Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mempunyai hewan yang akan dikurbankan, apabila bulan Dzul Hijjah telah masuk, janganlah sekali-sekali ia mengambil (memotong) sedikitpun bulu dan kuku-kukunya sampai hewan itu disembelih.” (HR Muslim)
Sabtu, 26 Oktober 2013
Merawat Hewan Kurban Sebelum Disembelih
Dari Ummu Salamah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa mempunyai hewan yang akan dikurbankan, apabila bulan Dzul Hijjah telah masuk, janganlah sekali-sekali ia mengambil (memotong) sedikitpun bulu dan kuku-kukunya sampai hewan itu disembelih.” (HR Muslim)
Penampilan Rambut
Larangan menyemir rambut dengan warna hitam:
Dari Jabir ra. ia berkata: “Pada hari penaklukan kota Makkah, Abu Qahafah ayah Abu Bakar ash-Shiddiq dihadapkan kepada Rasulullah saw., dimana rambut kepala dan jenggotnya seperti bunga matahari karena putihnya. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Ubahlah warna rambut itu, tetapi jauhilah warna hitam.” (HR Muslim)
Larangan membuat jambul:
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Rasulullah saw. melarang untuk membuat jambul.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. melihat seorang anak yang sudah dicukur sebagian rambutnya dengan sebagian yang lain dibiarkannya, kemudian beliau melarang manusia untuk berbuat seperti demikian serta beliau bersabda: “Cukurlah semuanya atau biarkanlah semuanya.” (HR Abu Dawud)
Dari Abdullah bin Ja’far ra. bahwasannya Nabi saw. telah memberikan kesempatan tiga hari kepada keluarga Ja’far. Setelah tiga hari beliau mendatangi mereka dan bersabda: “Janganlah kalian menangisi saudaraku lagi setelah hari ini.” Kemudian beliau bersabda: “Panggillah kemari anak-anak saudaraku.” Maka kami dihadapkan kepada beliau seakan-akan kami adalah anak kecil. Beliau lantas bersabda: “Panggillah tukang cukur.” Kemudian beliau menyuruh untuk mencukur rambut kepala kami. (HR Abu Dawud)
Dari Ali ra. ia berkata: Rasulullah saw. melarang orang perempuan mencukur rambut kepalanya.” (HR Nasa’i)
Haram menyambung rambut, membuat tahi lalat dan meratakan gigi:
Firman Allah: “Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala[349], dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka, yang dila’nati Allah dan syaitan itu mengatakan: “Saya benar-benar akan mengambil dari hamba-hamba Engkau bahagian yang sudah ditentukan (untuk saya)[350], dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka dan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya[351], dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka meubahnya[352]“. Barangsiapa yang menjadikan syaitan menjadi pelindung selain Allah, Maka Sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.” (an-Nisaa’: 117-119)
[349] Asal makna Inaatsan ialah wanita-wanita. patung-patung berhala yang disembah Arab Jahiliyah itu biasanya diberi nama dengan Nama-nama perempuan sebagai Laata, Al Uzza dan Manah. dapat juga berarti di sini orang-orang mati, benda-benda yang tidak berjenis dan benda-benda yang lemah.
[350] Pada tiap-tiap manusia ada persediaan untuk baik dan ada persediaan untuk jahat, syaitan akan mempergunakan persediaan untuk jahat untuk mencelakakan manusia.
[351] Menurut kepercayaan Arab jahiliyah, binatang-binatang yang akan dipersembahkan kepada patung-patung berhala, haruslah dipotong telinganya lebih dahulu, dan binatang yang seperti ini tidak boleh dikendarai dan tidak dipergunakan lagi, serta harus dilepaskan saja.
[352] Meubah ciptaan Allah dapat berarti, mengubah yang diciptakan Allah seperti mengebiri binatang. ada yang mengartikannya dengan meubah agama Allah.
Dari Asma’ ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Orang yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.”
Dari ‘Aisyah ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya kepada Nabi saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya putriku tertimpa sakit panas sehingga rambutnya rontok dan saya akan segera menikahkannya, maka apakah boleh saya menyambung rambutnya?” Beliau menjawab: “Allah melaknat orang yang menyambung rambut dan yang disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dai Humaid bin Abdurrahman bahwasannya pada musim haji ia mendengar Mu’awiyah ketika berkhutbah di atas mimbar dimana ia menerima ikatan rambut dari tangan pengawalnya, kemudian ia berkata: “Wahai ahli Madinah, dimanakah ulama-ulama kalian? Saya mendengar Nabi saw. melarang ikatan rambut semacam ini, serta mendengar beliau bersabda: ‘Sesungguhnya kebiasaan Bani Israil adalah ketika para wanitanya mempergunakan ikatan rambut.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. mengutuk orang yang menyambung rambut dan orang yang disambung rambutnya, serta orang yang membuat tahi lalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra. bahwasannya ia berkata: Allah mengutuk orang yang membuat tahi lalat dan orang yang minta dibuatkan tahi lalat, orang yang mengerok alisnya dan orang yang memangkur (Menggosok dengan gerinda agar rata) giginya dengan maksud untuk memperindah dengan merubah ciptaan Allah.” Kemudian ada seorang perempuan menegurnya, maka Ibnu Mas’ud berkata: “Mengapa saya tidak mengutuk orang yang dikutuk oleh Rasulullah saw. sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman: “Apapun yang disampaikan oleh Rasul kepadamu maka laksanakanlah, dan apapun yang dilarangnya maka jauhilah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya ra. dari Nabi saw. bahwasannya beliau bersabda: “Janganlah kalian mencabut uban karena sesungguhnya uban itu merupakan cahaya orang Islam nanti pada hari kiamat.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi dan Nasa’i)
Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan tuntunan kami maka perbuatannya itu ditolak (tidak akan diterima).” (HR Muslim)
Makruh Menyebut Anggur dengan Karm
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kalian menyebut anggur dengan karm, karena sesungguhnya karm itu adalah orang yang beragama Islam.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Karena sesungguhnya karm itu adalah hatinya orang yang beriman.”
Dalam hadits lain yang diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim dikatakan: “Mereka mengatakan ‘Karm’, sesungguhnya karm itu adalah hatinya orang beriman.”
Dari Wail bin Hujr ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Janganlah kalian mengatakan karm, tetapi katakanlah dengan ‘inab dan hablah.” (HR Muslim)
Cobaan
1. Menurut bahasa: berasal dari kata “al-bala’” yang berarti ujian
2. Menurut istilah: Mengetahui dan mengenali orang yang sedang diuji apakah dia dalam ketaatan atau kemaksiatan, dengan memberikan beban, baik berupa kesengsaraan maupun kesenangan.
Urgensi Pembahasan Cobaan
1. Mempersiapkan dan mengokohkan jiwa. Rasulullah bersabda: “Surga itu diliputi oleh hal-hal yang dibenci dan neraka itu diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.”
2. Sebagai terapi bagi jiwa-jiwa yang lemah dalam menghadapi pahitnya kesabaran dan beratnya ujian. Dari Khabbab bin Art berkata: “Kami mengadu kepada Rasulullah, kami berkata: ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau tidak meminta pertolongan. Mengapa engkau tidak berdoa untuk kami?’ Rasulullah bersabda: ‘Sungguh orang sebelum kalian ditanam ke dalam bumi, kemudian digergaji dari kepala hingga terbelah menjadi dua, mereka disisir dengan sisir dari besi, sehingga dipisahkan antara daging dan tulang mereka, yang demikian itu tidak menghalangi mereka dalam menjalankan agama. Demi Allah, pasti Allah akan menyempurnakan agama ini, sehingga orang yang bepergian dari San’a sampai hadramaut tidak takut kecuali pada Allah dan serigala atas kambing-kambing mereka. Akan tetapi kalian tergesa-gesa.’” (HR Bukhari)
3. Meluruskan orientasi dan meningkatkan kualitas jiwa. Allah berfirman: “17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS 24: 17)
4. Mengetahui sunnatullah dalam kehidupan. Allah berfirman: “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS 67: 2) dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS 2: 155)
Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling berat cobaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian selanjutnya dan selanjutnya, seorang diuji sesuai dengan kadar imannya, jika imannya kuat maka ujiannya berat. Jika agamanya lemah maka ujiannya ringan. Ujian akan senantiasa menyertai seorang hamba, hingga hamba tersebut berjalan di atas bumi dan dia tidak memiliki kesalahan. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ahmad)
Hikmah-Hikmah Cobaan
1. Menghapus dosa dan mengangkat derajat. Rasulullah bersabda: “Apa saja yang menimpa seorang Muslim baik kesulitan, kegelisahan, kesedihan, kebimbangan dan penderitaan, hingga duri yang mengenainya, kecuali Allah akan menghapuskan dengannya akan kesalahan-kesalahannya.” (HR Bukhari Muslim)
Imam Ibnul Qayyim berkata: “Sesungguhnya Allah Ta’ala menyiapkan untuk hamba-hamba-Nya yang beriman kedudukan dalam tempat kehormatannya, dimana amal-amal mereka tidak akan sampai bahkan dan bahkan tidak mungkin sampai dalam kedudukan tersebut, kecuali melalui ujian dan cobaan. Maka Allah telah menyiapkan pada mereka sarana-sarana yang akan mengantarkan mereka pada kedudukan tersebut dengan cobaan dan ujian.”
2. Membuktikan penghambaan kepada Allah dalam suka dan duka
3. Sebagai seleksi bagi orang-orang Mukmin yang benar dan yang bohong. Allah berfirman: “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu sekarang ini, sehingga dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). dan Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang ghaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasulNya; dan jika kamu beriman dan bertakwa, Maka bagimu pahala yang besar.” (QS 3: 179)
4. Kembali kepada Allah dengan taubat. Shahabat ‘Ali berkata: “Cobaan itu tidak akan turun kecuali karena dosa, dan tidak akan diangkat kecuali dengan taubat.”
5. Mendidik jiwa dan mengokohkan kepribadian seorang Muslim.
Kiat-Kiat Menjadi Teguh Ketika Menerima Cobaan
1. Bersabar dan berusaha manyabarkan diri. Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berusaha untuk bersabar, Allah akan memberikan kesabaran. Dan tiada pemberian yang lebih baik dan lebih luas melebihi pemberian yang berupa sabar.” (HR Bukhari).
a. Menyaksikan keagungan balasan dan pahala yang akan diberikan oleh Allah
b. Memahami sepenuhnya bahwa cobaan itu akan menghapuskan dosa-dosa
c. Memahami sepenuhnya akan dampak dari dosa-dosa yang ia lakukan
d. Memahami bahwa musibah yang datang bukan untuk membinasakannya akan tetapi untuk mengujinya
e. Memahami bahwa Allah senang melihat hamba-Nya selalu istiqamah dalam beribadah kepada-Nya dalam semua keadaan, baik suka maupun duka.
2. Kembali kepada Allah dan memohon keteguhan kepada-Nya. Allah berfirman: “250. Tatkala Jalut dan tentaranya Telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS 2: 250)
3. Mengetahui tabiat jalan dakwah. Rasulullah bersabda: “Surga diliputi dengan semua yang tidak menyenangkan dan neraka diliputi dengan semua yang menyenangkan.”
4. Berdzikir kepada Allah. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (QS 8: 45).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Berkatalah orang-orang yang kafir: “Mengapa Al Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?”; demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS 25: 32)
5. Berteman dengan orang-orang yang shaleh.
Su’udzon (Buruk Sangka)
Definisi Su’udzon
a. Menurut bahasa, as-suu’u artinya:
1. Semua yang buruk atau kebalikan dari yang bagus
2. Semua yang menjadikan manusia takut, baik dari urusan dunia maupun urusan akhirat.
Adz-dzonn menurut bahasa berarti:
1. Ragu. Allah berfirman: “Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah sekali-kali tiada menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, Maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, Kemudian hendaklah ia melaluinya, Kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya.” (QS 22: 15).
2. Menyangka. Allah berfirman: “(yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika tidak tetap lagi penglihatan(mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap Allah dengan bermacam-macam purbasangka.” (QS 33: 10).
3. Tahu yang tidak yakin. Allah berfirman: “..kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah; Maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka..” (QS 59: 2).
4. Yakin. Allah berfirman: “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS 2: 45-46)
b. Su’udzon menurut istilah: prasangka yang menjadikan seseorang mensifati orang lain dengan sifat yang tidak disukainya tanpa dalil.
Su’udzon dalam Pandangan Islam
a. Haram
1. Su’udzon kepada Allah. Allah berfirman: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS 6: 116)
2. Su’udzon kepada Rasul
3. Su’udzon kepada orang-orang Mukmin yang dikenal dengan kebaikannya. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah berdosa.” (49: 12)
b. Wajib.
1. Wajib su’udzon kepada orang kafir yang terang-terangan dengan kekufurannya dan permusuhannya kepada Allah, Rasulullah dan orang-orang Mukmin yang shaleh. Allah berfirman:
“Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik (Tidak menepati perjanjian).” (QS 9: 8)
2. Su’udzon kepada orang Muslim yang dikenal terang-terangan berbuat maksiat, menghalangi jalan Allah dan tidak komitmen terhadap Islam.
Sebab- Sebab Su’udzon
1. Niatan yang buruk
2. Tidak terbiasa dalam menggunakan kaidah yang benar dalam menghukumi sesuatu. Kaidah tersebut adalah:
a. Melihat segala sesuatu dari lahiriyahnya dan membiarkan batiniahnya menjadi urusan Allah.
b. Selalu mendasarkan atas bukti-bukti
c. Memastikan kebenaran bukti-bukti tersebut
d. Bukti-bukti tersebut tidak saling bertentangan satu dengan yang lainnya.
3. Lingkungan yang buruk akhlaknya
4. Mengikuti hawa nafsu
5. Terjatuh dalam masalah syubhat
6. Tidak memperhatikan adab-adab Islam dalam berkomunikasi. Adab komunikasi adalah: a) Tidak diperbolehkan berkomunikasi berdua dan lebih baik bertiga b) Pembicaraan hendaknya dalam kebaikan dan ketaatan.
7. Mengabaikan masa kini yang baik dan hanya terpaku pada masa lalu yang buruk.
Cara Mengatasi Su’udzon
1. Membangun aqidah yang benar yang berpegang di atas prinsip husnudzon pada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin.
2. Melakukan tarbiyah dalam rangka mengokohkan aqidah dalam diri
3. Membiasakan diri untuk komitmen dengan adab-adab Islam di dalam menghukumi segala sesuatu.
4. Menjauhkan diri dari masalah-masalah subhat
5. Berusaha untuk berada dalam lingkungan yang baik
6. Mujahadah dan berusaha untuk mengendalikan hawa nafsu dan syahwat
7. Mempersepsikan manusia dengan realitas sekarang dan bukan masa lalunya
8. Senantiasa membaca buku-buku sejarah orang-orang yang shalih
Amanah (Akhlak yang Baik)
Definisi Menurut bahasa:dari kata-kata aman yaitu kebalikan dari takut. Sedangkan amanah kebalikan dari khiyanat.
Menurut istilah: perilaku yang tetap dalam jiwa, dengannya seseorang menjaga diri dari apa-apa yang bukan haknya walaupun terdapat kesempatan untuk melakukannya, tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain. Dan menunaikan kewajibannya kepada orang lain, walaupun terdapat kesempatan untuk tidak menunaikannya tanpa merugikan dirinya di hadapan orang lain.
Keutamaan amanah
Amanah adalah jalan menuju kesuksesan. Allah berfirman: “Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya.” (QS 23: 8). Dalam ayat lain Allah berfirman: “58. Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS 4: 58)
Merupakan sifat para Rasul, para Nabi, Orang-orang Mukmin dan para malaikat. Nabi Nuh berkata: “Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu (QS 26: 107). Rasulullah bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanaat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR Ahmad)
Tanda iman. Rasulullah bersabda: “Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanaat dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR Ahmad). Dalam hadits lain beliau bersabda: “Empat hal, barang siapa dalam dirinya ada empat hal itu ia munafik murni, dan barang siapa yang ada sebagian dari sifat itu, dia memiliki sebagian dari sifat nifak hingga dia meninggalkannya. Yaitu: jika dipercaya khianat, jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar dan jika berdebat dia jahat.” (HR Bukhari Muslim)
Amanat itu menandingi dunia dan isinya. Empat hal jika dia ada dalam dirimu, engkau tidak merugi walaupun kehilangan dunia. Menjaga amanah, berkata dengan jujur, berakhlak yang mulia dan menjaga makanan (dari yang haram) (HR Ahmad)
Kompeten untuk menerima tanggung jawab. Allah berfirman: “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya”. (QS 28: 26)
Ruang lingkup Amanah
Amanah fitrah. Adalah amanah besar yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah berfirman: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”,(QS 7: 172)
Amanah Dakwah. Allah berfirman: “salah seorang dari kedua wanita itu berkata: ‘Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya’”. (al-Qashas: 26). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Dawud dan ‘Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. ()
Amanah anggota badan manusia. Anggota badan merupakan amanah Allah pada Manusia, karenanya manusia harus menggunakannya untuk taat kepada-Nya, mencari ridla-Nya. Misalnya adalah amanah “mata”, Allah berfirman: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya,..” (QS 24: 30-31). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Maka Apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana Dia diciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS 88: 17-20)
Amanah dalam menunaikan hak, yang terdiri dari dua macam:
Hak Allah. Baik hak keyakinan, ucapan maupun perbuatan. Dia adalah hak yang paling besar yang merupakan prioritas paling utama untuk ditunaikan, yakni hak tauhid. Kemudian rukun-rukun Islam yang lain dan seluruh nikmat-nikmat Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh,” (QS 33: 72). Shahabat Ibnu ‘Abbas, Imam Mujahid dan adl-Dlahhak berkata: “Amanah Allah adalah seluruh kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah.”
Hak makhluk. Diantaranya adalah hak harta (hutang, sewaan, titipan) dan hak lainnya seperti menjaga kehormatan, memberi nasehat dan lain-lain.Amanah majelis. Rasulullah bersabda: “Semua majelis itu adalah amanah kecuali tiga hal, yaitu majelis penumpahan darah, majelis hubungan badan yang diharamkan dan majelis pelanggaran terhadap harta orang lain (HR Abu Dawud dan Ahmad)
Amanah keluarga. Diantaranya adalah menunaikan kewajiban keluarga. Rasulullah bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Seorang laki-laki menjadi pemimpin dalam keluarga, seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas kepemimpinannya (HR Bukhari)
Amanah kerja profesional. Rasulullah bersabda: “Setiap pengkhianat akan mendapatkan bendera di belakang (punggung). Panjang dan pendek bendera itu sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ketahuilah bahwa pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan seorang pemimpin terhadap rakyatnya (HR Bukhari)
Amanat kepemimpinan. Abu Dzar berkata: “Wahai Rasulullah jadikanlah saya sebagai pemimpin.” Maka Rasulullah menepuk pundaknya sambil berkata: “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah dan kepemimpinan itu adalah amanah, dia di hari kiamat nanti merupakan penyesalan dan kesedihan, kecuali yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan semua kewajiban di dalamnya (HR Muslim). Memberikan kepemimpinan kepada ahlinya juga merupakan amanah. Seorang shahabat bertanya: “Kapan kiamat?” Rasulullah bersabda: “Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat.” Shahabat bertanya: “Disia-siakan yang bagaimana?” Rasulullah bersabda: “Jika urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR Bukhari). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Barang siapa mengangkat pemimpin karena fanatisme golongan, padahal di sana ada orang yang lebih diridlai oleh Allah, maka dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang Mukmin. (HR Hakim)
Peringatan bagi Orang yang Berkhianat
Khianat merupakan sifat orang munafik. Rasulullah bersabda: “Tanda-tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat” (HR Bukhari-Muslim)
Dipermalukan di hari kiamat. Setiap pengkhianatan akan mendapat bendera di hari kiamat. Disebutkan ini pengkhianat si fulan dan ini pengkhianat si fulan (HR Bukhari-Muslim)
Tidak disukai oleh Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.” (QS 8: 58). Dalam ayat lain Allah berfirman: “107. dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,” (QS 4: 107). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 38)
Khianat merupakan sifat orang Yahudi. Allah berfirman: “13. (tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. mereka suka merobah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya[407], dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) Senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka (yang tidak berkhianat), Maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS 5: 13)
Khianat adalah jalan menuju neraka. Allah berfirman: “10. Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami; lalu kedua isteri itu berkhianat[1487] kepada suaminya (masing-masing), Maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya): “Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (jahannam)” (QS 66: 10)
Taqwa (Akhlak Islam)
Menurut bahasa: berasal dari kalimat “waqaa”. Waqitusy-syai-aa artinya: saya menjaga sesuatu.
Menurut istilah:
Sahabat Ali berkata: “Taqwa adalah takut kepada Allah yang Maha Agung, beramal sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah, qana-ah terhadap yang sedikit dan bersiap untuk hari akhir.
Ibnu Rajab berkata: “Seorang hamba yang menjadikan sesuatu amal sebagai perisai/pelindung yang bisa melindunginya antara dia dan yang ditakuti. Kemudian kata ‘Taqwa’ banyak dipakai sebagi ungkapan ‘menjauhi semua larangan’. Abu Hurairah berkata ketika ditanya tentang taqwa: ‘Apakah engkau pernah berjalan di jalan yang penuh dengan duri?’ shahabat menjawab: ‘Ya.’ Beliau berkata: ‘Apa yang engkau lakukan?’ ‘Saya pastikan kaki saya, saya majukan atau mundurkan dari duri itu.’ Abu Hurairah berkata: ‘Itulah taqwa.’
Talk bin Habib berkata: “Adalah amal dalam rangka taat kepada Allah, sesuai dengan petunjuk-Nya, dengan mengharapkan pahala dari-Nya. Dan meninggalkan maksiat pada Allah sesuai dengan petunjuk-Nya karena takut siksa-Nya.
Urgensi Taqwa dalam Islam
Adalah merupakan perbendaharaan yang utama, di antaranya terkandung prinsip dan dasar-dasar, hukum dan syariat Islam, dia merupakan wasiat para ulama sepanjang masa. Allah berfirman: “Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. tetapi jika kamu kafir Maka (ketahuilah), Sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji.” (QS 4: 131)
Memperkokoh dan memantapkan ukhuwah dalam diri kaum Muslimin. Ukhuwah inilah yang akan membentengi kaum Muslimin dari perselisihan dan perpecahan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam Keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS 3: 102-103)
Hati yang penuh taqwa adalah hati yang sangat mengagungkan dan komitmen terhadap aturan dan syariat Allah. Allah berfirman: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.” (al-Hajj: 32)
Taqwa bisa melindungi seseorang dari kemaksiatan. Allah berfirman: “201. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah, Maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS 7: 201)
Taqwa merupakan cahaya bagi para da’i, dialah yang akan membantunya untuk membedakan antara yang benar dan yang bathil. Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS 8: 29)
Adalah wasiat Rasulullah saw. kepada para Du’at. Buraidah berkata: “Rasulullah jika mengutus seorang pemimpin atau sebuah pasukan, Rasulullah selalu berpesan khusus kepada mereka semua dengan pesan ‘taqwa kepada Allah’” (HR Muslim)
Keutamaan dan Kedudukan Orang-orang yang Bertaqwa
Orang yang paling bertaqwa adalah orang yang paling mulia di sisi Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS 49: 13). Rasulullah ketika ditanya, siapakah yang paling bertaqwa, beliau menjawab: ‘Adalah orang yang paling bertaqwa.’” (HR Bukhari)
Orang yang bertaqwa adalah kekasih Allah dan yang dicintai Allah. Allah berfirman: “Maka selama mereka berlaku lurus terhadapmu, hendaknya kamu berlaku lurus (pula) terhadap mereka. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaqwa.” (QS 9: 7). Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. dan Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.” (QS: 45: 19)
Mendapatkan maiyatullah. Allah berfirman: “bersabarlah (hai Muhammad) dan Tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS: 127-128)
Mendapatkan dukungan dari Allah. Allah berfirman: “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda.” (QS 3: 125)
Dimudahkan urusannya dan dilapangkan rizkinya. Allah berfirman: “….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)
Beruntung dengan mendapatkan syurga. Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’. untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. dan Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS 3: 15)
Amalnya bertambah baik dan dosanya diampuni. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS 33: 70-71)
Ciri-ciri Orang yang Bertaqwa
Senantiasa menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan. Al-Hasan berkata: “Orang yang bertaqwa senantiasa takut terhadap semua larangan Allah dan melaksanakan semua kewajiban.” Umar bin Abdul Aziz berkata: “Taqwa kepada Allah bukanlah hanya dengan puasa di siang hari, qiyamullail di malam hari dan bergaul dengan masyarakat di antara keduanya. Akan tetapi taqwa adalah meninggalkan apa yang diharamkan Allah dan menjalankan apa yang diwajibkan-Nya. Barang siapa yang diberi rizky kebaikan setelah itu, maka itu adalah kebaikan atas kebaikan yang lain. Allah berfirman: “ Demikianlah (perintah Allah). dan Barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari Ketakwaan hati.” (al-Hajj: 3)
Berakhlak mulia. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS 3: 134)
Segera bertaubat dan tidak terus menerus bermaksiat. Allah berfirman: “..dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau Menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS 3: 135)
Menghormati Rasulullah. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka Itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Hujurat: 3)
Berkurban dan teguh dalam menepati janji. Orang-orang yang bertaqwa berkurban dengan diri dan apa yang berharga dalam dirinya di jalan Allah dan dalam rangka menolong agama Allah. Maka jika ketaqwaan telah bersemayam kokoh, dia akan menjadi tangguh di jalan dakwah, walaupun banyak hambatan. Allah berfirman: “…dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam
peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS 2: 177)
Adil dan jujur. Allah berfirman: “…dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 5: 8)
Menjaga lisannya. Anas berkata: “Tidak bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya, seseorang yang tidak menjaqa lisannya.”
Melakukan muhasabah terhadap dirinya. Maimun bin Mahram berkata: “Seseorang belum dikatakan beriman, sehingga dia mampu melakukan muhasabah terhadap dirinya dengan sangat cermat, dan dia tahu persis dari mana pakaian, makan dan minumnya.
Langganan:
Postingan (Atom)