Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang beramal
Allah berfirman: “Dan orang-orang yang berjihad (untuk mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (al-Ankabut: 69)
Allah berfirman: “Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 99)
Allah berfirman: “Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (al-Muzzammil: 99)
Allah Ta’ala berfirman: “Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (al-Zalzalah: 7)
Allah berfirman: “Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang baik dan yang paling besar pahalanya.” (al-Muzzammil: 20)
Allah berfirman: “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.” (al-Baqarah: 197)
Dari Abu Hurairah ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Siapa saja yang memusuhi kekasih-Ku maka Aku menyatakan perang kepadanya. Sesuatu yang paling Aku sukai yang dikerjakan oleh hamba-Ku untuk mendekatkan diri adalah ia mengerjakan apa yang Aku wajibkan kepadanya, dan tidak henti-hentinya mendekatkan diri dengan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencintainya.
Jika Aku mencintainya, maka Aku merupakan pendengaran yang ia gunakan, Aku merupakan penglihatan yang ia gunakan, Aku merupakan tangan yang ia gunakan untuk menyerang dan Aku merupakan kaki yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan kepda-Ku niscaya aku melindunginya.” (HR Bukhari)
Dari Anas ra., dari Rasulullah saw. beliau menceritakan yang difirmankan oleh Rabb Yang Maha Mulia lagi Maha Agung: “Apabila seseorang mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku mendekat sehasta, apabila ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat sedepa, dan apabila ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku datang dengan berlari.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ada dua nikmat dimana manusia banyak tertipu karenanya, yaitu kesehatan dan kesempatan.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. selalu bangun untuk mengerjakan shalat malam sampai kedua kakinya bengkak. Aisyah bertanya: ‘Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbuat demikian, sedangkan Allah telah mengampuni semua dosamu , baik yang telah lampau maupun yang akan datang?’ beliau menjawab: ‘Apakah tidak sepantasnya jika aku menjadi seorang hamba yang selalu bersyukur?’ (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila memasuki pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadlan beliau senantiasa beribadah pada malam hari dan membangunkan keluarganya dan beliau bersungguh-sungguh serta mengikat erat tali pinggangnya. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disukai Allah daripada orang mukmin yang lemah. Masing-masing ada kebaikannya. Bersemangatlah untuk mengerjakan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu, serta mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah lemah. Kalau tertimpa sesuatu, janganlah kamu mengucapkan: ‘Seandainya saya berbuat begini tentu akan terjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah: ‘Apa yang terjadi telah ditentukan Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi.’ Karena kata ‘seandainya’ itu akan memberi jalan pada setan. (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Neraka itu tertutup dengan berbagai macam kesenangan dan surga itu tertutup dengan berbagai macam ketidaksenangan.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Abdullah Hudzaifah bin Yaman al-Anshari ra. beliau dikenal sebagai spionase (mata-mata) Rasulullah saw. ia berkata: Suatu malam aku shalat bersama Nabi saw. sesudah membaca al-Fatihah beliau membaca al-Baqarah, di dalam hati saya berkata: mungkin beliau akan rukuk jika sudah membaca seratus ayat. Tetapi setelah mendapat seratus ayat beliau tetap membacanya. Dalam hati saya berkata lagi: mungkin beliau akan membaca satu surat al-Baqarah dalam satu rakaat, tetapi setelah selesai satu surat beliau membaca lagi surat an-Nisaa’ dan beliau membacanya sampai selesai. Setelah itu beliau memulai lagi membaca Ali Imraan sampai selesai. Beliau membacanya dengan tartil. Jika menemukan ayat yang mengandung tasbih maka beliau membaca tasbih. Jika menemukan ayat yang mengandung perintah agar memohon, maka beliau memohon. Dan jika menemukan ayat yang menyuruh untuk berlindung diri, maka beliau berlindung diri. Sesudah itu, beliau rukuk dan membaca “Subhaana rabbiyal ‘adziim” (Mahasuci Rabb yang Maha Agung). Lamanya hampir sama dengan berdiri. Kemudian beliau bangkit dari rukuk mengucapkan: “Sami-‘allaaHu liman hamidaH, rabbanaa lakal hamdu” (Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Wahai Rabb kami, hanya bagi-Mu lah segala puji), dan berdiri lama hampir sama lamanya dengan rukuk. Kemudian beliau sujud dan membaca “Subhaana rabbiyal a’laa” (Mahasuci Rabb-ku Yang Maha Luhur), lamanya hampir sama dengan berdiri.” (HR Muslim)
Rabu, 23 Oktober 2013
Bersungguh-sungguh dalam Beramal (2)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang beramal
Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: Pada suatu malam saya mengerjakan shalat bersama Nabi saw. beliau berdiri lama sekali, sehingga timbullah niat jelek saya.” Setelah selesai beliau bertanya: “Niat jelek apakah yang timbul di hatimu?” saya menjawab: “Saya berniat akan duduk dan akan meninggalkan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: bahwa Nabi saw. bersabda: “Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian dari sandal yang dipakainya, begitu juga neraka.” (HR Bukhari)
Dari Abu Firas Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslamiy, ia termasuk pelayan Rasulullah saw. dan termasuk Ahli Shuffah, ia berkata: Saya bermalam bersama Rasulullah saw. kemudian saya menyiapkan air untuk berwudlu dan kepentingan beliau yang lain, kemudian beliau bersabda: “Mintalah sesuatu kepadaku.” “Saya berharap agar bisa menemani engkau di surga.” Beliau bertanya: “Apakah tidak ada permintaan yang lain?” saya menjawab: “Hanya itu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bantulah saya untuk mengabulkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR Bukhari)
Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman Tsauban) sahaya Rasulullah saw. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja sujud karena Allah, niscaya Allah mengangkat satu derajat dan Allah menghapus satu kesalahanmu.” (HR Muslim)
Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busrin al-Aslamiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik pula amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi)
Dari Anas ra. ia berkata: Pamannya Anas bin an-Nadlir ra. tidak mengikuti perang Badar, ia mengaku: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya saya tidak bisa mengikuti awal peperangan melawan orang-orang musyrik. Seandainya Allah menakdirkan saya untuk bisa mengikuti peperangan melawan orang-orang musyrik niscaya Allah benar-benar akan melihat apa yang saya perbuat.” Ketika perang Uhud kaum Muslimin banyak yang melarikan diri, dia berkata: “Ya Allah, saya mohon maaf kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh kawan-kawanku, dimana mereka banyak yang melarikan diri dan musyrik.” Kemudian dia maju menghampiri Sa’ad bin Mu’adz seraya berkata: “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, demi Rabb-nya Ka’bah, sesungguhnya saya mencium bau syurga di dekat Uhud.” Sa’ad berkata: “Wahai Rasulullah saya tidak sanggup berbuat seperti apa yang dilakukannya.” Anas berkata: “Setelah perang Uhud usai saya menemukan pada dirinya delapan puluh lebih luka pedang, satu tikaman tombak dan satu tusukan panah. Kami menemukannya sudah terbunuh dan dicincang oleh orang-orang musyrik sehingga tidak ada satupun orang yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya dengan mengamati jari jemarinya.” Kemudian Anas berkata lagi: “Kami meyakini bahwa ayat yang artinya: Orang-orang yang menepati terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, itu diturunkan berhubungan dengan peristiwa orang-orang mukmin seperti Anas bin Nadlir ini.” (HR Muslim)
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshariy al-Badriy ra. ia berkata: Tatkala ayat tentang sedekah diturunkan, kami membawa (memanggul) sedekah kami. Ada seseorang yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya untuk disedekahkan. Kemudian orang-orang munafik berkata: “Allah tidak membutuhkan jika hanya satu gantang.” Kemudian turunlah ayat: “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mengejek orang-orang mukmin yang suka rela di dalam bersedekah dan orang-orang yang tidak mampu bersedekah kecuali dengan sekuat tenaganya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulaniy, dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra. dari Nabi saw. beliau menceritakan apa yang difirmankan oleh Allah: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan mendzalimi diri-Ku dan aku juga mengharamkannya kepada kamu semua, maka semua saling menganiaya. Hai hamba-Ku kamu semua itu tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mohonlah kepada-Ku petunjuk niscaya akan Aku beri petunjuk kepadamu. Wahai hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang-orang yang Aku beri makan, maka mohonlah makan kepada-Ku niscaya Aku akan memberi makan kepadamu semua. Wahai hamba-Ku, kalian semua orang yang telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan memberi pakaian kepada kamu semua. Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu berbuat dosa baik di malam maupun di siang hari dan Aku adalah Dzat Yang Mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberikan ampunan kepadamu. Wahai hamba-Ku, kamu semua tidak akan dapat berbuat sesuatu yang dapat merugikan-Ku dan tidak pula berbuat sesuatu yang menguntungkan Aku. Wahai hamba-Ku, seandainya orang dari yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin mereka itu berhati takwa seperti paling takwanya seseorang di antaramu, itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku, seandainya dari orang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin, berhati jahat seperti sejahat-jahatnya seseorang di antara kamu, itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku barang sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang yang terdahulu dan orang yang terakhir di antaramu, manusia dan jin mereka berada di bumi yang satu kemudian mereka meminta kepada-Ku, maka Aku memenuhi semua permintaanya, hal yang demikian itu tidaklah mengurangi sesuatu yang ada pada-Ku, sebagaimana sebatang jarum apabila dimasukkan ke laut. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah amal perbuatanmu. Aku mencatat semuanya, kemudian Kami membalasnya. Maka siapa saja yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah, dan siapa saja yang mendapatkan selain daripada itu, maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud dia berkata: Pada suatu malam saya mengerjakan shalat bersama Nabi saw. beliau berdiri lama sekali, sehingga timbullah niat jelek saya.” Setelah selesai beliau bertanya: “Niat jelek apakah yang timbul di hatimu?” saya menjawab: “Saya berniat akan duduk dan akan meninggalkan shalat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra, ia berkata: bahwa Nabi saw. bersabda: “Surga itu lebih dekat kepada salah seorang di antara kalian dari sandal yang dipakainya, begitu juga neraka.” (HR Bukhari)
Dari Abu Firas Rabi’ah bin Ka’ab al-Aslamiy, ia termasuk pelayan Rasulullah saw. dan termasuk Ahli Shuffah, ia berkata: Saya bermalam bersama Rasulullah saw. kemudian saya menyiapkan air untuk berwudlu dan kepentingan beliau yang lain, kemudian beliau bersabda: “Mintalah sesuatu kepadaku.” “Saya berharap agar bisa menemani engkau di surga.” Beliau bertanya: “Apakah tidak ada permintaan yang lain?” saya menjawab: “Hanya itu saja wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Bantulah saya untuk mengabulkan permintaanmu itu dengan memperbanyak sujud.” (HR Bukhari)
Dari Abu Abdullah (Abu Abdurrahman Tsauban) sahaya Rasulullah saw. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hendaklah kamu memperbanyak sujud. Sesungguhnya jika kamu sujud satu kali saja sujud karena Allah, niscaya Allah mengangkat satu derajat dan Allah menghapus satu kesalahanmu.” (HR Muslim)
Dari Abu Shafwan Abdullah bin Busrin al-Aslamiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang panjang umurnya dan baik pula amal perbuatannya.” (HR Tirmidzi)
Dari Anas ra. ia berkata: Pamannya Anas bin an-Nadlir ra. tidak mengikuti perang Badar, ia mengaku: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya saya tidak bisa mengikuti awal peperangan melawan orang-orang musyrik. Seandainya Allah menakdirkan saya untuk bisa mengikuti peperangan melawan orang-orang musyrik niscaya Allah benar-benar akan melihat apa yang saya perbuat.” Ketika perang Uhud kaum Muslimin banyak yang melarikan diri, dia berkata: “Ya Allah, saya mohon maaf kepada-Mu dari apa yang dilakukan oleh kawan-kawanku, dimana mereka banyak yang melarikan diri dan musyrik.” Kemudian dia maju menghampiri Sa’ad bin Mu’adz seraya berkata: “Wahai Sa’ad bin Mu’adz, demi Rabb-nya Ka’bah, sesungguhnya saya mencium bau syurga di dekat Uhud.” Sa’ad berkata: “Wahai Rasulullah saya tidak sanggup berbuat seperti apa yang dilakukannya.” Anas berkata: “Setelah perang Uhud usai saya menemukan pada dirinya delapan puluh lebih luka pedang, satu tikaman tombak dan satu tusukan panah. Kami menemukannya sudah terbunuh dan dicincang oleh orang-orang musyrik sehingga tidak ada satupun orang yang mengenalinya kecuali saudara perempuannya dengan mengamati jari jemarinya.” Kemudian Anas berkata lagi: “Kami meyakini bahwa ayat yang artinya: Orang-orang yang menepati terhadap apa yang telah mereka janjikan kepada Allah, itu diturunkan berhubungan dengan peristiwa orang-orang mukmin seperti Anas bin Nadlir ini.” (HR Muslim)
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshariy al-Badriy ra. ia berkata: Tatkala ayat tentang sedekah diturunkan, kami membawa (memanggul) sedekah kami. Ada seseorang yang datang dengan membawa harta sebanyak-banyaknya untuk disedekahkan. Kemudian orang-orang munafik berkata: “Allah tidak membutuhkan jika hanya satu gantang.” Kemudian turunlah ayat: “Orang-orang munafik yaitu orang-orang yang mengejek orang-orang mukmin yang suka rela di dalam bersedekah dan orang-orang yang tidak mampu bersedekah kecuali dengan sekuat tenaganya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Sa’id bin Abdul ‘Aziz, dari Rabi’ah bin Yazid, dari Abu Idris al-Khaulaniy, dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra. dari Nabi saw. beliau menceritakan apa yang difirmankan oleh Allah: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan mendzalimi diri-Ku dan aku juga mengharamkannya kepada kamu semua, maka semua saling menganiaya. Hai hamba-Ku kamu semua itu tersesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mohonlah kepada-Ku petunjuk niscaya akan Aku beri petunjuk kepadamu. Wahai hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali orang-orang yang Aku beri makan, maka mohonlah makan kepada-Ku niscaya Aku akan memberi makan kepadamu semua. Wahai hamba-Ku, kalian semua orang yang telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian, maka mohonlah pakaian kepada-Ku niscaya Aku akan memberi pakaian kepada kamu semua. Wahai hamba-Ku, kamu semua selalu berbuat dosa baik di malam maupun di siang hari dan Aku adalah Dzat Yang Mengampuni semua dosa, maka mohonlah ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberikan ampunan kepadamu. Wahai hamba-Ku, kamu semua tidak akan dapat berbuat sesuatu yang dapat merugikan-Ku dan tidak pula berbuat sesuatu yang menguntungkan Aku. Wahai hamba-Ku, seandainya orang dari yang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin mereka itu berhati takwa seperti paling takwanya seseorang di antaramu, itu tidak akan menambah kerajaan-Ku sedikitpun. Wahai hamba-Ku, seandainya dari orang pertama hingga yang terakhir dari kamu, manusia dan jin, berhati jahat seperti sejahat-jahatnya seseorang di antara kamu, itu tidak akan mengurangi kerajaan-Ku barang sedikitpun juga. Wahai hamba-Ku, jika orang yang terdahulu dan orang yang terakhir di antaramu, manusia dan jin mereka berada di bumi yang satu kemudian mereka meminta kepada-Ku, maka Aku memenuhi semua permintaanya, hal yang demikian itu tidaklah mengurangi sesuatu yang ada pada-Ku, sebagaimana sebatang jarum apabila dimasukkan ke laut. Wahai hamba-Ku, sesungguhnya semua itu adalah amal perbuatanmu. Aku mencatat semuanya, kemudian Kami membalasnya. Maka siapa saja yang mendapatkan kebaikan, hendaklah bersyukur kepada Allah, dan siapa saja yang mendapatkan selain daripada itu, maka janganlah menyalahkan kecuali dirinya sendiri.” (HR Muslim)
Memperbanyak Amal Shalih, terutama ketika lanjut usia
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Amal Shalih
Allah berfirman: “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (Faathir: 37)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai enam puluh tahun.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas ia berkata: Umar mengajak aku ke sebuah diskusi yang diikuti oleh orang-orang yang pernah mengikuti perang Badr yang terdiri dari orang tua, seakan-akan saya disejajarkan dengan mereka, kemudian ada seseorang yang bertanya: “Kenapa pemuda ini disejajarkan dalam kelompok kita? Padahal kita juga punya anak yang sebaya dengannya.” Umar menjawab: “Itu pendapat kalian?” pada suatu hari Umar memanggil saya dan saya datang bersama-sama dengan para shahabat, dan saya tahu Umar memanggil saya pada hari itu adalah untuk menunjukkan kelebihan saya kepada mereka. Kemudian Umar berkata: “Apakah pendapat kalian terhadap firman Allah yang berbunyi: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath?” salah seorang di antara mereka menjawab: “Kami diperintahkan untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah apabila kita mendapat pertolongan dan kemenangan.” Para shahabat lain terdiam, kemudian Umar bertanya kepada saya: “Apakah pendapatmu juga seperti itu wahai Ibnu Abbas?” saya menjawab: “Tidak.” Umar bertanya lagi: “lalu bagaimana pendapatmu?” saya menjawab: “Allah memberitahu kepada Rasulullah saw. bahwa ayat itu merupakan isyarat dekatnya kewafatan beliau. Yaitu firman Allah: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath (Apabila telah datang pertolongan dan kemenangan dari Allah), itu adalah tanda dekatnya ajalmu wahai Muhammad, maka sucikanlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Tobat.” Kemudian Umar ra. berkata: “Saya tidak mengetahui kandungan ayat itu melebihi apa yang kamu katakan.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah ra. ia berkata: “Sesudah turun ayat: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath, dalam shalatnya beliau membaca: subhaanaka rabbanaa wa bihamdika allaaHummaghfirlii (Mahasuci Engkau wahai Rabb kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah saya)” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain, Aisyah berkata: “Rasulullah saw. sebelum meninggal dunia memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHumma rabbanaa wa bihamdika allaaHumaghfirlii di dalam rukuk dan sujudnya, untuk memenuhi perintah al-Qur’an.
Dikatakan di dalam riwayat Muslim: “Rasulullah sebelum meninggal memperbanyak bacaan: subhaanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaika (Mahasuci Engkau ya Allah, saya mohon ampun dan bertobat kepada-Mu), kemudian Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah apakah pengertian dari bacaanmu?” Beliau menjawab: “Saya diberi tanda tentang umatku, bila saya melihat tanda itu, maka saya membaca kalimat: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath, sampai akhir surat.
Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. senantiasa memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH. ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa engkau sekarang memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH ?” Beliau menjawab: “Rabb telah memberitahu bahwa bila saya melihat tanda tentang umatku, maka saya memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH, dan saya benar-benar telah melihat tanda itu, yaitu dengan turun ayat yang artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”
Dari Anas ra. ia berkata: “Sesungguhnya Allah selalu menyambungkan wahyu kepada Rasulullah saw. terutama menjalang kewafatan beliau, sampai-sampai saat-saat kewafatannya, beliau sering sekali menerima wahyu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Setiap hamba itu akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan keadaannya ketika dia mati.” (HR Muslim)
Allah berfirman: “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (Faathir: 37)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Allah telah memberi kesempatan kepada seseorang yang dipanjangkan usianya sampai enam puluh tahun.” (HR Bukhari)
Dari Ibnu Abbas ia berkata: Umar mengajak aku ke sebuah diskusi yang diikuti oleh orang-orang yang pernah mengikuti perang Badr yang terdiri dari orang tua, seakan-akan saya disejajarkan dengan mereka, kemudian ada seseorang yang bertanya: “Kenapa pemuda ini disejajarkan dalam kelompok kita? Padahal kita juga punya anak yang sebaya dengannya.” Umar menjawab: “Itu pendapat kalian?” pada suatu hari Umar memanggil saya dan saya datang bersama-sama dengan para shahabat, dan saya tahu Umar memanggil saya pada hari itu adalah untuk menunjukkan kelebihan saya kepada mereka. Kemudian Umar berkata: “Apakah pendapat kalian terhadap firman Allah yang berbunyi: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath?” salah seorang di antara mereka menjawab: “Kami diperintahkan untuk memuji dan memohon ampunan kepada Allah apabila kita mendapat pertolongan dan kemenangan.” Para shahabat lain terdiam, kemudian Umar bertanya kepada saya: “Apakah pendapatmu juga seperti itu wahai Ibnu Abbas?” saya menjawab: “Tidak.” Umar bertanya lagi: “lalu bagaimana pendapatmu?” saya menjawab: “Allah memberitahu kepada Rasulullah saw. bahwa ayat itu merupakan isyarat dekatnya kewafatan beliau. Yaitu firman Allah: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath (Apabila telah datang pertolongan dan kemenangan dari Allah), itu adalah tanda dekatnya ajalmu wahai Muhammad, maka sucikanlah dengan memuji Rabb-mu dan mohonlah ampunan kepada-Nya karena Dia-lah Zat Yang Maha Penerima Tobat.” Kemudian Umar ra. berkata: “Saya tidak mengetahui kandungan ayat itu melebihi apa yang kamu katakan.” (HR Bukhari)
Dari Aisyah ra. ia berkata: “Sesudah turun ayat: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath, dalam shalatnya beliau membaca: subhaanaka rabbanaa wa bihamdika allaaHummaghfirlii (Mahasuci Engkau wahai Rabb kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah saya)” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim yang lain, Aisyah berkata: “Rasulullah saw. sebelum meninggal dunia memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHumma rabbanaa wa bihamdika allaaHumaghfirlii di dalam rukuk dan sujudnya, untuk memenuhi perintah al-Qur’an.
Dikatakan di dalam riwayat Muslim: “Rasulullah sebelum meninggal memperbanyak bacaan: subhaanaka wa bihamdika astaghfiruka wa atuubu ilaika (Mahasuci Engkau ya Allah, saya mohon ampun dan bertobat kepada-Mu), kemudian Aisyah bertanya: “Ya Rasulullah apakah pengertian dari bacaanmu?” Beliau menjawab: “Saya diberi tanda tentang umatku, bila saya melihat tanda itu, maka saya membaca kalimat: idzaa jaa-a nashrullaaHi wal fath, sampai akhir surat.
Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. senantiasa memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH. ‘Aisyah bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa engkau sekarang memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH ?” Beliau menjawab: “Rabb telah memberitahu bahwa bila saya melihat tanda tentang umatku, maka saya memperbanyak bacaan: subhaanakallaaHi wabihamdiHi astaghfirullaHa wa atuubu ilaiiH, dan saya benar-benar telah melihat tanda itu, yaitu dengan turun ayat yang artinya: “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.”
Dari Anas ra. ia berkata: “Sesungguhnya Allah selalu menyambungkan wahyu kepada Rasulullah saw. terutama menjalang kewafatan beliau, sampai-sampai saat-saat kewafatannya, beliau sering sekali menerima wahyu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Setiap hamba itu akan dibangkitkan dari kuburnya sesuai dengan keadaannya ketika dia mati.” (HR Muslim)
Selasa, 22 Oktober 2013
Tangisan Iblis
Dalam Kitab Al Jami' Liahkam Al-Qur'an karya Imam Al Qurthubi dijelaskan bahwa ada 3 hal yang bisa menyebabkan iblis menangis dengan sekeras-kerasnya.
1) PERTAMA, Ketika diturunkannya Surat Al Fatihah, yang mana surat ini adalah surat yang palingafdhol di dalam Al-Qur'an. Jadi dimanapun dan kapanpun surat alfatihah dibaca, iblis laknatullah akan menjerit dan menangis.
2) KEDUA, Kelahiran Nabi MuhammadSAW, makhluk yang paling mulia sejagad raya. Karena berkat bimbingan Beliau, orang yang sudah memiliki dosa setumpuk gunung bisa terhapus dosanya hanya dengan mengucapkan syahadat saja.
Sebagai contoh saja, pada zaman Rasulullah SAW ada orang yang tua renta kisaran berumur 100 tahun lebih mengadu kepada Rasulullah SAW.
"Ya Rasulullah, apakah agamamu bisa menghapuskan dosa-dosa yang telah aku perbuat, yang mana dosaku setumpuk gunung, berzina, mabuk, berjudi dan sebagainya dan kalau dikumpulkan akan melebihi dosa orang yang paling banyak dosanya di muka bumi ini," kata orang tua itu.
"Bisa," jawab Rasulullah SAW
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya orang tua itu.
Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Ucapkanlah Syahadat."
Kemudian orang tua itu pergi menuju rumahnya.
Selang 3 hari kemudian terdengarkabar kalau orang tua itu meninggal dunia dan Rasulullah SAW pun bersabda,
"Orang tersebut termasuk golongan orang yang masuk surga."
3) KETIGA, Ucapan salam.
Ternyata ucapan salam dari seorang mukmin pada mukmin lainnya bisa membuat iblis menangis dengan kerasnya.
Hal ini seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra, Ibnu Abbas berkata :
"Sesungguhnya iblis yang terkutuk itu akan menangispada saat seorang mukmin bersalam dan dia (iblis) berkata :
"Aduh, celakanya, kedua mukmin itu tidak akan berpisah melainkanakan diampuni dosa-dosanya."
Rasulullah SAW sendiri sangat menekankan ucapan salam bagi seorang mukmin sebelum perkataan lain diucapkan. Dalam hadits, Rasulullah SAW bersabda :
"Barang siapa yang berbicara sebelum memberi salam, maka janganlah kamujawab."
Hadits lainnya ada yang mengatakan. Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang berkendaraan hendaklah memberi salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki hendaklah memberi salam kepada orang yang duduk, dan orang yang sedikit hendaklah memberi salam kepada orang yang banyak."
Itulah 3 hal yang bisa membuat iblis menangis dengan keras. Sungguh sangatlah beruntung kita ini dengan lahirnya Nabi Muhammad SAW.
"Allahumma Sholli 'Alaa Muhammad..."
Banyaknya Jalan Kebaikan (1)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Jalan kebaikan
Allah berfirman: “Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)
Allah berfirman: “Dan apa saja yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.”
Allah berfirman: “Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (az-Zalzalah: 6)
Allah berfirman: “Siapa saja yang mengerjakan amal shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri.” (Fush-shilat: 46)
Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra. ia bertanya kepada Rasulullah saw.: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya: “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Memerdekakan budak ketika disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya.” Saya bertanya: “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang demikian lalu bagaimana?” Beliau menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia. Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu untuk melakukan sebagian pekerjaan itu?” Beliau menjawab: “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirirmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (subhaanallaaH) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (alhamdulillaaH) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (laa ilaaHa illallaaH) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (allaHu akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar (yang dibenci) adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan seseorang shalat Dluha telah mencukupi semuanya.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: orang-orang protes kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi bersabda: “Bukankah Rabb telah menjadikan sesuatu bagimu untuk sedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih, tahmid, adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan, melarang berbuat kemungkaran dan bersetubuh (dengan istrinya) adalah sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia mengikuti syahwatnya?” Rasulullah bersabda: “Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia menempatkan syahwatnya itu pada yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan, walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ramah.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap terbitnya matahari (sebagai pernyataan syukur kepada Allah untuk keselamatan tulang-tulangnya). Dan macam sedekah itu banyak sekali. Diantaranya berlaku adil di antara dua orang (yang sedang bertengkar), membantu teman ketika hendak menaiki tunggangannya atau memuatkan barang temannya ke punggungnya, ucapan yang baik, setiap langkah untuk melakukan shalat, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan, adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits riwayat Muslim, dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya, setiap anak cucu Adam diciptakan sebanyak 360 ruas tulang. Maka siapa saja mengagungkan Allah (membaca takbir), memuji Allah dengan membaca hamdalah (alhamdulillaaH), membaca tasbih (subhaanallaaH), membaca istighfar (astaghfirullaaH), menyingkirkan batu dari jalanan, menyingkirkan duri atau tulang dari jalan umum, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, hingga genap 360 kali, berarti pada sore hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka.”
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Siapa saja yang pergi ke masjid di pagi hari maupun sore hari, Allah menyediakan hidangan surga baginya sepanjang pagi maupun sore.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan: laa ilaaHa illallaaH (tidak ada tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah cabang dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Kali tertentu ada seorang laki-laki yang berjalan. Di tengah perjalanan ia kehausan, ia menemukan sebuah sumur maka iapun turun ke dalamnya dan meminumnya. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan, lantas orang itu berkata: “Anjing ini benar-benar kehausan sebagaimana diriku.” Kemudian dia turun lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh, kemudian dia menggigit sepatunya dan naik ke atas lalu ia memberinya minum. Allah memuji perbuatan orang itu karena menolong anjing dan Allah mengampuni dosanya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Beliau menjawab:”Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa itu mendapatkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan: “Allah memuji perbuatan orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya ke dalam surga.” Dalam riwayat Bukhari dan Muslim lain disebutkan: “Kali tertentu ada seekor anjing yang berputar-putar di sekeliling sumur, ia hampir mati karena kehausan, ada seorang penjahat dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Melihat yang demikian itu, ia melepaskan sepatunya dan mengambil air untuk diminumkan pada anjing itu. Karena perbuatannya itu, diampunilah dosa-dosa penjahat itu.”
Allah berfirman: “Dan apa saja kebaikan yang kamu perbuat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 215)
Allah berfirman: “Dan apa saja yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.”
Allah berfirman: “Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (az-Zalzalah: 6)
Allah berfirman: “Siapa saja yang mengerjakan amal shalih maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri.” (Fush-shilat: 46)
Dari Abu Dzarr Jundub bin Junadah ra. ia bertanya kepada Rasulullah saw.: “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan berjuang di jalan-Nya.” Saya bertanya: “Memerdekakan budak yang bagaimana yang paling utama?” Beliau menjawab: “Memerdekakan budak ketika disayang oleh tuannya dan yang paling mahal harganya.” Saya bertanya: “Seandainya saya tidak mampu berbuat yang demikian lalu bagaimana?” Beliau menjawab: “Kamu membantu orang yang bekerja atau kamu menyibukkan diri agar hidupmu tidak sia-sia. Saya bertanya lagi: “Wahai Rasulullah, bagaimana jika saya tidak mampu untuk melakukan sebagian pekerjaan itu?” Beliau menjawab: “Janganlah kamu berbuat kejahatan kepada sesama manusia, karena sesungguhnya yang demikian itu termasuk sedekah untuk dirirmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Setiap pagi, pada ruas tulang kalian terdapat sedekah, setiap ucapan tasbih (subhaanallaaH) adalah sedekah, setiap ucapan tahmid (alhamdulillaaH) adalah sedekah, setiap ucapan tahlil (laa ilaaHa illallaaH) adalah sedekah, setiap ucapan takbir (allaHu akbar) adalah sedekah, memerintah kebaikan adalah sedekah, mencegah perkara mungkar (yang dibenci) adalah sedekah. Dan dua rakaat yang dikerjakan seseorang shalat Dluha telah mencukupi semuanya.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: orang-orang protes kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong pahala, mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Tetapi mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi bersabda: “Bukankah Rabb telah menjadikan sesuatu bagimu untuk sedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih, tahmid, adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan, melarang berbuat kemungkaran dan bersetubuh (dengan istrinya) adalah sedekah.” Mereka bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah salah seorang di antara kami mendapatkan pahala sedangkan ia mengikuti syahwatnya?” Rasulullah bersabda: “Bukankah seseorang yang menyalurkan syahwatnya pada yang haram ia berdosa? Maka demikian pula apabila ia menempatkan syahwatnya itu pada yang halal, ia akan mendapatkan pahala.” (HR Muslim)
Dari Abu Dzarr ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu kebaikan, walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ramah.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap ruas tulang manusia sebaiknya disedekahi (oleh pemiliknya) setiap terbitnya matahari (sebagai pernyataan syukur kepada Allah untuk keselamatan tulang-tulangnya). Dan macam sedekah itu banyak sekali. Diantaranya berlaku adil di antara dua orang (yang sedang bertengkar), membantu teman ketika hendak menaiki tunggangannya atau memuatkan barang temannya ke punggungnya, ucapan yang baik, setiap langkah untuk melakukan shalat, dan menyingkirkan sesuatu yang membahayakan orang di jalan, adalah sedekah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits riwayat Muslim, dari Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya, setiap anak cucu Adam diciptakan sebanyak 360 ruas tulang. Maka siapa saja mengagungkan Allah (membaca takbir), memuji Allah dengan membaca hamdalah (alhamdulillaaH), membaca tasbih (subhaanallaaH), membaca istighfar (astaghfirullaaH), menyingkirkan batu dari jalanan, menyingkirkan duri atau tulang dari jalan umum, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, hingga genap 360 kali, berarti pada sore hari ia telah menjauhkan dirinya dari neraka.”
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Siapa saja yang pergi ke masjid di pagi hari maupun sore hari, Allah menyediakan hidangan surga baginya sepanjang pagi maupun sore.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Wahai kaum muslimah, janganlah sekali-kali seorang tetangga itu merasa terhina untuk memberi sedekah kepada tetangganya, walaupun hanya berupa kikil kambing.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Iman itu mempunyai tujuh puluh atau enam puluh lebih cabang, yang paling utama adalah ucapan: laa ilaaHa illallaaH (tidak ada tuhan selain Allah), dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Sedangkan malu adalah cabang dari iman.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Kali tertentu ada seorang laki-laki yang berjalan. Di tengah perjalanan ia kehausan, ia menemukan sebuah sumur maka iapun turun ke dalamnya dan meminumnya. Kemudian ia keluar, tiba-tiba ada seekor anjing yang menjilat-jilat tanah karena kehausan, lantas orang itu berkata: “Anjing ini benar-benar kehausan sebagaimana diriku.” Kemudian dia turun lagi dan mengisi sepatunya dengan air sampai penuh, kemudian dia menggigit sepatunya dan naik ke atas lalu ia memberinya minum. Allah memuji perbuatan orang itu karena menolong anjing dan Allah mengampuni dosanya.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah menolong binatang juga memperoleh pahala?” Beliau menjawab:”Menolong setiap makhluk yang mempunyai limpa itu mendapatkan pahala.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan: “Allah memuji perbuatan orang itu dan memberi ampunan kepadanya serta memasukkannya ke dalam surga.” Dalam riwayat Bukhari dan Muslim lain disebutkan: “Kali tertentu ada seekor anjing yang berputar-putar di sekeliling sumur, ia hampir mati karena kehausan, ada seorang penjahat dari Bani Israil yang melihat anjing itu. Melihat yang demikian itu, ia melepaskan sepatunya dan mengambil air untuk diminumkan pada anjing itu. Karena perbuatannya itu, diampunilah dosa-dosa penjahat itu.”
Banyaknya Jalan Kebaikan (2)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Jalan kebaikan
Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda: “Kulihat ada seseorang yang bersenang-senang di dalam surga disebabkan ia memotong dahan yang berada di tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin yang lewat.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain: “Ada seseorang yang berjalan dan ia terganggu sebuah dahan yang menghalanginya, kemudian ia berkata: “Demi Allah saya akan menyingkirkan dahan ini dari jalan, agar tidak mengganggu kaum muslimin yang lewat. Karena perbuatannya itu, ia dimasukkan surga.”
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: “Ada seseorang yang berjalan dan menemukan dahan yang berduri di jalan, kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan mengampuni dosa-dosanya.”
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang berwudlu dengan sempurna, kemudian menunaikan shalat Jumat dan mendengarkan serta memperhatikan khotbah, maka diampuni dosa-dosa yang dilakukannya antara hari itu sampai hari Jumat berikutnya, ditambah tiga hari berikutnya. Dan siapa saja yang mempermainkan batu sewaktu ada khutbah maka sia-sialah Jumatnya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika orang Muslim atau mukmin itu berwudlu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, karena digunakan berjalan pada jalan yang tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Shalat lima waktu, antara shalat Jumat yang satu ke shalat Jumat berikutnya, dan puasa pada bulan Ramadlan ke puasa Ramadlan berikutnya, menjadi penebus atas dosa-dosa yang dilakukan, selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat mengangkat derajat (di surga)?” para shahabat menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” “Yaitu menyempurnakan wudlu pada waktu-waktu yang tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat. Itulah yang harus kalian utamakan.” (HR Muslim)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang selalu menjaga shalat shubuh dan shalat asyar niscaya ia masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat.” (HR Bukhari)
Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari)
Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian dia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, binatang maupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”
Dari Jabir ra. ia berkata: orang-orang Bani Salimah ingin berpindah rumah dekat dengan masjid, kemudian kabar itu terdengar Rasulullah saw. maka beliau bersabda kepada mereka: “Aku mendengar bahwa kalian ingin pindah tempat yang dekat dengan masjid.” Mereka menjawab: “Benar wahai Rasulallah, kami ingin pindah dekat dengan masjid.” Beliau bersabda: “Wahai Bani Salimah tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat. Tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap langkah itu mengangkat satu derajat.”
Dari Abu Mudzir Ubay bin Ka’ab ra. Ia berkata: Ada seseorang yang sepanjang pengetahuan saya, tidak ada seorangpun yang lebih jauh tempat tinggalnya dari masjid dan ia tidak pernah tertinggal shalat di masjid. Ada seseorang yang menyarankan: “Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu naiki pada waktu gelap dan pada waktu panas, niscaya kamu tidak begitu lelah.” Ia menjawab: “Saya tidak suka bila rumah saya dekat dengan masjid. Sesungguhnya saya menginginkan agar perjalanan saya, baik sewaktu pergi ke masjid maupun pulang ke rumah, itu selalu dicatat.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Allah telah mengumpulkan semua catatan itu bagi kamu.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Bagimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra. Ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Adalah empat puluh perbuatan, dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing untuk diperas susunya. Dan siapa saja yang mengerjakan salah satu di antara empat puluh itu hanya mengharapkan pahala dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikannya, niscaya Allah akan memasukkan surga karena amalnya.” (HR Bukhari)
Dari ‘Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kamu sekalian terhadap api neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Salah seorang di antara kalian nanti akan berbicara langsung dengan Rabb-nya, padahal antara dia dengan Rabbnya tidak ada penerjemah, kemudian dia melihat ke kanan tiada terlihat kecuali amal yang pernah dilakukannya, kemudian ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali api tepat di depan mukanya, maka takutlah kalian terhadap api itu walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma. Siapa saja yang tidak mampu, maka cukup dengan kata-kata yang baik.”
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah ridla terhadap seseorang, yang apabila makan makanan ia memuji kepada-Nya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Setiap orang Islam itu wajib besedekah.” Salah seorang shahabat bertanya: “Bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia berbuat dengan kedua tangannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan dapat pula untuk disedekahkan.” Ia bertanya: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia membantu orang yang sangat membutuhkan bantuannya.” Ia bertanya lagi: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan?” Beliau menjawab: “Hendaknya ia menyuruh orang lain untuk berbuat baik.” Ia bertanya lagi: “Bagaimana seandainya ia juga tidak mampu untuk berbuat seperti itu?” Beliau menjawab: “hendaknya ia mencegah dirinya dari perbuatan keji, karena mencegah dirinya dari perbuatan keji termasuk sedekah.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw. bersabda: “Kulihat ada seseorang yang bersenang-senang di dalam surga disebabkan ia memotong dahan yang berada di tengah jalan karena mengganggu kaum muslimin yang lewat.” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain: “Ada seseorang yang berjalan dan ia terganggu sebuah dahan yang menghalanginya, kemudian ia berkata: “Demi Allah saya akan menyingkirkan dahan ini dari jalan, agar tidak mengganggu kaum muslimin yang lewat. Karena perbuatannya itu, ia dimasukkan surga.”
Dalam riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan: “Ada seseorang yang berjalan dan menemukan dahan yang berduri di jalan, kemudian ia menyingkirkannya, maka Allah memuji orang itu dan mengampuni dosa-dosanya.”
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Siapa saja yang berwudlu dengan sempurna, kemudian menunaikan shalat Jumat dan mendengarkan serta memperhatikan khotbah, maka diampuni dosa-dosa yang dilakukannya antara hari itu sampai hari Jumat berikutnya, ditambah tiga hari berikutnya. Dan siapa saja yang mempermainkan batu sewaktu ada khutbah maka sia-sialah Jumatnya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika orang Muslim atau mukmin itu berwudlu, maka ketika ia membasuh mukanya, keluarlah setiap dosa yang dilakukan oleh kedua matanya, karena melihat sesuatu yang diharamkan. Hilangnya bersama-sama dengan air itu atau bersama-sama tetesan air terakhir. Jika ia membasuh kakinya, maka keluarlah dosa yang diperbuat oleh kedua kakinya, karena digunakan berjalan pada jalan yang tidak benar, bersama-sama dengan air atau bersama-sama dengan tetesan air terakhir, sehingga ia bersih dari dosa.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw. bersabda: “Shalat lima waktu, antara shalat Jumat yang satu ke shalat Jumat berikutnya, dan puasa pada bulan Ramadlan ke puasa Ramadlan berikutnya, menjadi penebus atas dosa-dosa yang dilakukan, selama dosa-dosa besar dijauhinya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bertanya: “Maukah kalian kutunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa-dosa dan dapat mengangkat derajat (di surga)?” para shahabat menjawab: “Tentu saja ya Rasulullah.” “Yaitu menyempurnakan wudlu pada waktu-waktu yang tidak disukai, memperbanyak langkah ke masjid dan menunggu shalat setelah selesai shalat. Itulah yang harus kalian utamakan.” (HR Muslim)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Siapa saja yang selalu menjaga shalat shubuh dan shalat asyar niscaya ia masuk surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Musa al-Asy’ari ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila seseorang menderita sakit atau sedang bepergian, maka dicatatlah pahala baginya amal perbuatan yang biasa dikerjakannya pada waktu tidak bepergian dan pada waktu sehat.” (HR Bukhari)
Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Setiap perbuatan baik adalah sedekah.” (HR Bukhari)
Dari Jabir ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Seorang muslim yang menanam tanaman, kemudian dia makan dari hasil tanaman itu termasuk sedekah baginya, juga bila hasil tanaman itu dicuri atau diambil orang, maka ia termasuk sedekah baginya.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan: “Seorang muslim yang menanam tanaman atau menabur benih kemudian hasil tanamannya itu dimakan oleh manusia, binatang maupun sesuatu yang lain, maka semua itu merupakan sedekah baginya sampai hari kiamat.”
Dari Jabir ra. ia berkata: orang-orang Bani Salimah ingin berpindah rumah dekat dengan masjid, kemudian kabar itu terdengar Rasulullah saw. maka beliau bersabda kepada mereka: “Aku mendengar bahwa kalian ingin pindah tempat yang dekat dengan masjid.” Mereka menjawab: “Benar wahai Rasulallah, kami ingin pindah dekat dengan masjid.” Beliau bersabda: “Wahai Bani Salimah tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat. Tetaplah kamu di rumahmu yang sekarang, karena bekas langkahmu akan dicatat.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Setiap langkah itu mengangkat satu derajat.”
Dari Abu Mudzir Ubay bin Ka’ab ra. Ia berkata: Ada seseorang yang sepanjang pengetahuan saya, tidak ada seorangpun yang lebih jauh tempat tinggalnya dari masjid dan ia tidak pernah tertinggal shalat di masjid. Ada seseorang yang menyarankan: “Seandainya kamu membeli keledai yang dapat kamu naiki pada waktu gelap dan pada waktu panas, niscaya kamu tidak begitu lelah.” Ia menjawab: “Saya tidak suka bila rumah saya dekat dengan masjid. Sesungguhnya saya menginginkan agar perjalanan saya, baik sewaktu pergi ke masjid maupun pulang ke rumah, itu selalu dicatat.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Allah telah mengumpulkan semua catatan itu bagi kamu.” (HR Muslim)
Dalam riwayat lain dikatakan: “Bagimu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.”
Dari Abu Muhammad Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash ra. Ia berkata: Rasulullah saw. Bersabda: “Adalah empat puluh perbuatan, dan yang paling utama adalah mendermakan seekor kambing untuk diperas susunya. Dan siapa saja yang mengerjakan salah satu di antara empat puluh itu hanya mengharapkan pahala dan melaksanakan apa yang pernah dijanjikannya, niscaya Allah akan memasukkan surga karena amalnya.” (HR Bukhari)
Dari ‘Adiy bin Hatim ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Takutlah kamu sekalian terhadap api neraka walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan, sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Salah seorang di antara kalian nanti akan berbicara langsung dengan Rabb-nya, padahal antara dia dengan Rabbnya tidak ada penerjemah, kemudian dia melihat ke kanan tiada terlihat kecuali amal yang pernah dilakukannya, kemudian ia melihat ke kiri tiada terlihat kecuali api tepat di depan mukanya, maka takutlah kalian terhadap api itu walaupun hanya bersedekah dengan separuh biji kurma. Siapa saja yang tidak mampu, maka cukup dengan kata-kata yang baik.”
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah ridla terhadap seseorang, yang apabila makan makanan ia memuji kepada-Nya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Musa ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Setiap orang Islam itu wajib besedekah.” Salah seorang shahabat bertanya: “Bagaimana jika ia tidak mempunyai apa-apa?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia berbuat dengan kedua tangannya, sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan bagi dirinya dan dapat pula untuk disedekahkan.” Ia bertanya: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu berbuat seperti itu?” Beliau menjawab: “Hendaklah ia membantu orang yang sangat membutuhkan bantuannya.” Ia bertanya lagi: “Bagaimana seandainya ia tidak mampu memberi bantuan?” Beliau menjawab: “Hendaknya ia menyuruh orang lain untuk berbuat baik.” Ia bertanya lagi: “Bagaimana seandainya ia juga tidak mampu untuk berbuat seperti itu?” Beliau menjawab: “hendaknya ia mencegah dirinya dari perbuatan keji, karena mencegah dirinya dari perbuatan keji termasuk sedekah.” (HR Muslim)
Tidak berlebih-lebihan dalam Beribadah (1)
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits tentang Hemat dalam Beribadah
Allah berfirman: “ThaaHaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah.” (ThaaHaa: 1-2)
Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)
Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk ke rumah Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya: “Siapakah dia?” Aisyah menjawab: “Ini adalah fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda: “Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah. Dia tidak akan pernah jemu menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Tiga orang datang ke rumah istri Nabi saw. mempertanyakan tentang ibadah Nabi saw. Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi itu hanya sedikit dan mereka berkata: “Dimanakah tempat kami dibanding Nabi saw. padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” salah seorang di antara mereka berkata: “Saya selamanya shalat sepanjang malam.” Yang lain berkata: “Saya selamanya berpuasa.” Yang lain lagi berkata: “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya.” Kemudian Rasulullah saw. datang dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunah-sunahku) siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan.” Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang mempersulit agama, maka ia akan kalah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, dekatkan diri kalian (kepada Allah) dan bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore serta sedikit dari waktu malam (untuk mendekatkan diri)” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sedang-sedanglah, dekatkan dirimu dan pergunakan waktu pagi dan sore serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan sampai tujuan.”
Dari Anas ra. ia berkata: Nabi saw. masuk ke dalam masjid dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang, beliau lantas bertanya: “Tali apakah ini?” Para shahabat menjawab: “Zainab yang memasangnya, dan tali ini dipergunakan sebagai pegangan bila terasa lelah dalam shalatnya.” Nabi saw. bersabda: “Lepaskanlah tali itu, jika di antara kalian shalat dalam keadaan segar, jika merasa lelah, tidurlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk dalam shalatnya hendaklah ia tidur, sehingga hilang rasa kantuknya. Karena apabila seseorang di antara kalian shalat sedangkan ia mengantuk, maka ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ia malahan mencela dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah Jabir bin Samurah as-Sawani ra. ia berkata: “Seringkali saya shalat bersama Nabi saw. tetapi di dalam shalat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek.” (HR Muslim)
Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah ra. ia berkata: Nabi saw. mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia mendapatkan Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) sedang mengenakan pakaian kerja, lantas Salman bertanya: “Mengapa engkau tidak berhias?” Ummu Darda’ menjawab: “Abu Darda’ sudah tidak lagi memperhatikan kepentingan duniawi.”Kemudian Abu Darda’ datang dan dihidangkanlah makanan, berkata kepada Salman: “Silakan makan, saya sedang berpuasa.” Salman menjawab: “Saya tidak akan makan sebelum engkau makan.” Maka Abu Darda’pun makan. Di malam harinya Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam, namun Salman berkata kepadanya: “Tidurlah.” Kemudian di akhir malam, Salman berkata: “Bangunlah. Kita shalat bersama-sama.” Dan Salman berkata pula kepadanya: “Sesungguhnya bagi Rabb-mu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak, maka penuhilah semuanya.” Kemudian Nabi saw. datang dan Salman menceritakan apa yang baru saja terjadi, maka beliau memutuskan: “Salman benar.” (HR Bukhari)
Allah berfirman: “ThaaHaa. Kami tidak menurunkan al-Qur’an kepadamu agar kamu menjadi susah.” (ThaaHaa: 1-2)
Allah berfirman: “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)
Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. masuk ke rumah Aisyah waktu itu ada seorang perempuan, dan beliau bertanya: “Siapakah dia?” Aisyah menjawab: “Ini adalah fulanah yang terkenal shalatnya.” Nabi bersabda: “Wahai fulanah, beramallah sesuai kemampuanmu. Demi Allah. Dia tidak akan pernah jemu menerima amalmu, sehingga kamu sendirilah yang merasa jemu. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah yaitu yang dikerjakan secara terus menerus.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Tiga orang datang ke rumah istri Nabi saw. mempertanyakan tentang ibadah Nabi saw. Setelah diberitahu, mereka menganggap seakan-akan amal ibadah Nabi itu hanya sedikit dan mereka berkata: “Dimanakah tempat kami dibanding Nabi saw. padahal beliau telah diampuni semua dosanya baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” salah seorang di antara mereka berkata: “Saya selamanya shalat sepanjang malam.” Yang lain berkata: “Saya selamanya berpuasa.” Yang lain lagi berkata: “Saya akan menjauhkan diri dari perempuan dan tidak akan kawin selama-lamanya.” Kemudian Rasulullah saw. datang dan bersabda kepada mereka: “Kalian tadi berbicara begini dan begitu? Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut dan paling takwa kepada Allah di antara kalian, tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku shalat dan aku tidur malam, aku juga mengawini perempuan. (Itulah sunah-sunahku) siapa saja yang benci terhadap sunahku, maka ia bukan termasuk golonganku.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ibnu Mas’ud ra. ia berkata: Nabi saw. bersabda: “Binasalah orang-orang yang keterlaluan dan berlebih-lebihan.” Beliau mengulanginya sebanyak tiga kali. (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya agama itu mudah, dan siapa saja yang mempersulit agama, maka ia akan kalah. Oleh karena itu sedang-sedanglah, dekatkan diri kalian (kepada Allah) dan bersuka hatilah kalian serta pergunakanlah waktu pagi, sore serta sedikit dari waktu malam (untuk mendekatkan diri)” (HR Bukhari)
Dalam riwayat lain dikatakan, Rasulullah saw. bersabda: “Sedang-sedanglah, dekatkan dirimu dan pergunakan waktu pagi dan sore serta sedikit dari waktu malam. Bersahajalah, niscaya kalian akan sampai tujuan.”
Dari Anas ra. ia berkata: Nabi saw. masuk ke dalam masjid dan menemukan tali yang terpasang memanjang antara dua tiang, beliau lantas bertanya: “Tali apakah ini?” Para shahabat menjawab: “Zainab yang memasangnya, dan tali ini dipergunakan sebagai pegangan bila terasa lelah dalam shalatnya.” Nabi saw. bersabda: “Lepaskanlah tali itu, jika di antara kalian shalat dalam keadaan segar, jika merasa lelah, tidurlah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Aisyah ia berkata: Sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian mengantuk dalam shalatnya hendaklah ia tidur, sehingga hilang rasa kantuknya. Karena apabila seseorang di antara kalian shalat sedangkan ia mengantuk, maka ia tidak akan tahu, mungkin ia bermaksud meminta ampun tetapi ia malahan mencela dirinya sendiri.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah Jabir bin Samurah as-Sawani ra. ia berkata: “Seringkali saya shalat bersama Nabi saw. tetapi di dalam shalat dan khutbah beliau tidak terlalu lama dan tidak terlalu pendek.” (HR Muslim)
Dari Abu Juhaifah Wahab bin Abdullah ra. ia berkata: Nabi saw. mempersaudarakan Salman dan Abu Darda’. Tatkala Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’, ia mendapatkan Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) sedang mengenakan pakaian kerja, lantas Salman bertanya: “Mengapa engkau tidak berhias?” Ummu Darda’ menjawab: “Abu Darda’ sudah tidak lagi memperhatikan kepentingan duniawi.”Kemudian Abu Darda’ datang dan dihidangkanlah makanan, berkata kepada Salman: “Silakan makan, saya sedang berpuasa.” Salman menjawab: “Saya tidak akan makan sebelum engkau makan.” Maka Abu Darda’pun makan. Di malam harinya Abu Darda’ bangun untuk mengerjakan shalat malam, namun Salman berkata kepadanya: “Tidurlah.” Kemudian di akhir malam, Salman berkata: “Bangunlah. Kita shalat bersama-sama.” Dan Salman berkata pula kepadanya: “Sesungguhnya bagi Rabb-mu ada hak, bagi dirimu ada hak, dan bagi keluargamu juga ada hak, maka penuhilah semuanya.” Kemudian Nabi saw. datang dan Salman menceritakan apa yang baru saja terjadi, maka beliau memutuskan: “Salman benar.” (HR Bukhari)
Langganan:
Postingan (Atom)