Kamis, 17 Oktober 2013

Mengurus Jenazah (2)

Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits

Doa dalam shalat jenazah;
Shalat jenazah terdiri dari empat takbir. Sesungguhnya takbir pertama membaca ta’awud [a-‘uudzu billaaHi minasy syaithaanir rajiim] dan surah al-Fatihah. Sesudah takbir kedua membaca shalawat atas Nabi saw. [AllaaHumma shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad]. Shalawat yang lebih lengkap dan utama ditambah: kamaa shalaita ‘alaa ibraaHiima wa ‘alaa aali ibraaHiim, wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarakta ‘alaa ibraaHiim wa ‘alaa aali ibraaHiim fil ‘alaamina innaka hamiidum majiid.” Sesudah takbir ketiga membaca doa untuk mayat dan untuk umat Islam, sebagaimana yang akan dijelaskan dalam hadits-hadits di bawah ini. Sesudah takbir keempat membaca doa yang berbunyi: AllaaHumma laa tahrimnaa ajraHuu wa laa taftinnaaa ba’daHu waghfir lanaa wa laHu.

Dari Abu Abdurrahman Auf bin Malik ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyalatkan jenazah, kemudian saya menghafalkan doa yang beliau baca. Yaitu: “AllaaHummaghfirlaHu warhamHu wa ‘aafiHi wa’fu ‘anHu wa akrim nuzulaHu wa wassi’ madkhalaHu wa aghsilHu bil maa-I wats-stalji wal baradi, wa naqqiHi minal khathaayaa kamaa naqqaitats tsaubal abyadla minad danasi wa abdilHu daara khairan min daariHi wa aHlan khairan min aHliHi, wa zaujan khairan min zaujiHii wa adkhilHul jannata wa a-‘idzHu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naar (Ya Allah, semoga berkenanlah Engkau mengampuninya, merahmatinya, menyejahterakannya, memaafkan dosanya, memuliakan kedatangannya, meluaskan tempatnya, dan basuhlah dengan air, salju dan air embun. Bersihkanlah dari kesalahan, sebagaimana Engkau bersihkan pakaian putih dari kotoran. Berikan kepadanya tempat yang baik dari rumahnya, dan keluarga yang lebih baik dari keluarganya dan istri yang lebih baik dari istrinya. Dan masukkanlah ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan siksa neraka.) Abu Abdurrahman berkata: “Sampai-sampai saya mengharap-harap, seandainya sayalah yang mati itu.” (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah ra. Qatadah dan Abu Ibrahim al-Asy’ariy dari ayahnya, sedangkan ayahnya termasuk shahabat ra. dari Nabi saw. bahwasannya apabila beliau menyalatkan jenazah, beliau berdoa: allaaHummaghfir lihayyinaa wa shaghirnaa wa kabirnaa wa dzakarinaa wa untsaanaa, wa syaaHidinaa wa ghaa-ibinaa. allaaHumma man ahyaitaHu minnaa fa ahyiiHi ‘alal islaami, wa man tawaffaitaHu minnaa fatawaffaHu ‘alal iimaani. allaaHumma laa tahrimnaa ajraHu wa laa taftinnaa ba’daHu (Ya Allah, ampunilah kami yang masih hidup dan yang sudah mati, yang kecil dan yang besar, yang laki-laki dan yang perempuan, yang hadir maupun yang tidak hadir. Ya Allah, barangsiapa yang Engkau hidupkan di antara kami maka hidupkanlah ia dengan menetapi agama Islam, dan barangsiapa yang Engkau wafatkan di antara kami maka wafatkanlah ia dalam keadaan beriman. Ya Allah, janganlah Engkau menghalangi kami dalam mendapat pahalanya dan janganlah Engkau mendatangkan fitnah kepada kami sepeninggalannya.” (HR Turmudzi dan Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Saya mendengar RAsulullah saw. bersabda: “Apabila kamu sekalian menyalatkan mayat, maka hendaklah kamu benar-benar ikhlas di dalam berdoa untuknya.” (HR Abu Dawud)

Dari Abu Hurairah ra. ketika shalat jenazah, Nabi saw. berdoa: “AllaaHumma anta rabbunaa wa antara khalaqtaHaa, wa anta HadaitaHaa lil islaami wa anta qabadl-ta ruuhanaa wa anta a’lamu bisirriHaa wa ‘alaa niyyatiHaa ji’naa syufa-‘aa alaHu faghfirlaHu (Ya Allah, Engkaulah Rabbnya, Engkaulah yang menciptakannya, Engkaulah yang menunjukkannya kepada Islam, Engkaulah yang mengambil nyawanya, dan Engkaulah yang lebih mengetahui tentang apa yang tersembunyi dan apa yang jelas daripadanya. Kami datang untuk memintakan syafaat kepadanya maka ampunilah ia).” (HR Abu Dawud)

Dari Watsilah bin al-Asqa’ ra. ia berkata: Kami menyalati salah seorang muslim bersama dengan Rasulullah saw. dimana saya mendengar Rasulullah saw. berdoa: “AllaaHumma inna inna fulaanabna fulaanin fii dzimmatika wa habli jiwaarika faqiHii faghfirlaHu war hamHu innaka antal ghafuurur rahiimu (Ya Allah, sesungguhnya Fulan bin Fulan berada dalam tanggungan-Mu dan tali perlindungan-Mu, maka hindarkanlah ia dari fitnah dan siksa kubur. Engkau adalah Dzat yang menepati janji dan terpuji. Ya Allah, ampuni ia dan kasihilah ia, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang).” (HR Abu Dawud)

Dari Abdullah bin Abu Auf ra. bahwasannya ia menyalatkan mayat putrinya, dimana ia bertakbir empat kali. Setelah takbir, untuk memohonkan ampun bagi mayat itu dan berdoa. Kemudian ia berkata: “Rasulullah saw. berbuat seperti ini.” Dalam riwayat lain dikatakan: Setelah ia melakukan takbir yang keempat, ia berhenti sejenak sehingga kami menyangka bahwa ia akan melakukan takbir yang kelima, kemudian ia salam ke kanan dan ke kiri. Setelah selesai kami bertanya kepadanya: “Mengapa berbuat demikian?” ia menjawab: “Sesungguhnya saya tidak menambahi sesuatu apapun dari apa yang telah saya lihat dari perbuatan Rasulullah saw. atau ia berkata: “Demikianlah apa yang diperbuat oleh Rasulullah saw.” (HR Hakim)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Segeralah kamu menguburkan jenazah, karena jika jenazah itu orang shalih, berarti kalian mempercepatnya kepada kebaikan. Dan kalau jenazah itu tidak demikian [tidak baik], berarti kalian telah meletakkan kejelekan pada pundak kalian.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat lain dikatakan: “Maka sebaiknya kamu segera mengantarkan, agar ia lekas memperoleh balasan.”

Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila jenazah telah diletakkan dan diangkat pada pundak mereka, maka apabila jenazah itu orang yang shalih, ia berkata: “Cepat antarkan aku.” Tetapi apabila jenazah itu bukan orang shalih, ia berkata kepada keluarganya: “Aduh celaka, akan dibawa kemana aku ini?” segala sesuatu selain manusia mendengar apa yang dikatakan oleh jenazah itu, seandainya manusia mendengarnya, pasti ia akan pingsan.” (HR Bukhari)

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Jiwa seseorang mukmin itu tergantung dengan utangnya sampai utang itu dilunasi.” (HR Turmudzi)

Dari Hushain bin Wahwah ra. bahwasannya ketika Thalhah bin al-Barra’ ra sakit, Nabi saw. datang menjenguknya dan bersabda: “Saya berpendapat bahwa Thalhah akan segera mati, apabila ia mati segera bertahukan kepadaku dan segeralah dikubur karena tidak pantas jenazah seorang muslim ditahan di tengah-tengah keluarganya.” (HR Abu Dawud)

Dari Ali ra, ia berkata: Pada waktu kami mengantarkan jenazah di Baqi’, Rasulullah mendekati kami lantas duduk, maka kami pun duduk di sekelilingnya. Beliau memegang tongkat kecil, sambil menekankan tongkatnya ke tanah beliau bersabda: “Tidak ada seorangpun di antara kamu sekalian melainkan ia telah ditentukan tempatnya di neraka atau di surga.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, apakah kami diperbolehkan hanya bertawakkal saja pada ketentuan itu?” Beliau menjawab: “Beramallah kamu sekalian, karena tiap-tiap orang akan dimudahkan kepada apa yang telah ditentukan baginya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadits ini masih ada lanjutannya.

Dari Abu Amr, ada yang memanggilnya dengan Abu Abdullah, ada juga yang memanggilnya dengan Abu Laila usman bin Affan ra. ia berkata: Apabila Nabi saw. telah selesai menguburkan mayat maka beliau berdiri dan bersabda: “Mintalah ampun untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar ia diberi ketetapan hati karena sesungguhnya ia sekarang sedang ditanya.” (HR Abu Dawud)

Dari Amr bin al-Ash ra. ia berkata: “Apabila engkau menguburkan saya, maka tinggallah di kubur kira-kira tukang jagal menyembelih dan membagi-bagikan dagingnya, sampai saya merasa agak tenang dan dapat menjawab apa yang ditanyakan oleh utusan Rabb-ku.” (HR Muslim)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar