Sabtu, 30 November 2013

Murah Hati dan Memberi Infak (1)


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an Hadits

Firman Allah: “Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka Allah akan menggantinya.” (Saba’: 39)

Firman Allah: “bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 272)

Firman Allah: “Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesunguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 273)

Firman Allah: “Dan adapun orang-orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat bagianya apabila ia telah binasa.” (al-Lail: 8-11)

Firman Allah: “Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)

Dari Ibnu Mas’ud, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Hasjud (iri hati) yang diperbolehkan, hanya dua hal, yaitu seseorang yang diberi kekayaan oleh Allah, dihabiskan dalam kebenaran. Dan seseorang yang diberi ilmu oleh Allah kemudian diamalkan dan diajarkan kepada orang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Pengertiannya, seseorang tidak diperbolehkan mempunyai rasa iri, kecuali salah satu dari dua hal di atas.

Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Siapakah di antara kalian yang lebih mencintai harta warisan daripada harta sendiri?” Para shahabat menjawab: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya kami lebih mencintai harta sendiri.” Beliau bersabda: “Sesungguhnya harta sendiri, lebih diutamakan dan harta waris harus dikesampingkan.” (HR Bukhari)

Dari Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kepada api neraka, walaupun hanya bersedekah separuh biji kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Jabir ra. ia berkata: “Setiap kali Rasulullah saw. dimintai sesuatu, beliau tidak pernah menjawab: “Tidak.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap pagi datang dua malaikat untuk setiap hamba, dan yang satu berdoa: “Ya Allah, gantilah orang yang menafkahkan hartanya.” Dan yang lain berdoa: “Ya Allah binasakanlah harta orang yang kikir.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: “Nafkahkanlah hartamu, niscaya akan diberi gantinya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: seseorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Perbuatan apa saja yang terbaik dalam Islam?” Beliau menjawab: “Memberi makan (pada orang yang kekurangan) dan mengucapkan salam, kepada orang yang kamu kenal maupun orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada empat puluh macam perbuatan utama, sedangkan yang paling utama, adalah mendermakan seekor kambing untuk diperah susunya. Siapa saja yang mengerjakan salah satunya dengan tujuan mengharapkan pahala dari Allah dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga.” (HR Bukhari)

Dari Abu Umamah Shuday bin ‘Ajlan ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai anak Adam, sesungguhnya jika kamu memberikan kelebihan hartamu, maka itu sangat baik. Jika tidak, itu sangat jelek bagimu. Kamu tidaklah dicela karena kesederhanaanmu. Dahulukan orang yang menjadi tanggunganmu. Sebab tangan yang di atas (orang yang memberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (orang yang meminta).” (HR Muslim)

Dari Anas ra. ia berkata: Apabila Rasulullah dimintai sesuatu untuk kepentingan Islam, beliau pasti memberinya. Sungguh aku pernah menyaksikan, ada seseorang yang datang dan meminta sesuatu kepadanya. Dan beliau memberi kambing yang berada di antara dua bukit itu. Kemudian orang itu kembali kepada kaumnya dan berkata: “Wahai kaumku masuklah Islam! Sesungguhnya Muhammad memberi sesuatu kepada orang yang tidak khawatir miskin.” Sungguh dahulu seseorang masuk Islam tidak lain karena ingin duniawi, tetapi dalam waktu yang cepat ia mencintai Islam melebihi dunia dan isinnya.” (HR Muslim)

Dari Umar ra. ia berkata: Rasulullah membagi sesuatu. Melihat yang demikian saya menegurnya: “Wahai Rasulallah, selain orang itu masih banyak lagi orang yang lebih berhak menerimanya.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya mereka meminta kepadaku dengan paksa, kemudian aku berikan saja kepada mereka, atau mereka akan menganggap aku kikir, padahal aku bukan orang yang kikir.” (HR Muslim)

Dari Jubair bin Muth’im ra. ia berkata: Sepulang dari perang Hunain, ia bersama Nabi saw. Kemudian ada orang-orang Badui menarik-narik beliau dan meminta bagian, sehingga mereka memaksa beliau ke suatu pohon dan mengambil surbannya, maka Nabi saw. bersabda: “Kembalikanlah surbanku itu! Sungguh andaikan aku mempunyai ternak sebanyak pohon berduri itu, pasti aku bagikan kepada kalian, sehingga tidak akan menyangka aku sebagai orang yang kikir, pembohong dan bukan pula pengecut.” (HR Bukhari)

Memberi Bantuan dan Qana’ah


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (Al-Hasyr: 9)

Firman Allah: “Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan…” (al-Insaan: 8)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Ada seseorang datang kepada Nabi saw. dan berkata: “Sesunguhnya saya sangat lapar.” Maka beliau membawanya ke salah seorang istrinya, dan istrinya berkata: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Kemudian membawanya ke istri yang lain, dan istri yang lain menjawab seperti dikatakan oleh istri pertama, sehingga semua istrinya menjawab seperti yang dikatakan oleh istri pertama, yakni: “Demi Dzat yang mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak mempunyai apapun kecuali air.” Maka beliau bersabda kepada para shahabat: “Siapakah yang sanggup menjamu tamuku pada malam ini?” Salah seorang shahabat Anshar berkata: “Saya wahai Rasulullah.” Kemudian orang itu pergi bersama shahabat tadi. Sesampainya di rumah, ia berkata kepada istrinya: “Muliakanlah tamu Rasulullah saw.!”
Dalam riwayat lain dikatakan: “Shahabat itu bertanya kepada istrinya: “Apakah engkau mempunyai makanan?” Istrinya menjawab: “Tidak punya, kecuali makanan untuk anak-anak.” Shahabat itu berkata: “Hiburlah mereka dengan sesuatu. Apabila mereka ingin makan, tidurkanlah mereka. Apabila tamu kita masuk, padamkanlah lampu dan perlihatkanlah seolah-olah kita ikut makan.” Kemudian mereka duduk bersama, dan tamu itu makan, tetapi shahabat dan itrinya dalam keadaan lapar. Ketika pagi, mereka bertemu dengan Nabi saw. dan beliau bersabda: “Sungguh Allah kagum pada perbuatan kalian dalam menjamu tamu semalam.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Makanan dua orang cukup untuk tiga orang, dan makanan tiga orang cukup untuk empat orang.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Muslim, dari Jabir ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup untuk empat orang. Dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.”

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Waktu kami bepergian bersama Rasulullah saw. tiba-tiba datang seseorang yang berkendaraan, sambil menoleh ke kanan dan ke kiri seolah-olah mengharapkan bantuan makanan, maka Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang mempunyai kelebihan kendaraan, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai kendaraan, dan siapa saja yang mempunyai kelebihan bekal, hendaknya ia memberikan kepada orang yang tidak mempunyai bekal.” Kemudian beliau menyebut berbagai macam harta. Sehingga kami merasa, seolah-olah tidak ada seorangpun di antara kami mempunyai hak atas kelebihan harta.” (HR Muslim)

Dari Sahl bin Sa’d ra. ia berkata: ada seorang perempuan datang kepda Nabi saw. memberikan selimut tenunan, seraya berkata: “Kain ini saya tenun sendiri, dengan harapan engkau senang memakainya.” Maka Nabi menerima dan memakainya, sebab beliau membutuhkannya. Kemudiian beliau keluar dan memakai selimut itu sebagai sarung. Tiba-tiba fulan berkata: “Alangkah bagusnya selimut ini, saya ingin memakainya.” Beliau bersabda: “Baiklah.” Setelah itu Nabi duduk di tempatnya, beliau pulang dan melipatnya, kemudian dikirim kepada orang yang menginginkannya. Orang-orang berkata kepada orang itu: “Tidak baik bagimu, sebab kain itu sangat dibutuhkan Nabi saw. kemudian kamu minta. Sebenarnya kamu juga tahu, beliau tidak pernah menolak orang yang meminta.” Orang itu menjawab: “Demi Allah, saya memintanya bukan untuk saya pakai, tetapi untuk saya jadikan sebagai kain kafan.” Sahl berkata: “Selimut itu memang benar menjadi kain kafanny.” (HR Bukhari)

Dari Abu Mura al-Asy’ariy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang-orang Asy’ariy, apabila persediaan mereka dalam peperangan hampir habis atau makanan bagi keluarga mereka di Madinah tinggal sedikit, maka mereka mengumpulkan sisa-sisa yang ada dalam satu kain kemudian mereka membagi-bagikannya sama rata pada satu bejana. Mereka itu termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: Pernah Rasulullah saw. diberi minuman, maka beliau pun meminumnya. Sedangkan di sebelah kanan beliau ada seorang pemuda (Ibnu Abbas) dan di sebelah kiri beliau ada orang-orang yang lanjut usia. Kemudian beliau bersabda kepada anak muda itu: “Bolehkan aku memberikan minuman ini kepada orang-orang tua itu?” Pemuda itu menjawab: “Tidak wahai Rasulallah, sesungguhnya saya tidak akan memberikan bagianku darimu kepada siapapun.” Maka Rasulullah memberikan minuman yang berada di tangannya kepada pemuda tadi (Ibnu Mas’ud).” (HR Bukhari dan Muslim)

Keutamaan Orang Kaya yang Bersyukur


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an-Hadits

Firman Allah: “Adapun orang yang memberikan (hartanya dijalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5-7)

Firman Allah: “dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha tinggi. dan kelak Dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail: 17-21)

Firman Allah: “Jika kamu menampakkan sedekah[mu], itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 271)

Firman Allah: “Kamu sekali-sekali tidak sampai kebaktian (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cinta. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali Imraan: 92)

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tidak diperbolehkan hasud (iri hati), kecuali dalam dua hal, yaitu: seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah kemudian dibelanjakan dalam kebenaran, dan seseorang yang dikaruniai ilmu oleh Allah kemudian diamalkan dan diajarkannya.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Hasud yang diperbolehkan hanya dalam dua hal, yaitu: seseorang yang diberi pengertian tentang al-Qur’an oleh Allah, kemudian ia dipergunakan sebagai pedoman hidupnya pada waktu malam dan siang, dan seseorang yang dikaruniai harta oleh Allah, kemudian ia menafkahkannya pada waktu malam dan siang.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ia berkata: Shahabat mujahirin yang miskin datang kepada Rasulullah saw. dan mengadu: “Orang-orang yang kaya mendapatkan derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi.” Beliau bertanya: “Mengapa demikian?” mereka menjawab: “Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka juga bersedekah, sedangkan kami tidak. Serta mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak dapat memerdekakannya.” Kemudian beliau bersabda: “Bolehkan aku memberitahu kalian tentang sesuatu yang dapat mengejar mereka, dan kalian akan berada dalam barisan terdepan bagi orang-orang yang sesudahmu, serta tidak ada seorangpun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukan seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab: “Yaitu supaya sekalian membaca tasbih (subhaanallaaH) membaca takbir (AllaaHu akbar) dan membaca hamdalah (alhamdu lillaaHi) setiap selesai shalat masing-masing tiga puluh tiga kali.” Tetapi setelah itu shahabat-shahabat Muhajirin yang miskin kembali lagi kepada Rasulullah saw. dan berkata: “Saudara-saudara kami yang kaya itu mendengar apa yang kami lakukan.” Maka Rasulullah saw. bersabda: “Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim)

Sabtu, 23 November 2013

Berhati-hati dalam Perkataan


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an – Hadits

Firman Allah: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (al-Israa’: 36)

Firman Allah: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya, melainkan di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaaf: 18)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Cukuplah seseorang disebut pendusta, jika ia menceritakan segala apa yang tidak ia dengar.” (HR Muslim)

Dari Samurah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa menceritakan dariku suatu hadits yang diketahui hadits itu bohong, maka ia adalah salah seorang pembohong.” (HR Muslim)

Dari Asma’ ra. bahwasannya ada seorang perempuan bertanya: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya saya adalah seorang istri yang dimadu. Apakah saya berdosa apabila berlagak puas terhadap suamiku dalam hal apa yang tidak diberikan oleh suamiku?” Kemudian Rasulullah bersabda: “Orang yang berlagak puas dalam hal yang tidak diberikan kepadanya seperti orang memakai pakaian palsu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Haram Menurunkan Pakaian Karena Sombong


Riyadhush shalihin; Imam Nawawi; Hadits-Hadits

Dari Asma’ binti Yazid al-Anshariyah ra. ia berkata: “Lengan kemeja Rasulullah saw. hanya sampai pergelangan tangan.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Ibnu Umar ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong, maka pada hari kiamat nanti Allah tidak akan melihatnya.” Kemudian Abu Bakar ra. berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya kain saya selalu turun sampai di bawah mata kaki, kecuali apabila saya sangat berhati-hati.” Rasulullah saw. bersabda kepadanya: “Sesungguhnya kamu tidaklah termasuk orang-orang yang berbuat semacam itu karena sombong.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Nanti pada hari kiamat Allah tidak akan melihat orang yang menurunkan kainnya di bawah mata kaki karena sombong.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Kain yang berada di bawah mata kaki, adalah bagian dari api neraka.” (HR Bukhari)

Dari Abu Dzarr ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Ada tiga kelompok manusia yang kelak pada hari kiamat Allah tidak akan mengajak bicara mereka, Allah tidak akan melihat mereka, dan tidak pula mengampuni dosa mereka, dan mereka akan mendapat siksa yang pedih.” Rasulullah mengucapkan kalimat itu tiga kali. Kemudian Abu Dzarr berkata: “Amatlah kecewa dan rugi mereka itu. Siapakah mereka wahai Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu orang yang menurunkan kainnya, orang yang suka menyebut-nyebut pemberiannya, dan orang yang menjual barang dagangannya menggunakan sumpah palsu.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang yang menurunkan kain, kemeja dan sorbannya; barangsiapa yang memanjangkan sesuatu karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i)

Dari Abu Jurayz (Jabir) bin Sulaim ra. ia berkata: Saya melihat seseorang yang pendapatnya selalu diikuti oleh orang banyak, apapun yang dikatakannya pasti diikuti mereka.” Saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Para shahabat menjawab: “Itu adalah Rasulullah saw?” Saya mengucapkan ‘ALAIKASSALAAM YAA RASUULALLAAH dua kali.” Kemudian beliau bersabda: “Janganlah kamu mengucapkan ‘alaikassalaam, karena ‘alaikassalaam adalah ucapan untuk orang yang telah meninggal. Tetapi ucapkanlah: ASSALAAMU ‘ALAIKUM.” Jabir bertanya: “Benarkah engkau utusan Allah?” Beliau menjawab: “Ya. Aku adalah utusan Allah, zat yang apabila kamu tertimpa suatu musibah kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan menghilangkan musibah yang menimpa kamu. Apabila kamu tertimpa paceklik kemudian kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan segera menumbuhkan tanaman untuk mu. Apabila kamu berada di tengah gurun pasir atau tanah lapang, kemudian kendaraanmu atau ternakmu hilang lantas kamu berdoa kepada-Nya, niscaya Dia akan mengembalikannya kepadamu.” Jabir berkata kepada beliau: “Berilah saya nasehat.” Beliau bersabda: “Janganlah engkau sekali-kali memaki seseorang.” Jabir berkata: “Maka setelah itu saya tidak pernah memaki orang merdeka, budak, onta dan kambing.” Beliau juga bersabda: “Janganlah kamu sekali-sekali meremehkan suatu kebaikan, dan berkatalah kepada temanmu dengan muka yang manis. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk kebaikan. Dan tinggikanlah kainmu sampai pertengahan betis, dan kalau kamu enggan, maka boleh sampai kedua mata kaki. Janganlah kamu menurunkan kain itu melebihi mata kaki karena itu termasuk perbuatan sombong. Dan sesungguhnya Allah tidak suka terhadap sifat sombong. Dan apabila ada seseorang memaki dan mencela kamu dengan apa yang dia ketahui tentang dirimu, maka janganlah engkau mencelanya dengan apa yang engkau ketahui tentang dirinya. Karena sesungguhnya akibat dari caci maki itu akan kembali kepadanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Dari Qais bin Basyiir at-Taghlibi, ia berkata: Ayah yang menjadi teman dekat Abu Darda’ memberitahukan kepadaku dimana ia berkata: “Di Damaskus ada seorang shahabat Nabi saw. yang bernama Ibnu Hanzhaliyah, ia adalah orang yang senang menyendiri, jarang sekali duduk-duduk bersama orang lain, kecuali untuk shalat. Apabila selesai shalat ia terus membaca tasbih dan takbir sehingga pulang ke rumahnya.” Ketika kami berada di tempat Abu Darda’, ia lewat. Maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah suatu kalimat yang bermanfaat bagi kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan, kemudian setelah kembali, salah seorang di antara mereka duduk pada suatu majelis yang mana disitu ada Rasulullah saw. Ia berkata kepada seseorang yang berada di sampingnya: “Bagaimana pendapatmu ketika kami berhadapan dengan musuh, maka seorang dari kami menyerang musuh, dan setelah menikam musuh ia berkata: ‘Rasulullah tikaman diriku, dan aku adalah pemuda Ghifar’?” Orang yang ada di sampingnya berkata: “Menurut pendapatku orang tadi selalu hilang pahalanya.” Orang lain yang mendengar apa yang dikatakannya, ia berkata: “Menurut pendapatku orang itu tidak apa-apa (masih tetap pahalanya).” Maka bertengkarlah kedua orang itu sehingga Rasulullah saw. mendengar kemudian beliau bersabda: “Maha suci Allah, tidak apa-apa ia tetap mendapat pahala dan tetap terpuji.” Saya melihat Abu Darda’ nampak gembira sekali dan mengangkat kepalanya ditujukan kepada Ibnu Hanzhaliyah serta bertanya: “Apakah kamu mendengar sendiri keterangan itu dari Rasulullah saw. ? Ibnu Hanzhaliyah menjawab: “Ya.” Abu Darda’ mengulang-ulang pertanyaan itu sehingga saya berkata: “Ia benar-benar minta berkah kepada kedua lututnya.” Ayah berkata lagi: “Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata kepadanya: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda kepada kami: Orang yang memberi belanja untuk kudanya itu bagaikan orang yang membentangkan tangannya dengan sedekah, ia tidak menggenggamkan tangannya itu.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik orang adalah Khuraim Al-Usaidy, seandainya ia tidak berambut panjang dan tidak menurunkan kainnya sampai di bawah mata kaki.” Setelah berita itu terdengar oleh Khuraim maka ia langsung mengambil pisau untuk memotong rambutnya sampai sebatas kedua telinganya dan menaikkan kainnya sampai ke pertengahan kedua betisnya.”
Pada saat yang lain ia lewat, maka Abu Darda’ berkata: “Sampaikanlah satu kalimat yang bermanfaat untuk kami dan tidak merugikan kamu.” Ia berkata: “ Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian akan kembali kepada saudara-saudaramu, maka perbaikilah kendaraanmu dan baguskanlah pakaianmu sehingga kamu seolah-olah merupakan tahi lalat yang menjadi hiasan manusia. Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang kotor, baik dalam pakaiannya maupun perkataannya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Pada suatu hari ketika ada seseorang shalat dengan kain yang sampai di bawah mata kaki, maka Rasulullah saw. bersabda: “Pergilah dan berwudlu-lah.” Ia pun pergi dan berwudlu. Maka ada seseorang bertanya: “Wahai Rasulallah, mengapa engkau menyuruh orang itu melakukan wudlu kemudian engkau diamkan?” Beliau bersabda: “Karena ia shalat dengan memakai kain sampai di bawah mata kaki. Sesungguhnya Allah tidak akan menerima shalat seseorang yang memakai kain sampai di bawah mata kaki.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kain sarung seorang muslim adalah sampai pertengahan betis. Dan tidaklah berdosa jika sampai pada di antara betis dan kedua mata kaki. Sedangkan yang sampai di bawah mata kaki itu adalah bagian neraka. dan barangsiapa yang menurunkan kain sarungnya sampai di bawah mata kaki karena sombong maka kelak Allah tidak akan melihat kepadanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: saya berjalan di depan Rasulullah saw. sedangkan kain saya terlalu rendah, kemudian beliau bersabda: “Wahai Abdullah, naikkanlah kainmu itu.” Maka saya pun menaikkannya. Beliau bersabda lagi: “Naikkan lagi.” Maka saya pun menaikkan kain sesuai dengan petunjuk itu.” Ada orang yang bertanya: “Sebatas mana kamu menaikkan?” Abdullah menjawab: “Sebatas pertengahan betis.” (HR Muslim)

Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang menurunkan kainnya karena sombong, maka kelak pada hari kiamat Allah tidak akan melihat kepadanya.” Salamah bertanya: “Maka bagaimana cara wanita menurunkan tepi kain mereka?” Beliau bersabda: “Diturunkan sejengkal.” Salamah berkata: “Kalau begitu, telapak kaki mereka terbuka?” Beliau bersabda: “Boleh diturunkan sehasta, tidak boleh lebih dari itu.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)

Jumat, 22 November 2013

qs al baqoroh



aamana alrrasuulu bimaa unzila ilayhi min rabbihi waalmu/minuuna kullun aamana biallaahi wamalaa-ikatihi wakutubihi warusulihi laa nufarriqu bayna ahadin min rusulihi waqaaluu sami'naa wa-atha'naa ghufraanaka rabbanaa wa-ilayka almashiiru

285. Rasul telah beriman kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami ta'at." (Mereka berdo'a): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."

SEBAB TURUNNYA AYAT: Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim dan lain-lainnya dari Abu Hurairah, katanya, "Tatkala turun ayat, 'Dan jika kamu melahirkan apa yang terdapat dalam dadamu atau menyembunyikannya, pastilah akan dihisab oleh Allah.' (Q.S. Al-Baqarah 284) sungguh terasa berat oleh para sahabat. Mereka datang kepada Rasulullah saw. lalu bersimpuh di atas kedua lutut mereka, kata mereka, 'Ayat ini telah diturunkan kepada baginda, tetapi kami tidak sanggup memikulnya', maka Rasulullah saw. bertanya, 'Apakah kalian hendak mengatakan seperti apa yang diucapkan oleh Ahli Kitab yang sebelum kalian, 'Kami dengar dan kami langgar?' hendaklah kalian ucapkan, 'Kami dengar dan kami patuhi. Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada-Mu kami akan kembali.' Setelah orang-orang itu berusaha membacanya hingga lidah-lidah mereka pun menjadi lunak karenanya, maka Allah pun menurunkan di belakangnya, 'Rasul telah beriman...' (Q.S. Al-Baqarah 285) Sesudah itu ayat tadi dinasakhkan oleh Allah dengan menurunkan, 'Allah tidak membebani seseorang kecuali menurut kemampuannya...'" (Q.S. Al-Baqarah 286) Muslim dan lain-lain meriwayatkan pula seperti di atas dari Ibnu Abbas.

Rabu, 20 November 2013

Sunnah Puasa Enam Hari di Bulan Syawal


Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Dari Abu Ayyub ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan, kemudian mengikutinya dengan enam hari pada bulan Syawal, maka puasa enam hari itu bagaikan puasa sepanjang masa.” (HR Muslim)