain)

Akan tetapi dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan: “Maka setan yang satu berkata kepada setan yang lain: “Bagaimana kamu dapat menggoda orang itu sedangkan dia telah diberi petunjuk, telah dijamin dan dipelihara oleh Allah.”

Dari Anas ra. ia berkata: Pada masa Nabi saw. ada dua orang yang bersaudara, yang satu suka datang kepada Nabi saw. dan yang lain giat berusaha. Kemudian orang yang giat berusaha mengadu kepada Nabi saw. tentang keadaan saudaranya itu, lantas beliau bersabda: “Barangkali kamu mendapatkan rizky karena saudaramu.” (HR at-Tirmidzi)

Istiqamah (Teguh Pendirian)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Istiqamah

Allah berfirman: “Dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu.” (asy-Syuura: 15)

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat: 30)

Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan Kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah, Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Ahqaf: 13-14)

Dari Abu Amr, ada yang mengatakan Abi Amrah Sufyan bin Abdullah ra. ia berkata: Saya berkata kepada Rasulullah saw. “Wahai Rasulallah, ajarkanlah kepada saya suatu ucapan yang mengandung ajaran Islam dan saya tidak akan bisa menanyakan kepada orang lain selain engkau.” Beliau menjawab: “Katakanlah: saya beriman kepada Allah, kemudian teguhkanlah kamu dalam pendirian itu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Biasakanlah kalian dalam mendekatkan diri kepada Allah dan berpegang teguhlah kepada keyakinan kalian. Ketahuilah, tidak ada seorangpun di antara kalian yang selamat karena amal perbuatannya.” Para shahabat bertanya: “Tidak juga engkau wahai Rasulullah?” beliau menjawab: “Tidak juga aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya.” (HR Muslim)

Memperhatikan Kekuasaan Allah (Tadzabur)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; nash tentang tadzabur

Allah berfirman: “Katakanlah: Sesungguhnya aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu supaya kamu menghadap Allah (dengan ikhlas) berdua-dua atau sendiri-sendiri, kemudian kamu pikirkan.” (Saba’: 46)

Allah berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.” (Ali Imraan: 190-191)

Allah berfirman: “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, karena Sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan.” (al-Ghaasyiyah: 17-21)

Allah Ta’ala berfirman: “Maka tidakkah mereka bepergian di muka bumi lalu memperhatikan(nya).” (Yusuf: 109)

Berbuat Baik (Amal Shalih)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang berbuat baik

Allah berfirman: “Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan.” (Al-Baqarah: 148; al-Maaidah: 51)

Allah berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imraan: 133)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata, Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Bersegeralah kalian untuk mengerjakan amal-amal shalih, karena akan terjadi bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita, yaitu seseorang pada waktu pagi beriman tetapi pada waktu sore ia kafir, atau pada waktu sore ia beriman tetapi pada waktu paginya dia kafir, dia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia.” (HR Muslim)

Dari Abu Sirwa’ah Uqbah bin al-Harits ra. ia berkata: Aku shlat asyar di belakang Rasulullah saw. ketika di Madinah. Setelah salam, beliau cepat-cepat bangkit melangkahi barisan para shahabat menuju kamar salah satu istrinya. Para shahabat terkejut karena beliau tergesa-gesa. Setelah itu beliau keluar. Beliau heran melihat para shahabat terkejut itu, kemudian beliau bersabda: “Aku teringat sepotong emas dan aku tidak ingin terganggu karenanya maka aku menyuruh untuk membagi-bagikannya.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku meninggalkan sepotong emas yang harus aku sedekahkan tetapi tertinggal di rumah, maka aku tidak ingin emas itu menginap di tempatku.” (HR Bukhari)

Dari Jabir ra. ia berkata: Pada perang Uhud, ada seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Apakah engkau tahu dimanakah tempatku seandainya aku terbunuh?” beliau menjawab: “Di surga.” Kemudian orang itu terus melemparkan biji-biji kurma yang ada di tangannya lalu dia maju perang hingga mati terbunuh.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: ada seseorang yang datang kepada Nabi saw. dan bertanya: “Wahai Rasulallah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” beliau menjawab: “Sedekah selama kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih berkeinginan kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda, sehingga apabila nyawa sudah sampai ke tenggorokan, maka kamu akan berkata: “Untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli warisnya).” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra, ia berkata: ketika perang Uhud Rasulullah saw. mengambil pedang seraya bersabda: “Siapakah yang bersedia menerima pedang ini?” maka setiap orang mengulurkan tangannya seraya berkata: “Saya. Saya.” Beliau bersabda lagi: “Siapakah yang bersedia menerimanya dengan penuh tanggung jawab?” Maka semua orang terdiam, kemudian Abu Dujanah ra. berkata: “Saya akan menerimanya dengan penuh tanggung jawab.” Maka pedang itu olehnya untuk memenggal leher orang-orang musyrik.” (HR Muslim)

Dari Zubair bin Adiy, ia berkata: kami mendatangi Anas ra. dan mengadukan penderitaan yang kami alami dari kekejaman al-Hajjaj, kemudian Anas menjawab: ‘Sabarlah kamu semua, sesungguhnya akan datang suatu masa dimana penderitaan lebih berat lagi, sehingga kamu semua bertemu dengan Rabb-mu (meninggal dunia). Saya mendengar hal itu dari Rasulullah saw.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Bersegeralah kalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh perkara. Apakah kamu menantikan kemiskinan yang dapat melupakan, kekayaan yang dapat menimbulkan kesombongan, sakit yang dapat mengendorkan, tua renta yang dapat melemahkan, mati yang dapat menyudahi segala-galanya, atau menunggu datangnya Dajjal, padahal ia adalah sejelek-jelek sesuatu yang ditunggu, atau menunggu datangnya hari kiamat padahal kiamat adalah sesuatu yang amat berat dan amat menakutkan.” (HR Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. ketika perang Khaibar berkata: “Aku benar-benar akan menyerahkan panji ini kepada seseorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan Allah akan memberikan kemenangan melalui tangannya.” Umar ra. berkata: “Saya tidak begitu antusias menjadi pemimpin kecuali hari ini. Maka saya menampakkan diri dengan harapan supaya dipanggil oleh Nabi.” Akan tetapi Nabi saw. memanggil Ali bin Abi Thalib dan menyerahkan panji itu kepadanya seraya bersabda: “Majulah kamu ke depan dan janganlah kamu menoleh ke belakang sebelum Allah memberi kemenangan kepadamu.” Kemudian Ali melangkah beberapa langkah lalu berhenti tetapi tidak menoleh ke belakang dan berteriak: “Wahai Rasulullah, siapakah yang harus aku perangi?” Beliau menjawab: “Perangilah mereka, sehingga mereka mau bersaksi, bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah. Apabila mereka telah bersaksi, berarti terpelihara harta dan darah mereka kecuali dengan haknya, adapun mengenai perhitungan amal mereka terserah kepada Allah.” (HR Muslim)