Senin, 28 Oktober 2013

Syukur (Akhlak Islam)


1. Definisi Syukur

a. Menurut bahasa: terlihatnya bekas makan pada tubuh hewan, dikatakan “dabbatun syakur” jika hewan tersebut kelihatan gemuk.
b. Menurut istilah: terlihatnya bekas nikmat Allah dalam lisan hamba-Nya, dengan pujian dan pengakuan. Dan dalam qalbunya dengan kesaksian dan kecintaan. Dan dalam anggota badannya dengan tunduk dan taat.

2. Kewajiban bersyukur

a. Adanya perintah bersyukur. Allah berfirman: “Karena itu ingatlah kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (QS. 2: 152).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (QS. 2: 172)

3. Nikmat Secara Umum

1. Nikmat penciptaan. Allah berfirman: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (QS. 16: 78)

2. Nikmat sarana hidup. Allah berfirman: “Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. kami hidupkan bumi itu dan kami keluarkan dari padanya biji-bijian, Maka daripadanya mereka makan. Dan kami jadikan padanya kebun-kebun kurma dan anggur dan kami pancarkan padanya beberapa mata air, Supaya mereka dapat makan dari buahnya, dan dari apa yang diusahakan oleh tangan mereka. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS 36: 33-35)

3. Nikmat sistim hidup. Allah berfirman: “..bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. 2:185)

4. Nikmat Secara Khusus

1. Nikmat syurga. Allah berfirman: “Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan) (QS. 76: 22).
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS 4: 69)

2. Nikmat hidayah. Allah berfirman: “..dan mereka berkata: “Segala puji bagi Allah yang Telah menunjuki kami kepada (surga) ini. dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya Telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran.” dan diserukan kepada mereka: “ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.” (QS 7: 43)

3. Nikmat pertolongan. Allah berfirman: “Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 3: 126)

5. Cara Bersyukur

a. Dengan hati. Yaitu dengan mengakui bahwa hanya dari Allah semua nikmat itu datang. Allah berfirman: “Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka Hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.” (QS 16. 53)
b. Dengan lisan. Yaitu dengan banyak mengucapkan “alhamdulillaah”; dengan mengungkapkan nikmat Allah; semua ucapannya harus baik; berterima kasih atas kebaikan orang lain.
c. Dengan anggota badan: menggunakan nikmat Allah untuk ketaatan kepada-Nya dan bukan untuk kemaksiatan kepada-Nya; melakukan sujud syukur.

6. Keutamaan- keutamaan Bersyukur

1. Bertambahnya nikmat Allah. Allah berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS 14: 7)

2. Terpelihara dari godaan syaitan. Allah berfirman: “..Iblis menjawab: “Karena Engkau Telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (QS 7: 16-17).

3. Terpelihara dari siksa. Allah berfirman: “Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman ? dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS 4: 147)

4. Mendapat balasan yang baik. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang Telah ditentukan waktunya. barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya kami berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS 3: 145)

5. Mendapat keridlaan dari Allah. Allah berfirman: “Jika kamu kafir Maka Sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu dia memberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Sesungguhnya dia Maha mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS 39: 7)

7. Jalan Menuju Syukur

1. Banyak mengingat nikmat Allah. Allah berfirman: “Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS 14: 34)
Dan firman-Nya yang dalam ayat yang lain: “Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 16: 18)

2. Mengintat keutamaan-keutamaan syukur

3. Mengingat akibat kufur nikmat Allah. Allah berfirman: “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang Telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan? Yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan Itulah seburuk-buruk tempat kediaman.” (QS 14: 28-29).
Firman Allah dalam ayat lain: “Dan Allah Telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezkinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; Karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (QS 16: 112)

4. Selalu sadar bahwa semua nikmat adalah merupakan ujian. Allah berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.” (QS 21: 35)
Firman Allah dalam ayat yang lain: “Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka dia akan berkata: “Tuhanku Telah memuliakanku”. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku” (QS 89: 15-16)

5. Berdoa. Rasulullah saw. bersabda kepada Mu’az: “Demi Allah wahai anakku sungguh aku mencintaimu, maka jangan engkau lupa berdoa setiap selesai shalat: ‘Ya Allah bantulah saya untuk selalu mengingat-Mu, mensyukuri-Mu dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya. (HR Abu Dawud, Ahmad dan Tirmidzi).
Allah berfirman: “…Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh”. (QS 27: 19)

Taubat 1 (Akhlak Islam)


Definisi Taubat

a. Menurut bahasa: Kembali
b. Menurut istilah: Kembali mendekat kepada Allah setelah menjauhi-Nya.
c. Hakekat taubat: menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat itu juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

2. Urgensi Taubat

1. Banyak yang tidak tahu akan hakekat taubat, syarat dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedang hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: “Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: ‘Saya mohon ampun dan bertaubat kepada Allah.’ Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
2. Allah memerintahkan untuk taubat. Perintah tersebut diulang sebanyak 87 kali, dan Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (24: 31)

Firman Allah dalam ayat lain: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)….” (QS 66: 8).
Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali.” (HR Muslim).

3. Barang siapa tidak bertaubat kepada Allah berarti dzolim terhadap diri sendiri. Allah berfirman: “Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS 49: 11)

4. Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS 2: 222).

3. Buah-buah Taubat

1. Taubat adalah jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24: 31).
Ibnul Qayyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat.”

2. Malaikat berdoa untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: ” (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,” (QS 40: 7)

3. Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “3. Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan” (QS 11: 3). Dan firman Allah: “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS 11: 52). Dan Allah berfirman: “..Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-,Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).

4. Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadits qudsi Rasulullah bersabda, bahwa Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau telah berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku. Aku telah ampunkan dosa-dosamu. Dan aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, aku akan mengampunimu. Dan Aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi, kemudian engkau tdiak pernah mempersekutukan pada-Ku dengan sesuatu apapun, Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadits lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”

5. Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam qalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, sehingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’ yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-sekali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’” (HR. Tirmidzi)
6. Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Taubat 2 (Akhlak Islam)


1. Syarat-syarat Taubat

Allah berfirman: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi Telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun Telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka Telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima Taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 118).
1. Meninggal dosa tersebut. Ibnul Qayyim berkata: “Taubat mustahil terjadi,m sementara dosa tetap dilakukan.”
2. Menyesal atas perbuatannya. Rasulullah bersabda: “Menyesal adalah taubat.”
3. Berazam untuk tidak melakukannya lagi. Ibnu Mas’ud berkata: “Taubat yang benar adalah: Taubat dari kesalahan yang tidak akan diulangi kembali, bagaikan mustahilnya air susu kembali pada kantong susunya lagi.”
4. Mengembalikan hak yang dirampas kepada pemiliknya atau minta dihalalkan. Imam Nawawi berkata: “Diantara syarat taubat adalah mengembalikan kedzoliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk dihalalkan.”
5. Ikhlash. Ibnu Hajar berkata: “Taubat tidak sah kecuali dengan ikhlash.” Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS 66: 8). Yang dimaksud taubat yang murni adalah taubat yang ikhlash.
6. Taubat dilakukan pada masa diterimanya taubat. Masa diterimanya taubat adalah: 1) sebelum saat sakaratul maut. 2) sebelum matahari terbit dari barat. Allah berfirman: “18. Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih.” (QS 4: 18).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama belum dalam sakaratul maut.” (HR Tirmidzi). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di malam hari.” (HR Muslim). Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

2. Macam-macam Dosa

a. Dosa besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Thalib Al-Makki berkata: “Dosa besar itu ada 17 macam yaitu 4 macam di hati (sirik, terus-menerus berbuat kemaksiatan, putus asa, dan merasa aman dari siksa Allah). 4 macam pada lisan (kesaksian palsu, menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik, sumpah palsu dan mengalkan sihir). 3 macam di perut (minum khamr, memakan harta anak yatim, memakan riba). 2 macam di kemaluan (zina, homoseksual). 2 macam di tangan (membunuh, mencuri). 1 di kaki (lari dari peperangan), 1 di seluruh badan (durhaka terhadap orang tua).
b. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa selain yang disebutkan di atas.

Taubat 3 (Akhlak Islam)


3. Dosa Kecil yang Menjadi Besar

a. Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.” Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS 3: 135).

b. Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin dalam melihat dosa-dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR Muslim)

c. Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS 2: 206)

d. Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS 58: 8)

e. Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: ‘Wahai fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR Bukhari-Muslim).

f. Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah orang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).

Jalan Menuju Taubat

1. Mengetahui hakekat taubat. Yakni: menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minumnya, seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang.”

2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya bermaksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”

3. Menghindar dari lingkungan yang buruk. Seperti dalam kisah seseorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana, sesungguhnya di sana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah di sana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”

4. Membaca Al-Qur’an dan mentaddaburinya.

5. Berdoa. Allah berfirman mengisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 2: 128). Al-Maraghi berkata: “Yang dimaksud ‘terimalah taubat kami’ adalah: ‘Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.’”

6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.”

7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
8. Mempelajari ayat-ayat dan hadits-hadits yang menakuti orang-orang yang berdosa.
9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.

Minggu, 27 Oktober 2013

Istiqamah (Akhlak Islam)


1. Definisi

a. Menurut bahasa: stabil dan berpegang teguh terhadap sesuatu, komitmen terhadapnya, melaksanakannya dengan kontinyu dan terus-menerus.
b. Menurut istilah: berpegang teguh terhadap agama secara menyeluruh dan komitmen terhadapnya.

2. Buah-buah Istiqamah

1. Malaikat turun kepadanya. Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang Telah dijanjikan Allah kepadamu”. (Fushilat: 30). Malaikat turun dengan membawa berita gembira. Imam Waki’ berkata: “Berita gembira tersebut diberikan dalam tiga tempat, ketika meninggal dunia, ketika dalam alam kubur dan ketika dibangkitkan dari kubur.

2. Mendapatkan ketenangan dan ketenteraman. Allah berfirman: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih,” Imam ‘Atha’ berkata: “Jangan takut pahala kalian tidak diterima, sesungguhnya pahala tersebut diterima oleh Allah, dan jangan bersedih atas dosa-dosa kalian, sesungguhnya kami akan mengampuni dosa-dosa tersebut.”

3. Dijanjikan surga padanya. Seperti firman Allah dalam surah Fushilat ayat 30 di atas.

4. Allah menjadi pelindungnya di dunia dan di akhirat. Allah berfirman: “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta.” (Fushilat: 31). Imam Syaukani berkata: “Yaitu bahwa Allah yang menanggung untuk menjaga dan menolong kalian dalam urusan dunia dan urusan akhirat, dan barang siapa yang Allah telah menjadi pelindungnya maka dia akan mendapat keuntungan dari semua yang ia inginkan dan dia akan selamat dari semua yang ia takutkan.”

5. Mendapat ampunan dari dosa-dosa. Allah berfirman: “Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushilat: 32). Imam Ibnu Katsir berkata: “Yaitu Allah Yang Maha Pengampun yang telah mengampunkan dosa-dosa kalian dan sayang kepada kalian. Sehingga Allah telah mengampuni dan menutupi dosa, serta mengasihi dan berlaku lemah lembut kepada kalian.

6. Luas rizki dan hidup berbahagia. Allah berfirman: “Dan bahwasannya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rizki yang banyak). (QS 72: 16). Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Dimana ada air, di sana pasti ada kekayaan.”

Jalan Menuju Istiqamah

1. Melakukan ketaatan. Yaitu dengan sungguh-sungguh dan mujahadatun-nafs. Dalam surat Huud, setelah Allah memerintahkan untuk istiqamah, (maka tetaplah kamu pada jalan yang benar [istiqamah], sebagaimana diperintahkan kepadamu dan [juga] orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan (QS 11: 112) Allah memerintahkan untuk shalat dan sabar. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Istiqamahlah kalian, tapi kalian tidak akan bisa, ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat, dan tidak seorangpun yang selalu menjaga wudlu kecuali adalah Mukmin. (HR Ahmad).
2. Ilmu. Yang paling penting adalah ilmu tentang tauhidullah, sebab ilmu ini merupakan pintu istiqamah. Rasulullah bersabda: “Katakanlah: ‘Saya beriman kepada Allah’ kemudian istiqamahlah kalian.”

3. Ikhlash. Sebab riya’ merupakan penyimpangan dari niat dan membatalkan amal, jani niat yang ikhlash harus dibina sehingga bisa istiqamah, kemudian jujur kepada Allah baik dalam perbuatan maupun dalam perkataan.

4. Mengikuti sunnah Rasulullah. Seorang yang tidak mengikuti sunnah dia akan sesat dari jalan yang lurus. Allah berfirman: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS 42: 52).

5. Proporsional dan seimbang. Rasulullah bersabda: “Bebankan amal perbuatan yang kalian lakukan sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga kalian bosan. Dan amal yang paling disukai Allah adalah istiqamah (kontinyu) walaupun sedikit.”

6. Berdoa memohon diberi sifat istiqamah. Firman Allah: “barangsiapa yang dikehendaki Allah (kesesatannya), niscaya disesatkan-Nya. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah (untuk diberi-Nya petunjuk), niscaya dia menjadikan-Nya berada di atas jalan yang lurus.” (QS 6: 39). Imam Hasan al-Basri jika membaca ayat ini beliau langsung berdoa: “Ya Allah, Engkau Tuhanku. Berikanlah rizki istiqamah padaku.”

7. Bergaul dengan teman yang baik. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS 11:113).

8. Memiliki interaksi yang baik dengan al-Qur’an. Allah berfirman: “Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar,” (QS 17: 9).

Penghalang Istiqamah

1. Meremehkan kemaksiatan. Rasululah bersabda: “waspadalah kalian terhadap dosa-dosa kecil, sesungguhnya dia akan berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.” (HR Ahmad). Salah seorang shahabat berkata: “Sesungguhnya kalian mendapatkan beberapa perbuatan, kalian menganggapnya sekecil rambut, akan tetapi pada masa kami dulu, pada masa Rasulullah perbuatan tersebut sebagai dosa besar.” (Hr Bukhari).

2. Disibukkan oleh urusan dunia dan lupa akan urusan akhirat. Rasulullah bersabda: “Bukan kemiskinan yang kami takutkan pada kalian, akan tetapi yang kami takutkan adalah sekiranya dunia sudah dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada umat sebelum kalian, maka kalian akan bersaing untuk mendapatkannya sebagaimana mereka bersaing dan kemudian kalian akan binasa sebagaimana mereka binasa.” (HR Bukhari).
3. Berlebihan dalam mengkonsumsi yang mubah, sehingga ia akan kesulitan untuk mengerjakan yang penting dan lalai dalam mengerjakan yang wajib.

4. Berteman dengan orang-orang yang berakhlak buruk. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim[740] yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, Kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (QS 11: 113)

Berbakti kepada Orang Tua


Wajibnya berbakti kepada orang tua (birrul waalidain)

Allah berfirman:
“Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua Telah mendidik Aku waktu kecil”. (al-Israa’: 23-24)
Dari Jabir, Rasulullah bersabda: “Berbaktilah kepada kedua orang tua kalian, niscaya anak-anak kalian akan berbakti kepada kalian.”

Keutamaan Berbakti kepada orang tua

1. Amal yang paling dicintai Allah setelah shalat. Dari Amr Asy-Syaibani berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah: ‘Apakah amal yang dicintai Allah?’ Rasulullah menjawab: ‘Shalat tepat pada waktunya.’ Saya berkata: ‘Kemudian amal apa lagi wahai Rasulullah?’ Rasulullah menjawab: ‘Berbakti kepada orang tua.,’ ‘Kemudian apa lagi wahai Rasulallah?’ ‘Jihad fii sabilillah.’” (HR Bukhari).
2. Doanya orang tua dikabulkan oleh Allah. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Tiga doa yang pasti dikabulkan Allah, doa orang yang teraniaya, doa orang musafir, dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR Tirmidzi, Abu Dawut dan Ahmad).
3. Penyebab turunnya rahmat Allah. Lihat kisah 3 orang yang terperangkap dalam goa.
4. Menjadi penghapus dosa-dosa besar. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda: “Sungguh celaka, sungguh celaka.” Para Shahabat bertanya: “Siapa wahai Rasulullah?” Rasulullah bersabda: “Siapa yang mendapati dua orang tuanya dalam usia lanjut, atau salah satunya dan dia masuk neraka.” (HR Muslim).

Cara Berbakti Kepada Orang Tua

1. Ketika mereka masih hidup.
a. Berbuah ihsan pada keduanya
b. Melaksanakan hak-hak nya
c. Senantiasa menaatinya
d. Menjauhkan apa-apa yang akan menyakitinya
e. Melakukan apa-apa yang diridhainya
2. Ketika mereka sudah meninggal
a. Mendoakan mereka
b. Memohonkan ampun pada Allah
c. Melaksanakan janji-janjinya
d. Menyambung silaturahim yang biasa disambungnya
e. Ziarah pada kubur mereka

Durhaka Kepada Orang Tua:

1. Tidak mentaatinya
2. Mengabaikan hak-hak mereka
3. Melakukan hal-hal yang tidak mereka sukai
4. Menyakiti mereka walau hanya berkata “hus”
5. Memandang mereka dengan pandangan yang menghinakan
6. Bersikap dengan sikap yang merendahkan

Dari Ibnu ‘Abbas ra. Rasulullah saw. bersabda: “Terlaknat orang yang mencaci ayahnya, terlaknat orang yang mencaci ayahnya.”

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Allah melaknat tujuh golongan dari makhluk-Nya dari atas langit yang ketujuh: terlaknat orang yang durhaka pada kedua orang tuanya.”

Dari Anas ra. Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang orangtuanya ridla padanya maka Allah telah ridla padanya pula, dan barang siapa yang orang tuanya murka padanya maka Allah telah murka kepadanya pula.”

Ibnu ‘Umar berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Di antara dosa besar adalah: mensekutukan Allah, durhaka pada orang tua, membunuh orang lain dan sumpah palsu.”

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orangtuanya, pecandu khamr, yang mendustakan takdir dan yang melakukan sumpah palsu.”

Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabada: “Empat hal yang telah pasti Allah tidak akan memasukkannya ke dalam surga dan tidak mencicipi kenikmatannya: pecandu khamr, pemakan riba, pemakan harta anak yatim yang bukan haknya dan pendurhaka kepada orang tuanya.”

Dari ‘Abdullah bin Aufa, berkata: “Seseorang datang kepada Rasulullah saw. dan berkata: ‘Wahai Rasulullah, ada serorang pemuda yang sedang sakaratul maut, ketika dituntun untuk mengucapkan “laa ilaaha illallaah” dia tidak bisa mengucapkannya. Rasulullah bersabda: ‘Bukankah dia sudah terbiasa mengucapkannya?’ Mereka menjawab: ‘Benar wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda: ‘Apa yang menghalanginya untuk mengucapkannya sekarang?’ lantas Rasulullah mendatanginya dan bersabda: ‘Katakanlah: “Laa ilaaha illallaah”. Remaja tersebut berkata: ‘Saya tidak bisa.’ Rasulullah bersabda: ‘Kenapa?’ dia menjawab: ‘Karena saya telah durhaka kepada ibu saya.’ Rasulullah bersabda: ‘Apakah beliau masih hidup?’ dia berkata: ‘Masih wahai Rasulallah.’ Rasulullah bersabda: ‘Panggilkan dia,’ lantas beliau berkata: ‘Apakah ini adalah anakmu?’ Dia menjawab: ‘Benar wahai Rasulullah.’ Rasulullah bersabda: ‘Jika engkau tidak mengampuninya maka saya akan menyalakan api yang besar dan membakarnya.’ Ibunya berkata: ‘Jika demikian saya memaafkannya.’ Rasulullah bersabda: ‘Bersumpahlah kepada Allah dan persaksikanlah pada kami bahwa kamu telah ridla padanya.’ Ibu itu berkata: ‘Saya bersumpah dan saya bersaksi di hadapan Rasulullah bahwa saya telah ridla pada anak saya.’ Rasulullah bersabda: ‘Wahai anak muda, katakanlah: laa ilaaha illallaah.’ Maka anak muda itu lantas mengucapkan laa ilaaha illallaah. Rasulullah bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan hambanya dari api neraka.’”

Tawadlu’


Definisi Tawadlu’

a. Definisi menurut bahasa: berasal dari kata “wadlo-a” yang berarti rendah
b. Definisi menurut istilah: merendahkan diri di hadapan Allah dan hamba-hamba-Nya yang shaleh.

Atau: mencegah diri untuk memandang diri lebih dari yang lain, dengan konsekuensi perilaku atau kata-kata yang mencerminkan penghormatan dan pemulyaan pada orang lain.

Urgensi Tawadlu’

1. Merupakan sifat orang-orang Mukmin. Allah berfirman: “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS 25: 63)
Dalam ayat lain Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah Lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” (QS 5: 54)

2. Mendapatkan mahabbah dari Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri,” (QS 4: 36)

3. Mendapat penghormatan dari orang lain, dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda: “Tiada seseorang yang tawadlu’ karena Allah, kecuali Allah akan mengangkatnya.” (HR Muslim)

4. Menyebabkan menyatunya hati

5. Penyebab masuk surga. Allah berfirman: “Negeri akhirat itu, kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS 28: 83)
6. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk tawadlu. Allah berfirman: “88.

Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup yang Telah kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (QS 15: 88)

Macam-Macam Tawadlu’

1. Tawadlu kepada Allah. Tanda-tandanya: 1) menganggap kecil akan ketaatannya. Allah berfirman: “60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka” (QS 23: 60), 2) menganggap besar kemaksiatan yang dilakukannya. 3) menyandarkan keberhasilan kepada Allah. Allah berfirman: 49. Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru kami, Kemudian apabila kami berikan kepadanya nikmat dari kami ia berkata: “Sesungguhnya Aku diberi nikmat itu hanyalah Karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak Mengetahui.” (QS 39: 49).

2. Tawadlu kepada agama Allah, tandanya adalah:
a. Menerima dan tunduk kepadanya
b. Tidak menyangkalnya
c. Tidak menuduhnya dengan tuduhan yang tidak baik

3. Tawadlu kepada Rasulullah. Tanda-tandanya:
a. Tidak keberatan di dalam mengikuti dan menaatinya. Allah berfirman: “65. Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS 4: 65)
b. Mendahulukan petunjuknya atas yang lain

4. Tawadlu kepada orang-orang Mukmin, tandanya:
a. Mentaati orang-orang yang diperintahkan oleh syariat untuk ditaati
b. Menerima kebenaran darimanapun datangnya
c. Bersaudara dengan mereka
d. Menghormati mereka
e. Berkhidmat terhadap mereka
f. Berlaku lemah lembut terhadap mereka. Allah berfirman: “Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS 9: 128)
g. Memberi maaf dan memintakan ampunan buat mereka
h. Mengajak mereka bermusyawarah
i. Bergaul dengan orang-orang shaleh