Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits
Dari al-Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. berada di tempat tidurnya dan hendak tidur, maka beliau miring ke sebelah kanan kemudian membaca: “AllaaHumma aslamtu nafsii ilaika wawajjaHtu wajHii ilaika wa fawwadl-tu amrii ilaika wa alja’tu dhaHrii ilaika. Raghbataw wa raHbatan ilaika. Laa malja-a wa laa manjaa illaa ilaika. Amantu bikitaabikalladzii anzalta wa nabiyyikal ladzii arsalta.” (Ya Allah, saya menyerahkan diriku kepada-Mu, menghadapkan mukaku kepada-Mu, dan menyandarkan punggungku kepada-Mu, dan menyerahkan semua urusan kepada-Mu dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu, tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari siksaan-Mu kecuali hanya kepada-Mu. Saya beriman dengan kitab yang Engkau turunkan dan (beriman) dengan nabi-Mu yang Engkau utus.” (HR Bukhari)
Dari al-Barra’ bin Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Apabila kamu hendak tidur maka berwudlu-lah lebih dulu seperti wudlumu untuk shalat. Kemudian berbaringlah pada pinggangmu yang kanan dan bacalah doa ini (yaitu sama dengan yang telah disebutkan di atas ini). Dalam hadits ini Nabi saw. juga bersabda: “Jadikanlah bacaan doa ini sebagai akhir dari semua perkataanmu.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Nabi saw. biasa mengerjakan shalat malam sebelas rakaat, dan jika fajar telah menyingsing maka beliau shalat dua rakaat yang tidak terlalu lama, kemudian berbaring pada pinggang sebelah kanan sampai muadzin datang mengumandangkan adzan shubuh.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Apabila Nabi saw. hendak tidur pada waktu malam, maka beliau meletakkan tangannya di bawah pipinya, kemudian berdoa: “AllaaHumma bismika amuut wa ahyaa” (Ya Allah, atas nama-Mu saya mati dan saya hidup). Dan apabila bangun, beliau berdoa: “Alhamdu lillaaHilladzii ahyaanaa ba’da maa amaatanaa wa ilaiHin nusyuur.” (Segala puji bagi Allah Dzat yang menghidupkan kami sesudah mematikan kami, dan hanya kepada-Nya lah kami dibangkitkan.) (HR Bukhari)
Dari Ya’isy Thaikhfah al-Ghifariy ra.ia berkata: ayah saya berkata: “Pada waktu saya tiduran menelungkup di dalam masjid tiba-tiba ada seseorang yang menggerakkan saya dengan kakinya dan berkata: ‘Tidur semacam ini adalah tidur yang dimurkai (dibenci) oleh Allah.’ Dan ketika saya lihat, ternyata orang itu adalah Rasulullah saw.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalamsuatu majelis kemudian ia tidak dzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak bedzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud)
Minggu, 20 Oktober 2013
Adab Berpakaian
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits-hadits
Dari Mu’adz bin Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadlu’ (merendahkan diri) kepada Allah padahal ia mampu untuk membelinya, maka kelak pada hari kiamat Allah memanggilnya di hadapan para makhluk, untuk disuruh memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakainya.” (HR Turmudzi)
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR Turmudzi)
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera (ketika di dunia) adalah orang yang tidak akan mendapat bagian kelak (di akhirat).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Orang yang tidak akan mendapat bagian kain sutera kelak di akhirat.”
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia, maka tidak akan memakainya kelak di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ali ra. ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya, dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya kedua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi umatku yang laki-laki, dan dihalalkan bagi umatku yang perempuan.” (HR Turmudzi)
Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Nabi saw. telah melarang kami untuk makan dan minum menggunakan bejana emas dan perak, dan juga melarang memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal, serta melarang duduk di atasnya.” (HR Bukhari)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberikan kemudahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf ra. untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila memakai baju, sorban, kemeja atau selendang yang baru, maka beliau memberinya nama dan berdoa: “AllaaHumma lakal hamdu anta kasautahiiHi, as-aluka khairaHu wa khaira maa shuni-‘alaHu, wa a-‘uudzu bika min syarriHii wa syarri maa shuni-‘alaHu” (Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang telah memberiku pakaian. Saya memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan saya berlindung diri kepada-Mu akan kejelekan pakaian ini dan kejahatan yang diperbuat untuknya.”) (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Mu’awiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian duduk di atas kain sutera dan jangan pula di atas kulit harimau.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Al-Malih dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah saw. melarang duduk pada kulit binatang buas. (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
Dan di riwayat Turmudzi dikatakan: “Beliau melarang menghamparkan kulit binatang buas untuk diduduki.”
Dari Mu’adz bin Anas ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan pakaian mewah karena tawadlu’ (merendahkan diri) kepada Allah padahal ia mampu untuk membelinya, maka kelak pada hari kiamat Allah memanggilnya di hadapan para makhluk, untuk disuruh memilih pakaian iman sekehendaknya untuk dipakainya.” (HR Turmudzi)
Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah suka melihat bekas nikmat-Nya kepada hamba-Nya.” (HR Turmudzi)
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memakai kain sutera, karena sesungguhnya orang yang memakainya di dunia, maka kelak di akhirat ia tidak akan memakainya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Umar bin al-Khaththab ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang memakai kain sutera (ketika di dunia) adalah orang yang tidak akan mendapat bagian kelak (di akhirat).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dan dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Orang yang tidak akan mendapat bagian kain sutera kelak di akhirat.”
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang memakai kain sutera di dunia, maka tidak akan memakainya kelak di akhirat.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ali ra. ia berkata: Saya melihat Rasulullah saw. memegang kain sutera di tangan kanannya, dan memegang emas di tangan kirinya, kemudian bersabda: “Sesungguhnya kedua benda ini adalah haram bagi umatku yang laki-laki.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Musa al-Asy’ariy ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Diharamkan memakai kain sutera dan emas bagi umatku yang laki-laki, dan dihalalkan bagi umatku yang perempuan.” (HR Turmudzi)
Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Nabi saw. telah melarang kami untuk makan dan minum menggunakan bejana emas dan perak, dan juga melarang memakai kain sutera baik yang tipis maupun yang tebal, serta melarang duduk di atasnya.” (HR Bukhari)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. telah memberikan kemudahan kepada Zubair dan Abdurrahman bin ‘Auf ra. untuk memakai kain sutera karena menderita penyakit gatal-gatal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. apabila memakai baju, sorban, kemeja atau selendang yang baru, maka beliau memberinya nama dan berdoa: “AllaaHumma lakal hamdu anta kasautahiiHi, as-aluka khairaHu wa khaira maa shuni-‘alaHu, wa a-‘uudzu bika min syarriHii wa syarri maa shuni-‘alaHu” (Ya Allah, segala puji bagi-Mu, Engkau yang telah memberiku pakaian. Saya memohon kepada-Mu akan kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dibuat untuknya. Dan saya berlindung diri kepada-Mu akan kejelekan pakaian ini dan kejahatan yang diperbuat untuknya.”) (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Mu’awiyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian duduk di atas kain sutera dan jangan pula di atas kulit harimau.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Al-Malih dari ayahnya, bahwasannya Rasulullah saw. melarang duduk pada kulit binatang buas. (HR Abu Dawud, Turmudzi dan Nasa’i)
Dan di riwayat Turmudzi dikatakan: “Beliau melarang menghamparkan kulit binatang buas untuk diduduki.”
Adab duduk
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadits; Bukhari-Muslim
Dari Abdullah bin Yazid ra. bahwasannya ia melihat Rasulullah saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. telah selesai shalat shubuh, maka beliau duduk bersila dengan baiknya sampai matahari terbit.” (HR Abu Dawud)
Dari Ibnu Samurah ra. ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan cara duduk itu dengan kedua tangannya. (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kamu sekalian membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian memperluas untuk member tempat.” Dan bagi Ibnu Umar, apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan Ibnu Umar dipersilakan duduk di tempat itu, maka ia tidak mau duduk di tempat itu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempati tempat itu.” (HR Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata: “Apabila kami datang kepada Nabi saw. maka salah seorang di antara kami duduk dimana ia sampai.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abdullah (Salman) al-Farisiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersuci dengan sempurna dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu, kemudian shalat sebagaiamana yang telah ditentukan, serta memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai Jum’aat berikutnya.” (HR Bukhari)
Dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak diperbolehkan memisahkan antara dua orang (yang sudah duduk lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak boleh seorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.”
Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwasannya Rasulullah saw. mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (HR Abu Dawud)
Dari Abu Mijlaz, bahwasannya ada seseorang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kemudiian Hudzaifah berkata: “Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang lapang.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan ia banyak bercakap-cakap, kemudian sebelum bangkit untuk meninggalkan majelis itu ia membaca: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) melainkan diampuni dosa yang diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Barzah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis, maka ucapan yang paling akhir diucapkannya adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Maka ada seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Engkau mengucapkan suatu ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu sebelumnya.” Beliau bersabda: “Ucapan itu sebagai kaffarat (pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.” (HR Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh al-Hakim Abu Abdullah dari ‘Aisyah ra.)
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Jarang sekali Rasulullah saw. bangkit dari suatu majelis sebelum membaca doa-doa ini: allaaHummaqsim lanaa min khasy-yatika maa tahuulu biHi bainanaa wa baina ma’shiyatika wa min thaa-‘atika maa tuballighunaa biHi jannataka wa minal yaqiini maa tuHawwinu biHi ‘alainaa mashaa-ibad dun-yaa. allaaHuma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alHul waritsa minnaa waj’al tsa’ranaa ‘alaa man dhalamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dud-yaa akbara Hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa
(Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah rasa takut kepada-Mu, yaitu rasa yang dapat menghantarkan kami ke dalam surga-Mu, serta bagikanlah kami rasa yakin, yaitu raya yang dapat meringankan cobaan dunia yang menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau masih memberi hidup kepada kami, dan jadikanlah semua itu mewarisi kami [jangan sampai semua itu ditinggalkan sebelum kami meninggal].
Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi pemimpin kami)” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika duduk, maka mereka bangkit bagaikan keledai. Mereka mendapat kerugian yang besar sekali.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu kaum yang duduk di suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia akan menyiksa mereka atau mengampuni mereka.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat duduk kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud).
Dari Abdullah bin Yazid ra. bahwasannya ia melihat Rasulullah saw. terlentang di masjid dengan meletakkan salah satu dari kedua kakinya pada kaki yang lain.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. ia berkata: “Apabila Nabi saw. telah selesai shalat shubuh, maka beliau duduk bersila dengan baiknya sampai matahari terbit.” (HR Abu Dawud)
Dari Ibnu Samurah ra. ia berkata: “Saya melihat Rasulullah saw. berada di halaman Ka’bah sedang duduk mendekapkan lutut dengan kedua tangannya begini.” Ia menggambarkan cara duduk itu dengan kedua tangannya. (HR Bukhari)
Dari Ibnu Umar ra. Ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah sekali-sekali salah seorang di antara kamu sekalian membangkitkan seseorang dari tempat duduknya, kemudian ia duduk pada tempatnya itu, tetapi hendaklah kamu sekalian memperluas untuk member tempat.” Dan bagi Ibnu Umar, apabila ada seseorang bangkit dari tempat duduknya dan Ibnu Umar dipersilakan duduk di tempat itu, maka ia tidak mau duduk di tempat itu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang dari kamu sekalian bangkit dari tempat duduknya kemudian ia kembali lagi, maka ia adalah orang yang paling berhak untuk menempati tempat itu.” (HR Muslim)
Dari Jabir bin Samurah ra. Ia berkata: “Apabila kami datang kepada Nabi saw. maka salah seorang di antara kami duduk dimana ia sampai.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abdullah (Salman) al-Farisiy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Tidak ada seorangpun yang mandi pada hari Jum’at, kemudian bersuci dengan sempurna dan memakai minyak atau memakai harum-haruman yang ada di rumahnya, kemudian pergi ke masjid dan tidak memisahkan antara dua orang yang sudah duduk lebih dulu, kemudian shalat sebagaiamana yang telah ditentukan, serta memperhatikan imam yang sedang berkhutbah, melainkan diampuni dosa-dosanya yang diperbuat antara hari itu sampai Jum’aat berikutnya.” (HR Bukhari)
Dari Amr bin Sya’aib dari ayahnya dari kakeknya bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Seseorang tidak diperbolehkan memisahkan antara dua orang (yang sudah duduk lebih dulu) kecuali dengan izin keduanya.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dalam riwayat Abu Dawud: “Tidak boleh seorang duduk di antara dua orang, kecuali dengan izin keduanya.”
Dari Hudzaifah bin al-Yaman ra. bahwasannya Rasulullah saw. mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis. (HR Abu Dawud)
Dari Abu Mijlaz, bahwasannya ada seseorang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis, kemudiian Hudzaifah berkata: “Allah mengutuk orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran majelis melalui lisan Muhammad saw.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sebaik-baik majelis adalah majelis yang lapang.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu majelis dan ia banyak bercakap-cakap, kemudian sebelum bangkit untuk meninggalkan majelis itu ia membaca: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) melainkan diampuni dosa yang diperbuatnya selama ia duduk di dalam majelis itu.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Barzah ra. ia berkata: Apabila Rasulullah saw. hendak bangkit untuk meninggalkan suatu majelis, maka ucapan yang paling akhir diucapkannya adalah: subhaanakallaaHumma wa bihamdika asy-Hadu allaa IlaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau, saya mohon ampun dan bertaubat kepada-Mu).
Maka ada seseorang berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Engkau mengucapkan suatu ucapan yang tidak biasa engkau baca pada waktu-waktu sebelumnya.” Beliau bersabda: “Ucapan itu sebagai kaffarat (pelebur) atas dosa yang diperbuat selama dalam majelis.” (HR Abu Dawud, dan diriwayatkan juga oleh al-Hakim Abu Abdullah dari ‘Aisyah ra.)
Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: “Jarang sekali Rasulullah saw. bangkit dari suatu majelis sebelum membaca doa-doa ini: allaaHummaqsim lanaa min khasy-yatika maa tahuulu biHi bainanaa wa baina ma’shiyatika wa min thaa-‘atika maa tuballighunaa biHi jannataka wa minal yaqiini maa tuHawwinu biHi ‘alainaa mashaa-ibad dun-yaa. allaaHuma matti’naa bi asmaa’inaa wa abshaarinaa wa quwwatinaa maa ahyaitanaa waj’alHul waritsa minnaa waj’al tsa’ranaa ‘alaa man dhalamanaa wanshurnaa ‘alaa man ‘aadaanaa wa laa taj’al mushiibatanaa fii diininaa wa laa taj’alid dud-yaa akbara Hamminaa wa laa mablagha ‘ilminaa wa laa tusallith ‘alainaa man laa yarhamunaa
(Ya Allah, bagikanlah kepada kami dari rasa takut kepada-Mu yaitu rasa yang dapat menghalangi kami dari berbuat maksiat kepada-Mu. Dan bagikanlah rasa takut kepada-Mu, yaitu rasa yang dapat menghantarkan kami ke dalam surga-Mu, serta bagikanlah kami rasa yakin, yaitu raya yang dapat meringankan cobaan dunia yang menimpa kami. Ya Allah puaskanlah kami dengan pendengaran, penglihatan dan kekuatan kami selama Engkau masih memberi hidup kepada kami, dan jadikanlah semua itu mewarisi kami [jangan sampai semua itu ditinggalkan sebelum kami meninggal].
Balaslah orang yang berbuat aniaya kepada kami, tolonglah kami dalam menghadapi musuh-musuh kami. Janganlah Engkau menimpakan cobaan dalam agama kami, dan jangan pula Engkau jadikan dunia itu sebagai tujuan utama kami atau sebagai puncak pengetahuan kami; serta janganlah Engkau jadikan orang yang tidak mempunyai rasa belas kasih terhadap kami menjadi pemimpin kami)” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Suatu kaum yang bangkit dari suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala ketika duduk, maka mereka bangkit bagaikan keledai. Mereka mendapat kerugian yang besar sekali.” (HR Abu Dawud)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Suatu kaum yang duduk di suatu majelis dimana mereka tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala dan tidak pula membaca salawat Nabi mereka maka mereka sungguh mendapatkan kerugian, (tergantung Allah) apakah Ia akan menyiksa mereka atau mengampuni mereka.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Barangsiapa yang duduk dalam suatu tempat duduk kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mendapatkan kerugian di hadapan Allah. Dan barangsiapa yang berbaring kemudian ia tidak berdzikir kepada Allah Ta’ala, maka ia juga mendapat kerugian di hadapan Allah.” (HR Abu Dawud).
Menyebarkan Salam
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; al-Qur’an; hadits-hadits Bukhari Muslim
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)
Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)
Allah berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu [dengan serupa dengannya].” (an-Nisaa’: 86)
Allah berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu [Muhammad] cerita tamu Ibrahim [malaikat-malaikat] yang dimuliakan? [ingatlah] ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun.” (adz-Dzaariyaat: 24-25)
Dari Abdullah bin Amir bin Ash. Bahwasannya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimana Islam yang baik itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tatkala Allah meciptakan Adam as. Allah berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlan jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu.’ Maka Adam mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH.’ Mereka memberi tambahan dengan: ‘wa rahmatullah.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ubadah al-Barra’ bin ‘Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebar luaskan salam dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR Muslim)
Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)
Dari Tufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasannya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: “Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu Bathn [disebut demikian karena Thufail mempunyai perut yang besar] kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.” (HR Malik)
Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya.” (an-Nuur: 27)
Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [suatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)
Allah berfirman: “Apabila kamu diberi penghormatan dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah penghormatan itu [dengan serupa dengannya].” (an-Nisaa’: 86)
Allah berfirman: “Sudahkah sampai kepadamu [Muhammad] cerita tamu Ibrahim [malaikat-malaikat] yang dimuliakan? [ingatlah] ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun,” Ibrahim menjawab: “Salaamun.” (adz-Dzaariyaat: 24-25)
Dari Abdullah bin Amir bin Ash. Bahwasannya ada seorang yang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Bagaimana Islam yang baik itu?” Beliau menjawab: “Yaitu kamu memberi makanan, dan mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan kepada orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Tatkala Allah meciptakan Adam as. Allah berfirman kepadanya: ‘Pergilah dan ucapkan salam kepada para malaikat yang sedang duduk itu, kemudian dengarkanlan jawaban mereka kepadamu, karena sesungguhnya jawaban itu merupakan penghormatan bagimu dan penghormatan bagi anak cucumu.’ Maka Adam mengucapkan: ‘Assalaamu ‘alaikum.’ Mereka menjawab: ‘Assalaamu ‘alaika wa rahmatullaaH.’ Mereka memberi tambahan dengan: ‘wa rahmatullah.’” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ubadah al-Barra’ bin ‘Azib ra. ia berkata: Rasulullah saw. menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebar luaskan salam dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kamu sekalian tidak akan masuk surga sebelum kamu beriman, dan kamu sekalian tidaklah beriman sebelum kamu saling mencintai. Maukah kamu sekalian aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu mengerjakannya maka kamu sekalian akan saling mencintai? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu sekalian.” (HR Muslim)
Dari Abu Yusuf (Abdullah) bin Salam ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Hai sekalian manusia, sebarluaskanlah salam, berikanlah makanan, hubungkanlah tali persaudaraan, dan salatlah pada waktu manusia sedang tidur, niscaya kamu sekalian masuk surga dengan selamat.” (HR Turmudzi)
Dari Tufail bin Ubay bin Ka’ab bahwasannya ia datang ke tempat Abdullah bin Umar, kemudian mereka pergi bersama-sama ke pasar. Thufail berkata: “Ketika kami pergi bersama-sama ke pasar setiap melewati tukang rombeng, orang yang menjual dagangannya, orang miskin, bahkan melewati siapa saja, ia pasti mengucapkan salam kepadanya.” Thufail berkata: “Pada suatu hari saya datang ke tempat Abdullah bin Umar kemudian ia mengajak saya ke pasar, maka saya berkata kepadanya: “Apa yang akan kamu lakukan di pasar nanti, karena kamu tidak akan membeli sesuatu, tidak akan mencari sesuatu, tidak akan menawar sesuatu, dan tidak akan duduk di pasar? Lebih baik kita duduk-duduk di sini dan berbincang-bincang saja.” Abdullah menjawab: “Wahai Abu Bathn [disebut demikian karena Thufail mempunyai perut yang besar] kita pergi ke pasar untuk menyebarluaskan salam. Kita mengucapkan salam kepada siapa saja yang kita jumpai.” (HR Malik)
Adab Memberi Salam
Riyadhush Shalihin; Imam Nawawi; hadit-hadist Bukhari-Muslim
Bagi orang yang memberi salam disunnahkan untuk mengucapkan: assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu”) walaupun orang-orang yang diberi salam hanya seorang. Dan bagi orang yang menjawab salam disunnahkan untuk mengucapkan: wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Dan kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan atas kamu pula.”), dengan menggunakan “wawu ‘athaf” pada ucapan “wa ‘alaikum.”
Dari Imran bin al-Hushain ra. ia berkata: ada seorang yang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum.” Maka salam itu dijawab oleh beliau, dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaH.” Salam itu dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda: “Dua puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH.” Salam dijawab oleh beliau dan ia duduk lalu beliau bersabda: “Tiga puluh.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.” Maka saya menjawab: “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaHi wa barakaatuH.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai tiga kali.” (HR Bukhari)
Dari Miqdad ra. di dalam haditsnya yang panjang ia berkata: “Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi saw. Apabila beliau datang pada malam hari, beliau mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang tidur, tetapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.”
Dari Asma’ binti Yazid ra. bahwasannya pada suatu hari Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Juray al Juhamiy ra. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan: “Alaikas salaamu yaa RasuulallaaH.” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengucapkan: alaikas salaam, karena sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang sudah meninggal.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Yang kecil [muda] mengucapkan salam kepada yang besar [tua].”
Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan pula oleh Turmudzi dari Abu Umamah: Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab: “Orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.”
Dari Abu Hurairah ra. ketika menceritakan orang yang salah shalatnya, dimana ia datang dan shalat, kemudian datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan salam, maka beliau menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu dan shalatlah karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Maka ia pun kembali dan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi. Ia berbuat demikian sampai tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu lagi maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud)
Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [sesuatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah.” (HR Turmudzi)
Dari Anas ra. bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata: “Rasulullah saw. biasa melakukan hal yang demikian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Di tengah-tengah kami ada seorang wanita..” dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at maka kami datang ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia menghidangkan masakan itu kepada kami.” (HR Bukhari)
Dari Ummu Hani’ Fakhitah binti Abi Thalib ra. ia berkata: “Saya mendatangi Nabi saw. pada hari penaklukan kota Makkah dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan salam.” (HR Muslim)
Dari Asma’ binti Yazid ra. ia berkata: “Nabi saw. berjalan melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memulai lebih dulu mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar ia menuju tempat yang sempit [pinggiran jalan].” (HR Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka jawablah: “Wa ‘alaikum.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Usamah ra. bahwasannya Nabi saw. berjalan melewati majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Islam, orang-orang musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang terakhir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Bagi orang yang memberi salam disunnahkan untuk mengucapkan: assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan kepadamu”) walaupun orang-orang yang diberi salam hanya seorang. Dan bagi orang yang menjawab salam disunnahkan untuk mengucapkan: wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaaHi wa barakaatuH (“Dan kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah semoga dilimpahkan atas kamu pula.”), dengan menggunakan “wawu ‘athaf” pada ucapan “wa ‘alaikum.”
Dari Imran bin al-Hushain ra. ia berkata: ada seorang yang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum.” Maka salam itu dijawab oleh beliau, dan ia duduk. Kemudian beliau bersabda: “Sepuluh.” Sesudah itu datang lagi seseorang dan mengucapkan: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaH.” Salam itu dijawab oleh beliau dan ia duduk, kemudian beliau bersabda: “Dua puluh.” Sesudah itu datang lagi seorang dan mengucapkan salam: “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullaaHi wa barakaatuH.” Salam dijawab oleh beliau dan ia duduk lalu beliau bersabda: “Tiga puluh.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari ‘Aisyah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepada saya: “Ini Jibril menyampaikan salam untuk kamu.” Maka saya menjawab: “Wa ‘alaikumus salaam wa rahmatullaHi wa barakaatuH.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. bahwasannya apabila Nabi saw. mengatakan suatu perkataan, beliau mengulanginya tiga kali, sehingga benar-benar dapat dipahami. Dan apabila beliau mendatangi suatu kaum maka beliau mengucapkan salam kepada mereka sampai tiga kali.” (HR Bukhari)
Dari Miqdad ra. di dalam haditsnya yang panjang ia berkata: “Kami biasa menyediakan susu yang menjadi bagian Nabi saw. Apabila beliau datang pada malam hari, beliau mengucapkan salam yang tidak sampai membangunkan orang tidur, tetapi dapat didengar oleh orang yang jaga. Nabi biasa datang dan mengucapkan salam sebagaimana biasanya.”
Dari Asma’ binti Yazid ra. bahwasannya pada suatu hari Rasulullah saw. melewati sekelompok wanita yang sedang duduk di masjid, maka beliau melambaikan tangan dan mengucapkan salam.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Juray al Juhamiy ra. ia berkata: Saya datang kepada Rasulullah saw. dan mengucapkan: “Alaikas salaamu yaa RasuulallaaH.” Beliau menjawab: “Janganlah engkau mengucapkan: alaikas salaam, karena sesungguhnya ucapan itu adalah salam untuk orang yang sudah meninggal.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Orang yang naik kendaraan memberi salam kepada yang berjalan, orang yang berjalan memberi salam kepada orang yang duduk, orang yang sedikit memberi salam kepada orang yang banyak.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan di dalam riwayat Bukhari dikatakan: “Yang kecil [muda] mengucapkan salam kepada yang besar [tua].”
Dari Abu Ummah Muday bin Ajlan al-Bahiliy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya seutama-utama manusia menurut Allah adalah orang yang lebih dulu memberi salam.” (HR Abu Dawud)
Diriwayatkan pula oleh Turmudzi dari Abu Umamah: Ada seorang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya ada dua orang yang saling bertemu, maka siapakah yang terlebih dahulu harus memberi salam?” Beliau menjawab: “Orang yang lebih utama menurut Allah Ta’ala.”
Dari Abu Hurairah ra. ketika menceritakan orang yang salah shalatnya, dimana ia datang dan shalat, kemudian datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan salam, maka beliau menjawab salamnya, kemudian bersabda: “Kembalilah kamu dan shalatlah karena sesungguhnya kamu belum shalat.” Maka ia pun kembali dan shalat lagi, kemudian datang dan mengucapkan salam kepada Nabi. Ia berbuat demikian sampai tiga kali.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bertemu dengan saudaranya, maka hendaklah mengucapkan salam kepadanya. Dan seandainya di antara keduanya terpisah oleh pohon, dinding atau batu, kemudian bertemu lagi maka hendaklah ia mengucapkan salam lagi.” (HR Abu Dawud)
Allah berfirman: “Maka apabila kamu memasuki [sesuatu rumah dari] rumah-rumah [ini] hendaklah kamu memberi salam kepada penghuninya, salam yang ditetapkan di sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.” (An-Nuur: 61)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda kepadaku: “Hai anakku, apabila kamu datang kepada keluargamu maka ucapkanlah salam, niscaya kamu dan keluargamu mendapat berkah.” (HR Turmudzi)
Dari Anas ra. bahwasannya ia berjalan melewati anak-anak, kemudian ia mengucapkan salam untuk mereka, serta berkata: “Rasulullah saw. biasa melakukan hal yang demikian ini.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Sahl bin Sa’ad ra. ia berkata: “Di tengah-tengah kami ada seorang wanita..” dan di dalam riwayat yang lain dikatakan: “Ada seorang wanita tua yang biasa mencari rempah-rempah kemudian dimasak dalam kuali dan dicampur dengan gandum. Apabila kami selesai shalat Jum’at maka kami datang ke tempatnya dan memberi salam kepadanya, kemudian ia menghidangkan masakan itu kepada kami.” (HR Bukhari)
Dari Ummu Hani’ Fakhitah binti Abi Thalib ra. ia berkata: “Saya mendatangi Nabi saw. pada hari penaklukan kota Makkah dimana pada waktu itu beliau sedang mandi dengan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian saya mengucapkan salam.” (HR Muslim)
Dari Asma’ binti Yazid ra. ia berkata: “Nabi saw. berjalan melewati sekelompok wanita kemudian beliau mengucapkan salam kepada kami.” (HR Turmudzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “Janganlah kamu sekalian memulai lebih dulu mengucapkan salam kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani. Apabila kamu sekalian bertemu dengan salah satu di antara mereka di tengah jalan, maka berusahalah agar ia menuju tempat yang sempit [pinggiran jalan].” (HR Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila ahli kitab mengucapkan salam kepadamu sekalian maka jawablah: “Wa ‘alaikum.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Usamah ra. bahwasannya Nabi saw. berjalan melewati majelis yang di dalamnya terdapat orang-orang Islam, orang-orang musyrik yang menyembah berhala, serta orang-orang Yahudi, kemudian Nabi saw. mengucapkan salam kepada mereka.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian sampai pada suatu majelis, maka hendaklah ia mengucapkan salam. Tidaklah yang pertama ia berhak daripada yang terakhir.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Mendoakan Orang Bersin
Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu suka kepada bersin dan benci kepada menguap. Maka apabila salah seorang di antara kamu bersin dan ia memuji Allah Ta’ala (membaca hamdalah), maka bagi setiap orang muslim yang mendengarnya wajib mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu”). Adapun menguap itu adalah berasal dari setan, maka apabila salah seorang di antara kamu menguap, hendaknya ia menahannya semampunya, karena apabila salah seorang di antara kamu sekalian itu menguap maka setan mentertawakannya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin maka hendaklah ia mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah.”), dan hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu.”). apabila ada seorang mengucapkan: yarhamukallaaH, maka hendaklah orang yang bersin mengucapkan: YahdikumullaaH (“Semoga Allah menberi petunjuk kepadamu dan semoga Allah selalu menunjukkan kebaikan kepada hatimu.”) (HR Bukhari)
Dari Abu Musa ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin dan ia memuji kepada Allah maka doakanlah ia. Dan apabila ia tidak memuji kepada Allah, maka janganlah kamu mendoakannya.” (HR Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Ada dua orang bersin di hadapan Nabi saw. kemudian beliau mendoakan kepada salah seorang di antara keduanya itu dan tidak mendoakan kepada yang lain. Maka orang yang tidak didoakan berkata: “Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya. Dan saya bersin mengapa tidak mendoakan saya?” Beliau bersabda: “Si Fulan ini memuji kepada Allah sedangkan kamu tidak memuji kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. apabila bersin, maka beliau meletakkan tangan dan mulutnya dan beliau merendahkan atau menekan suaranya.” Perawi bimbang. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Musa ra. ia berkata: Orang-orang Yahudi bersin di hadapan Rasulullah saw. dengan harapan agar beliau mengucapkan: yarhamukallah, tetapi beliau hanya mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu baalakum.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian menguap, maka hendaklah ia menutup tangan pada mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk ke mulutnya.” (HR Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah itu suka kepada bersin dan benci kepada menguap. Maka apabila salah seorang di antara kamu bersin dan ia memuji Allah Ta’ala (membaca hamdalah), maka bagi setiap orang muslim yang mendengarnya wajib mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu”). Adapun menguap itu adalah berasal dari setan, maka apabila salah seorang di antara kamu menguap, hendaknya ia menahannya semampunya, karena apabila salah seorang di antara kamu sekalian itu menguap maka setan mentertawakannya.” (HR Bukhari)
Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin maka hendaklah ia mengucapkan: alhamdulillaaH (“Segala puji bagi Allah.”), dan hendaklah saudara atau kawannya mengucapkan: YarhamukallaaH (“Semoga Allah mengasihi kamu.”). apabila ada seorang mengucapkan: yarhamukallaaH, maka hendaklah orang yang bersin mengucapkan: YahdikumullaaH (“Semoga Allah menberi petunjuk kepadamu dan semoga Allah selalu menunjukkan kebaikan kepada hatimu.”) (HR Bukhari)
Dari Abu Musa ra. ia berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian bersin dan ia memuji kepada Allah maka doakanlah ia. Dan apabila ia tidak memuji kepada Allah, maka janganlah kamu mendoakannya.” (HR Muslim)
Dari Anas ra. ia berkata: Ada dua orang bersin di hadapan Nabi saw. kemudian beliau mendoakan kepada salah seorang di antara keduanya itu dan tidak mendoakan kepada yang lain. Maka orang yang tidak didoakan berkata: “Si Fulan bersin kemudian engkau mendoakannya. Dan saya bersin mengapa tidak mendoakan saya?” Beliau bersabda: “Si Fulan ini memuji kepada Allah sedangkan kamu tidak memuji kepada Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: “Rasulullah saw. apabila bersin, maka beliau meletakkan tangan dan mulutnya dan beliau merendahkan atau menekan suaranya.” Perawi bimbang. (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Musa ra. ia berkata: Orang-orang Yahudi bersin di hadapan Rasulullah saw. dengan harapan agar beliau mengucapkan: yarhamukallah, tetapi beliau hanya mengucapkan: Yahdikumullah wa yushlihu baalakum.” (HR Abu Dawud dan Turmudzi)
Dari Abu Sa’id al-Khudriy ra. ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Apabila salah seorang di antara kamu sekalian menguap, maka hendaklah ia menutup tangan pada mulutnya, karena sesungguhnya setan akan masuk ke mulutnya.” (HR Muslim)
Sunnah Menjawab Bila Ditanya Namanya
Riyadhush shalihin; Imam nawawi; al-Qur’an-Hadits
Dari Anas ra. di dalam hadits tentang Isra’ yang telah masyhur, dimana ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian Jibril membawa aku ke langit dunia dan minta dibukakan pintu langit, ketika ditanya: Siapa ini? Ia menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Bersama siapa kamu? Ia menjawab: Muhammad. Kemudian ia naik ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Pada setiap pintu langit ditanya; “Siapa ini?” maka ia menjawab: “Jibril.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Saya keluar pada suatu malam, tiba-tiba saya bertemu dengan Rasulullah saw. dimana beliau berjalan sendirian. Pada saat itu saya berjalan dalam keadaan terang bulan, kemudian beliau menoleh dan melihat saya, lalu bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Abu Dzar.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Hani’ ra. ia berkata: Saya datang kepada Nabi saw. dan beliau sedang mandi dan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” Saya menjawab: “Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia berkata: saya datang kepada Nabi saw. dan mengetuk pintu, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Saya, saya..” seolah-olah beliau membenci ucapan itu. (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Anas ra. di dalam hadits tentang Isra’ yang telah masyhur, dimana ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian Jibril membawa aku ke langit dunia dan minta dibukakan pintu langit, ketika ditanya: Siapa ini? Ia menjawab: Jibril. Ditanya lagi: Bersama siapa kamu? Ia menjawab: Muhammad. Kemudian ia naik ke langit kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Pada setiap pintu langit ditanya; “Siapa ini?” maka ia menjawab: “Jibril.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Dzar ra. ia berkata: Saya keluar pada suatu malam, tiba-tiba saya bertemu dengan Rasulullah saw. dimana beliau berjalan sendirian. Pada saat itu saya berjalan dalam keadaan terang bulan, kemudian beliau menoleh dan melihat saya, lalu bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Abu Dzar.” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Ummu Hani’ ra. ia berkata: Saya datang kepada Nabi saw. dan beliau sedang mandi dan ditutupi kain oleh Fatimah, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” Saya menjawab: “Ummu Hani’” (HR Bukhari dan Muslim)
Dari Jabir ra. ia berkata: saya datang kepada Nabi saw. dan mengetuk pintu, kemudian beliau bertanya: “Siapa ini?” saya menjawab: “Saya.” Beliau bersabda: “Saya, saya..” seolah-olah beliau membenci ucapan itu. (HR Bukhari dan Muslim)
Langganan:
Postingan (Atom)